Nobar Film Kasus Hukuman Mati Mary Jane dan Merry Utami

Nobar Film Kasus Hukuman Mati Mary Jane dan Merry Utami
Moderator Acara Nonton Bareng Kabar Bumi, Baneng pada Selasa 26 Oktober 2021 pukul 20.30 WIB

Sahabat Insan mengikuti acara nonton film bersama yang diadakan pada Selasa (26/10/2021) pukul 20.30 WIB. Acara nonton film bersama tentang "Woman Migrants Sentenced to Death: The Invisible Reality" ini dipelopori oleh Kabar Bumi yang bekerjasama dengan beberapa organisasi yang berfokus pada isu migran. Adapun beberapa organisasi tersebut terdiri dari International Migrant Aliance, Jaringan Buruh Migran Indonesia (JBMI), Asia Pasific Forum on Woman, Law and Development, IMA Research Foundation, Films4peace Foundation, Migrante International, Bangladeshi Ovhibashi Mohila Sramik Association (BOMSA) dan Asia Pacific Mission for Migrants (APMM).

Isi dari film ini adalah proses hukuman mati yang menimpa Mary Jane Veloso (WNA asal Filipina) dan Merry Utami (PMI asal Sukoharjo, Jawa Tengah) yang merupakan korban dari perdagangan manusia. Mereka adalah korban dari sindikat narkoba yang memanfaatkan jasa mereka sebagai kurir narkoba.

 

Baik Mary Jane maupun Merry Utami berasal dari keluarga kurang mampu. Mereka bekerja untuk menghidupi kebutuhan hidupnya dan keluarganya. Di tengah kondisi yang serba kekurangan ini, keduanya dimanfaatkan tanpa sepengetahuan mereka oleh sindikat narkoba melalui tas atau koper yang wajib mereka bawa.

Mary Jane diperalat oleh sindikat narkoba yang berasal dari Kuala Lumpur. Ia ditugaskan oleh orang tersebut ke Yogyakarta, Indonesia dengan membawa koper baru berisi uang sebanyak 500 dollar Amerika Serikat (AS) pada 25 April 2010. Berdasarkan kesaksian Mary Jane, koper yang dibawanya kosong, namun petugas bandara menemukan ada sekitar 2,6 kg heroin. Mary Jane tak bisa lolos dari hukuman mati yang segera ditimpakan padanya, demikian juga kasus Merry Utami yang dimanfaatkan oleh sindikat narkoba di Taiwan.

Dalam persidangan, keduanya tidak mendapatkan keadilan. Mereka dijatuhi hukuman mati tanpa bahan bukti yang kuat, tanpa proses persidangan yang sebagaimana mestinya. Merry Utami sudah menjalani masa tahanan sejak 2001, sementara Mery Jane menjalani masa tahanan sejak 2010. 

Hingga saat ini, keduanya masih menunggu belas kasih dan keadilan dari negara Indonesia yang memperbolehkan mereka menghirup udara bebas dan berkumpul dengan keluarga.

Dalam acara nonton film ini, dihadirkan juga perwakilan dari keluarga korban, khususnya keluarga dari Mery Utami, yakni anak kandungnya, Devy Christa. Dalam kesempatan ini, Devy Christa mengatakan rindu pada ibunya. Dengan air mata berlinang, Devy memohon kepada presiden dan kepada pemerintah yang menangani kasus Mery Utami untuk dapat tergerak membela ibunya yang menjadi korban dari human trafficking.

"Saya tidak ingin anak saya tertekan melihat nenek kandungnya harus menjalani hukuman dari negara karena sesuatu yang tidak dilakukannya. Saya ingin ibu saya bebas dan menikmati masa tuanya dengan bahagia bersama anak dan cucu," pungkasnya.