VOX VICTIMAE VOX DEI: BELAJAR DARI SANTO YUSUF MENDENGARKAN SUARA KORBAN

Keheningan serta belas kasih Santo Yusuf untuk mendengarkan, menerima, dan memulihkan suara para korban yang terluka sebagai perwujudan kehendak Allah (Vox Victimae, Vox Dei).

VOX VICTIMAE VOX DEI: BELAJAR DARI SANTO YUSUF MENDENGARKAN SUARA KORBAN

Pada tahun 2020, melalui surat apostolik

“Patris Corde” - “Dengan Hati Seorang Bapa”,

Paus Fransiskus mengajak seluruh Gereja untuk melihat Santo Yusuf sebagai:

1) Bapa yang dicintai.
2) Bapa yang lembut dan penuh kasih.
3) Bapa yang taat. 
4) Bapa yang menerima kenyataan hidup. 
5) Bapa yang kreatif dan berani.
6) Bapa yang bekerja. 
7) Bapa yang hidup dalam bayang-bayang, tanpa mencari pujian bagi dirinya sendiri.

 

Paus Fransiskus dalam surat apostolik Patris Corde menggambarkan Santo Yusuf sebagai seorang bapa yang lembut, penuh belas kasih, berani, dan mampu menerima kenyataan hidup apa adanya. Yusuf bukan tokoh yang banyak berbicara. Injil tidak mencatat satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Namun justru dalam keheningan itulah ia mendengarkan suara Tuhan dan bertindak sesuai kehendak-Nya.

Dunia kita hari ini dipenuhi oleh suara-suara yang saling berebut perhatian. Namun sering kali ada suara yang tidak terdengar: suara mereka yang terluka, tersingkir, ditindas, dilecehkan, diperdagangkan, atau menjadi korban penyalahgunaan kuasa. Mereka berbicara dengan air mata, ketakutan, kemarahan, bahkan kadang-kadang dengan kebisuan yang panjang.

Ungkapan Vox Victimae, Vox Dei mengingatkan kita bahwa suara para korban bukanlah gangguan yang harus dibungkam, melainkan panggilan yang harus didengarkan. Dalam jeritan mereka, Allah sendiri sedang berbicara kepada Gereja dan kepada dunia.

Santo Yusuf memberi teladan bagaimana mendengarkan suara yang sering tidak terdengar. Ketika Maria menghadapi risiko penolakan dan penghinaan sosial, Yusuf tidak bertindak sebagai hakim. Ia memilih jalan belas kasih. Ia membuka ruang bagi karya Allah yang belum sepenuhnya ia pahami. Paus Fransiskus menegaskan bahwa Yusuf mengajarkan kita untuk menerima kehidupan sebagaimana adanya, termasuk bagian-bagian yang sulit, tidak terduga, dan mengecewakan.

Sikap ini sangat penting ketika berhadapan dengan para korban. Sering kali godaan pertama bukanlah mendengarkan, melainkan menjelaskan, membela diri, atau mempertanyakan kebenaran cerita mereka. Santo Yusuf menunjukkan jalan lain: pertama-tama menerima, mendengarkan, dan memberi tempat.

Paus Fransiskus juga menulis bahwa kelembutan adalah cara terbaik untuk menyentuh kerapuhan manusia. Allah tidak datang untuk menghukum kelemahan kita, melainkan untuk merangkul dan memulihkannya. Jika demikian, maka setiap orang yang mendampingi korban dipanggil untuk menghadirkan wajah Allah yang penuh kelembutan, bukan wajah penghakiman.

Ketika Gereja mendengarkan korban, Gereja sedang mendengarkan Kristus yang tersalib. Ketika Gereja memberi ruang bagi kesaksian mereka, Gereja sedang membuka diri terhadap karya Roh Kudus yang menuntun kepada pertobatan dan pembaruan. Dan ketika Gereja berani mengakui kesalahan serta memperjuangkan keadilan, Gereja sedang menjalankan tugas kebapaannya seperti Santo Yusuf: melindungi kehidupan yang dipercayakan kepadanya.

Marilah kita memohon kepada Santo Yusuf agar kita memiliki hati seorang bapa: hati yang tidak takut pada kebenaran, hati yang cukup kuat untuk mendengarkan luka, dan hati yang cukup lembut untuk merangkul mereka yang terluka. Sebab di balik setiap suara korban, ada suara Allah yang memanggil kita untuk bertobat, melindungi, dan mengasihi.

Doa

Santo Yusuf, pelindung Gereja dan penjaga Yesus serta Maria, ajarilah kami untuk mendengarkan dengan hati yang penuh belas kasih. Jauhkan kami dari sikap menutup telinga terhadap penderitaan sesama. Bantulah kami mengenali suara Tuhan dalam suara mereka yang terluka. Semoga kami menjadi pembawa keadilan, pemulihan, dan harapan bagi semua korban. Amin.

Jakarta, 19 Maret dan 1 Mei 2026

Ignatius Ismartono, SJ