LAUDATO SI’ DAN AKSI 5
Mengajak kita untuk bijak menggunakan teknologi agar tidak menjadi "budak" mesin, serta menyadari dampak lingkungan dari gadget dan energi fosil.


LAUDATO SI’ DAN AKSI
SESI 5: Keterbatasan Pendekatan Teknologis
Teknologi bukanlah juruselamat tunggal bagi bumi, karena krisis ekologi sejatinya menuntut pemulihan etika dan perubahan hati, bukan sekadar kecanggihan mesin semata. Kita dipanggil untuk bijak menempatkan teknologi sebagai alat yang melayani kehidupan, bukan sebagai penguasa yang mengeksploitasi alam tanpa batas demi kepuasan segelintir manusia.
Laudate Deum nomor 21-22
21. Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah dapat mengkonfirmasi diagnosis ini, dan sekaligus menyaksikan kemajuan baru dalam paradigma ini. Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence-AI) dan perkembangan teknologi terkini didasarkan pada gagasan tentang manusia tanpa batas, yang kemampuan dan kemungkinannya dapat diperluas tanpa batas berkat teknologi. Dengan demikian, paradigma teknokratis secara mengerikan memakan dirinya sendiri.
22. Sumber daya alam yang dibutuhkan untuk teknologi, seperti litium, silikon, dan banyak lainnya, tentu saja tidak tanpa batas, namun masalah yang lebih besar adalah ideologi yang mendasari obsesi: meningkatkan kekuatan manusia melampaui apa pun yang dapat dibayangkan, di mana realitas yang bukan manusia hanyalah sumber daya yang melayani manusia. Segala sesuatu yang ada tidak lagi menjadi anugerah yang patut dihormati, dihargai, dan dirawat; malah menjadi budak, menjadi korban dari segala ambisi benak manusia dan kemampuannya.
Laudato Si’ nomor 60
Akhirnya, kita perlu mengakui bahwa telah dikembangkan pandangan dan garis pemikiran yang berbeda-beda tentang situasi saat ini dan tentang solusi-solusi yang dimungkinkan. Di satu ekstrem, beberapa orang mendukung dengan cara apa pun mitos kemajuan dan menegaskan bahwa masalah ekologi akan dipecahkan hanya melalui penerapan teknologi baru, tanpa perlu pertimbangan etis atau perubahan mendalam. Di ekstrem yang lain, ada yang mengira bahwa, melalui intervensi apa pun, manusia hanya bisa menjadi ancaman dan membahayakan ekosistem global, dan karena itu kehadirannya di planet ini harus dikurangi dan segala bentuk intervensinya dicegah. Di antara dua ekstrem ini, perlu dipikirkan dan diajukan skenario-skenario yang mungkin di masa depan karena tidak ada cuma satu jalan keluar. Hal ini akan menghasilkan aneka sumbang saran yang bisa masuk ke dalam dialog menuju tanggapan-tanggapan yang menyeluruh.
Relevansi di Indonesia
Ketergantungan pada energi fosil, PLTU batu bara, penggunaan pestisida berlebihan dan ketergantungan pada gadget dan sampah elektronik
Apa yang Dapat Kita Lakukan?
Mengurangi berganti gadget, beralih ke lampu hemat energi, mendukung energi terbarukan dan bijak dalam penggunaan peralatan elektronik.
Contoh Kegiatan Laudato Si’ di Jakarta:
- JATAM: Jaringan Advokasi Tambang (https://jatam.org/id/)
- Enter Nusantara (https://enternusantara.org/),
- IESR: Institute for Essential Services Reform (https://iesr.or.id/)
Pertanyaan Refleksi
- Apakah Anda melihat contoh penyalahgunaan teknologi dalam isu lingkungan?
- Mengapa teknologi tidak cukup untuk menyelesaikan krisis ekologis?
- Bagaimana kita dapat menggunakan teknologi secara lebih etis dan berkelanjutan?
Jawaban Anda kami tunggu di:
https://bit.ly/laudatosidanaksi_sesi5



