DARI LUKA YESUS KE LUKA BUMI: SEPERTI TOMAS, MARI KITA SENTUH DENGAN PERHATIAN KITA
Mengajak umat merefleksikan Hari Minggu Kerahiman Ilahi dengan menyentuh luka Yesus melalui kepedulian nyata terhadap "luka bumi" dan lingkungan hidup sebagai wujud iman yang transformatif.
https://run4u.cause.id/pejuangdonasi/SahabatInsanRun
Hari ini kita merayakan Hari Minggu Kerahiman Ilahi. Injil memperlihatkan kepada kita Rasul Tomas, seorang murid yang jujur dalam keraguannya. Ia berkata: “Sebelum aku melihat dan menyentuh, aku tidak akan percaya.” Dan bagaimana Yesus Kristus menjawab? Ia tidak menegur. Ia tidak menolak. Ia justru membuka luka-Nya dan berkata: “Taruhlah jarimu di sini… dan percayalah.” Di sinilah inti Kerahiman Ilahi: Allah tidak menyembunyikan luka-Nya, Ia mengundang kita untuk menyentuhnya.
1. Luka yang Mengalirkan Kerahiman
Dalam pengalaman Faustina Kowalska, Yesus berkata: “Dari semua luka-Ku, seperti dari aliran sungai, kerahiman mengalir bagi jiwa-jiwa.” (Diary, no. 1190). Dan juga: “Semakin besar dosanya, semakin besar pula haknya atas kerahiman-Ku.” (Diary, no. 723)
Saudara-saudari, luka Kristus bukan tanda kekalahan. Luka itu adalah sumber kasih, pengampunan, dan kehidupan baru.
2. Luka Bumi: Realitas yang Harus Disentuh
Kalau hari ini Tuhan berkata kepada kita, mungkin Ia tidak hanya menunjuk pada luka di tangan dan lambung-Nya, tetapi juga pada luka dunia kita.
Dalam Laudato Si’, Paus Fransiskus mengingatkan: “Bumi sendiri, yang terbebani dan dirusak, termasuk di antara yang paling terlantar dan paling diperlakukan buruk dari kaum miskin kita.” (LS 2)
Di wilayah Keuskupan Agung Jakarta, luka itu nyata: Sungai yang tercemar, udara yang kotor, sampah plastik yang menumpuk, banjir yang berulang. Sering kali kita melihat,tetapi tidak menyentuh. Kita tahu, tetapi tidak bergerak.
3. Sentuhan yang Mengubah: Dari Keraguan ke Belas Kasih
Ketika Rasul Tomas akhirnya menyentuh luka Yesus, ia berseru: “Ya Tuhanku dan Allahku!” Hari ini kita diajak melakukan hal yang sama, menyentuh luka bumi dengan perhatian kita. Dalam semangat Ignatius Loyola, kita diajar untuk menemukan Allah dalam segala sesuatu. Seperti diingatkan dalam Laudato Si’: “Segala sesuatu saling terhubung.” (LS 91)
4. Dari Perhatian ke Tindakan: Belajar dari Run4U
Perhatian sejati tidak berhenti pada rasa iba. Ia harus menjadi tindakan. Kita bersyukur di Keuskupan Agung Jakarta ada gerakan seperti Run4U (Run for You) yang diinisiasi oleh Pukat KAJ. Ini adalah contoh konkret: Menyentuh luka dengan tindakan, mengubah iman menjadi gerakan, mengalirkan kerahiman ke dunia nyata.
“Menyentuh” sering dimulai dari hal kecil, tetapi nyata: Tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi plastik sekali pakai, menghemat air dan listrik, menggerakkan komunitas untuk peduli lingkungan, mendukung gerakan seperti Run4U. Inilah sentuhan kita. Inilah cara kita ikut serta dalam kerahiman Allah.
6. Penutup: Menjadi Aliran Kerahiman
Rasul Tomas menyentuh luka Yesus, dan menjadi percaya. Kita menyentuh luka bumi dan dipanggil menjadi berbelas kasih. Seperti dikatakan oleh Paus Fransiskus dalam Laudato Si’: “Menghidupi panggilan kita untuk menjadi penjaga karya Allah adalah bagian yang esensial dari kehidupan yang bajik.” (LS 217)
Doa Penutup
Tuhan Yesus yang berbelaskasih,
Engkau telah membuka luka-Mu bagi kami.
Ajarlah kami untuk tidak menutup mata
terhadap luka dunia ini.
Berilah kami hati yang peka,
tangan yang siap bertindak,
dan semangat untuk menjadi
aliran kerahiman-Mu
bagi sesama dan bagi bumi, rumah kami bersama.
Amin.
Jakarta, April 2026
(I. Ismartono, SJ – Hari Minggu Kerahiman Ilahi, 2026)


