Dari Raden Ajeng Kartini ke “Panggil Aku Kartini Saja”

Perjalanan dari R.A. Kartini menuju kesadaran “Panggil aku Kartini saja” menggambarkan peran perempuan sebagai subjek aktif dalam membangun ketahanan budaya Indonesia melalui keluarga, komunitas, dan solidaritas.

Dari Raden Ajeng Kartini ke “Panggil Aku Kartini Saja”
Sumber gambar: https://id.wikiquote.org/wiki/Kartini

Perempuan dan Ketahanan Budaya Indonesia

(Untuk HW dan para sahabatnya. Dengan ucapan “Selamat Terus Berjuang”)

Ungkapan “Panggil aku Kartini saja,” yang dipopulerkan oleh Pramoedya Ananta Toer, (Buku Panggil Aku Kartini Saja karya Pramoedya Ananta Toer pertama kali diterbitkan pada tahun 1962), bukan hanya  perubahan cara menyebut nama Raden Ajeng Kartini. Ia adalah tanda sebuah pergeseran kultural yang dalam: dari identitas yang ditentukan oleh struktur menuju identitas yang dihidupi sebagai kesadaran. Dari feodalisme menuju ruang yang lebih demokratis. Dari “diberi peran” menuju “mengambil peran”.

Namun, pergeseran ini tidak hanya menyangkut soal emansipasi individu. Ia menyentuh sesuatu yang lebih mendasar: ketahanan budaya Indonesia itu sendiri.

Sejarah menunjukkan bahwa ketahanan bangsa tidak pernah berdiri pertama-tama pada negara, melainkan pada lapisan-lapisan dasar kehidupan: individu, keluarga, dan komunitas. Dan di pusat lapisan-lapisan ini, perempuan selalu memainkan peran yang tak tergantikan. Ia adalah pengasuh kehidupan, penjaga nilai, dan penghubung antar-generasi,dengan kata lain, rahim peradaban.

Dalam konteks inilah Kartini menjadi penting.

Sebagai seorang bangsawan Jawa, Kartini hidup dalam struktur feodal yang menempatkan perempuan dalam ruang terbatas. Gelar “Raden Ajeng” bukan hanya tanda kehormatan, tetapi juga batas. Namun melalui refleksi dan pergulatannya, Kartini mulai membuka ruang baru: perempuan sebagai subjek yang berpikir, memilih, dan bertindak.

Ketika Pramoedya mengangkat ungkapan “Panggil aku Kartini saja,” ia seakan menyingkap inti terdalam dari perjuangan itu: bahwa perempuan tidak cukup hanya menjadi simbol, tetapi harus menjadi pelaku.

Di sinilah kita melihat hubungan langsung dengan ketahanan budaya. Pada masa pra-kemerdekaan, perempuan menjaga ketahanan melalui keluarga dan komunitas. Ia menanamkan nilai, menjaga tradisi, dan merawat kehidupan dalam senyap. Ketahanan itu bersifat kultural, mengakar, dan tahan lama.

Pada masa kemerdekaan, perempuan ikut menopang ketahanan bangsa. Ia hadir dalam perjuangan, dalam pengorbanan, dalam solidaritas yang melampaui batas-batas pribadi.

Namun dalam berbagai periode berikutnya, terutama ketika negara menjadi sangat dominan, peran perempuan sering direduksi. Ia tetap menjadi penopang, tetapi tidak selalu diakui sebagai subjek yang menentukan arah.

Di sinilah relevansi “Panggil aku Kartini saja” menjadi semakin kuat pada zaman sekarang.

Dalam era Reformasi dan globalisasi, kita menyaksikan pergeseran besar: individu menjadi semakin menonjol, sementara keluarga dan komunitas menghadapi tantangan baru. Relasi menjadi lebih longgar, nilai lebih cair, dan tekanan hidup semakin kompleks. Dalam situasi seperti ini, ketahanan budaya tidak bisa lagi hanya mengandalkan struktur dari atas. Ia harus dibangun kembali dari bawah, dari relasi yang hidup, dari solidaritas yang nyata.

Dan di sinilah perempuan kembali memegang peran kunci.

Namun peran itu kini tidak lagi cukup jika hanya dijalankan dalam diam. Ia perlu dihidupi secara sadar, kolektif, dan saling menguatkan. Karena itu, ungkapan seperti “woman support woman” bukan sekadar slogan modern, melainkan bentuk konkret dari ketahanan budaya di tingkat paling dasar.

Perempuan yang saling menopang akan melahirkan keluarga yang kuat. Keluarga yang kuat akan membentuk komunitas yang sehat. Komunitas yang sehat akan menjadi dasar bagi bangsa yang tangguh.

Maka, pergeseran dari “Raden Ajeng Kartini” ke “Panggil aku Kartini saja” bukan hanya soal nama, tetapi soal arah sejarah. Ia menandai peralihan dari ketahanan yang diwariskan secara pasif menuju ketahanan yang dibangun secara sadar dan partisipatif.
 

(I. Ismartono, SJ - Apri, 2026)