Transformasi Iman: Umat Paroki Blok B dan Pertobatan Ekologis
Workshop Lingkungan Hidup Paroki Blok B mengajak umat beralih dari mentalitas eksploitasi menuju semangat merawat bumi sebagai rumah bersama melalui aksi nyata dan pertobatan ekologis.

Jakarta, Dalam upaya menanggapi krisis lingkungan global yang kian mendesak, Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) menjadikan Keutuhan Alam Ciptaan sebagai tema Ardas 2026 untuk itu Romo Ignasius Ismartono, SJ, dari Perkumpulan Sahabat Insan, diundang untuk menyampaikan “Pertobatan Ekologis dalam Aksinyata Demi Keutuhan Alam Ciptaan”. alam Workshop Lingkungan Hidup ini diselenggarakan di Aula Ignasius Loyola, Gedung Yohanes, Paroki Blok B. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Panitia Paskah 2026 bersama Seksi Lingkungan Hidup Gereja Santo Yohanes Penginjil pada Sabtu, 28 Februari 2026 ini, mengusung tema besar "Bumi Terawat, Kita Selamat: Dari Aksi Kecil untuk Dampak Besar". Romo Ismartono mengajak para hadirin untuk berubah dari mentalitas lama yang cenderung mengeksploitasi alam menuju semangat baru yaitu merawat bumi sebagai rumah bersama.
Dalam acara ini disampaikan uraian atas tafsir Kitab Suci, khususnya mengenai Kejadian 1:28 yang kerap disalahartikan sebagai pembenaran atas dominasi mutlak manusia terhadap alam. Juga dijabarkan bahwa tugas manusia bukanlah menaklukkan tanpa batas, melainkan untuk "mengusahakan dan memelihara" sebagaimana yang termaktub dalam Kejadian 2:15. Perubahan cara berpikir ini menempatkan manusia bukan sebagai pemilik mutlak, melainkan sebagai penatalayan, penjaga dan perawat bumi sekaligus rekan kerja Allah yang memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga keberlanjutan ciptaan demi generasi mendatang.

Lebih lanjut, juga diurakikan bahwa akar dari kerusakan lingkungan saat ini bersumber dari antroposentrisme yang berlebihan dan budaya konsumtif yang tidak terkendali. Paparan juga dilanjutkan dengan uraian bahwa pertobatan ekologis bukan sekadar wacana teknis, melainkan sebuah panggilan batin yang mendalam untuk mematahkan logika eksploitasi dan egoisme. Demikianlah Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si' menekankan bahwa pendekatan ekologis yang sejati harus selalu beriringan dengan pendekatan sosial dan keadilan bagi mereka yang paling rentan terdampak krisis iklim.
Sebagai langkah konkret, kepada umat ditawarkan lembar Pemeriksaan Batin Ekologis.

Dalam acara ini juga diundang Bruder Dieng Karnadi, S.J dari KPTT Salatiga, Dr. Yasinta Ratna Esti Wulandari, M.Si. Plant Biologist dari Universitas Katolik Atma Jaya, dr. Rianti Maharani, M.Si, FINEM, AIFo-K Ahli Herbal Medik.
Penulis: Maria Fransiska Saraswati
Dokumentasi: Tim Panitia - Paroki Blok B


