LAUDATO SI’ DAN AKSI 7
Menyadari ancaman kepunahan spesies akibat aktivitas manusia dan panggilan iman untuk menjaga setiap ciptaan sebagai anugerah Allah.


LAUDATO SI’ DAN AKSI
SESI 7: Kehilangan Spesies
Setiap makhluk adalah percikan kasih Allah yang memiliki nilai luhur, namun kini terancam punah akibat ilusi kemajuan dan keserakahan manusia. Kita dipanggil mendesak untuk melindungi 'saudara-saudara kecil' ini, karena membiarkan mereka musnah berarti merusak karya agung Sang Pencipta.
Laudate Deum nomor 28 - 29
28. Kita semua perlu memikirkan kembali persoalan kekuatan manusia, maknanya dan batas-batasnya. Kekuatan kita telah meningkat sangat pesat dalam beberapa dekade saja. Kita telah mencapai kemajuan teknologi yang mengesankan dan mengagumkan, dan kita tidak menyadari bahwa pada saat yang sama kita telah menjadi makhluk yang sangat berbahaya, yang mampu mengancam kehidupan banyak makhluk dan kelangsungan hidup kita sendiri. Saat ini kita dapat mengulangi ironi Solovyov tentang “abad yang begitu maju yang bahkan ditakdirkan menjadi abad terakhir”. Kita memerlukan kejernihan dan kejujuran untuk menyadari bahwa kekuatan kita dan kemajuan yang kita hasilkan, berbalik melawan kita sendiri.
29. Kemerosotan moral dari kekuasaan real/faktual ditutupi oleh marketing dan informasi palsu, mekanisme yang berguna di tangan mereka yang memiliki sumber daya lebih besar untuk mempengaruhi opini publik. Dengan bantuan mekanisme ini, ketika direncanakan suatu proyek dengan dampak lingkungan yang besar dan tingkat polusi yang tinggi, masyarakat di wilayah tersebut akan ditipu dengan berbicara tentang kemajuan lokal yang dapat dihasilkan oleh proyek tersebut atau potensi pertumbuhan ekonomi, lapangan kerja dan peningkatan sumberdaya manusia yang akan dihasilkan bagi anak-anak mereka. Namun pada kenyataannya tidak ada kepedulian yang nyata terhadap masa depan orang-orang ini, karena mereka tidak diberitahu dengan jelas bahwa proyek ini akan mengakibatkan kehancuran lahan mereka, kondisi yang jauh lebih buruk untuk hidup dan makmur, daerah yang sepi dan kurang layak huni, tanpa kehidupan dan tanpa kegembiraan hidup bersama, dan tanpa harapan untuk masa depan; selain kerusakan global yang pada akhirnya merugikan banyak orang.
Laudato Si’ nomor 33
Namun tidak cukup untuk memikirkan pelbagai spesies hanya sebagai “sumber daya” potensial untuk dieksploitasi, sementara melupakan fakta bahwa masing-masing memiliki nilai dalam dirinya sendiri. Setiap tahun hilanglah ribuan spesies tanaman dan hewan yang tidak pernah akan kita kenal, dan tidak pernah akan dilihat anak-anak kita, karena telah hilang untuk selamanya. Sebagian besar punah karena alasan yang berkaitan dengan aktivitas manusia. Karena kita, ribuan spesies tidak akan lagi memuliakan Allah dengan keberadaan mereka, atau menyampaikan pesan mereka kepada kita. Kita tidak punya hak seperti itu.
Relevansi di Indonesia
Orangutan, badak Jawa, harimau Sumatra, penyu, dan hiu martil terancam karena deforestasi, perburuan dan pencemaran.
Apa yang Dapat Kita Lakukan?
Dukung konservasi: adopsi pohon, adopsi satwa, wisata ekologi yang etis.
Contoh Kegiatan Seturut semangat Laudato Si’
BOSF
(Borneo Orangutan Survival Foundation) - https://orangutan.org/
Pertanyaan Refleksi
- Mengapa kehilangan spesies menjadi ancaman bagi kehidupan manusia?
- Spesies apa di Indonesia yang Anda tahu sedang terancam?
- Apa tindakan kecil yang dapat mendukung pelestarian keanekaragaman hayati?
Jawaban Anda kami tunggu di:
https://bit.ly/laudatosidanaksi_sesi7



