MARTABAT MANUSIA DI JANTUNG EKONOMI BARU

MARTABAT MANUSIA DI JANTUNG EKONOMI BARU

Abad ke-21 ditandai oleh paradoks besar. Di satu sisi, dunia mencapai kemajuan ekonomi, teknologi, dan kecerdasan buatan (AI) yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di sisi lain, kemiskinan, perdagangan manusia, migrasi paksa, krisis ekologis, kesenjangan sosial, dan keterasingan manusia justru semakin mendalam. Pertumbuhan ekonomi ternyata tidak otomatis menghasilkan kesejahteraan bersama. Bahkan, dalam banyak kasus, manusia dan alam diperlakukan sekadar sebagai instrumen keuntungan.

Di tengah situasi tersebut, Gereja Katolik menawarkan sebuah visi alternatif melalui Ensiklik Laudato Si' (2015) dan Ensiklik Magnifica Humanitas (2025). Kedua dokumen itu menemukan titik temu dalam satu keyakinan mendasar: martabat manusia adalah pusat dari seluruh kehidupan ekonomi. Tidak ada sistem ekonomi yang dapat disebut manusiawi apabila mengorbankan pribadi manusia ataupun merusak rumah bersama.

Visi inilah yang kemudian diwujudkan secara konkret dalam gerakan Economy of Francesco, sebuah ajakan untuk membangun ekonomi baru yang berpihak kepada kaum miskin, generasi mendatang, dan kelestarian bumi.

 

 I. Kritik terhadap Paradigma Ekonomi Lama

Laudato Si' menunjukkan bahwa akar krisis ekologis bukan semata-mata persoalan lingkungan, melainkan krisis cara pandang manusia. Paus Fransiskus menyebutnya sebagai paradigma teknokratis, yaitu keyakinan bahwa segala sesuatu dapat diukur berdasarkan efisiensi, keuntungan, dan penguasaan teknologi.

Dalam paradigma ini:

1)    Manusia berubah menjadi tenaga produksi;

2)    Alam dipandang sebagai bahan baku;

3)    Masyarakat menjadi pasar;

4)    Bahkan relasi antarmanusia diukur berdasarkan nilai ekonominya.

Akibatnya muncul budaya membuang (throwaway culture), ketika orang miskin, penyandang disabilitas, para migran, bahkan lansia dianggap tidak produktif dan kehilangan nilai sosial.

Magnifica Humanitas memperluas kritik tersebut ke era digital. Artificial Intelligence menawarkan peluang besar bagi kemajuan manusia, tetapi juga menghadirkan bahaya baru apabila digunakan tanpa etika. Ketika algoritma menentukan siapa yang diterima bekerja, siapa memperoleh pinjaman, siapa diawasi negara, bahkan siapa yang layak menerima pelayanan publik, maka martabat manusia dapat tergeser oleh logika mesin.

Teknologi yang seharusnya melayani manusia dapat berubah menjadi alat dominasi apabila dilepaskan dari tanggung jawab moral.

 

II. Martabat Manusia sebagai Prinsip Dasar Ekonomi

Baik Laudato Si' maupun Magnifica Humanitas berpijak pada keyakinan yang sama: setiap pribadi diciptakan menurut gambar Allah (Imago Dei). Karena itu nilai manusia tidak pernah ditentukan oleh produktivitas ekonomi, tingkat pendidikan, usia, status hukum, ataupun kemampuan digital.

Martabat manusia bersifat melekat, tidak dapat diperjualbelikan, dan tidak dapat dikurangi. Prinsip ini membawa konsekuensi besar bagi dunia ekonomi.

Ekonomi tidak boleh bertanya pertama-tama:

"Berapa keuntungan yang dapat dihasilkan?"

Melainkan:

"Apakah kebijakan ini menghormati martabat manusia?"

Dengan demikian ukuran keberhasilan ekonomi bukan sekadar pertumbuhan PDB, tetapi juga:

1)    Berkurangnya kemiskinan,

2)    Meningkatnya solidaritas,

3)    Tersedianya pekerjaan yang layak,

4)    Perlindungan terhadap pekerja migran,

5)    Penghormatan terhadap perempuan dan anak,

6)    Serta terpeliharanya lingkungan hidup.

 

III. Economy of Francesco: Ekonomi yang Berwajah Manusia

Gerakan Economy of Francesco lahir dari undangan Paus Fransiskus kepada para ekonom muda, pengusaha, akademisi, dan aktivis dunia. Inspirasinya berasal dari Santo Fransiskus dari Assisi yang memandang seluruh ciptaan sebagai saudara.

Gerakan ini tidak sekadar mengkritik kapitalisme, tetapi menawarkan paradigma baru:

1)    Keuntungan tidak menjadi tujuan utama;

2)    Laba harus melayani kesejahteraan bersama;

3)    Inovasi harus memperkuat solidaritas;

4)    Investasi harus memulihkan bumi.

Dalam ekonomi seperti ini, perusahaan tidak lagi hanya bertanggung jawab kepada pemegang saham, tetapi juga kepada para pekerja, komunitas lokal, dan generasi mendatang. Ekonomi menjadi ruang persaudaraan.

 

IV. AI, Digitalisasi, dan Masa Depan Martabat Manusia

Magnifica Humanitas memberi perhatian khusus kepada perkembangan Artificial Intelligence. AI mampu meningkatkan efisiensi produksi, kesehatan, pendidikan, dan pelayanan publik. Namun AI juga dapat memperluas diskriminasi apabila data yang digunakan mengandung bias.

Lebih jauh lagi, AI dapat memperkuat perdagangan manusia melalui perekrutan tenaga kerja palsu, penipuan digital, eksploitasi seksual daring, dan manipulasi identitas. Karena itu Gereja menolak anggapan bahwa teknologi bersifat netral. Teknologi selalu membawa pilihan moral.

Setiap inovasi harus diuji dengan pertanyaan sederhana:

1)    Apakah teknologi ini membuat manusia semakin bebas, atau justru semakin diperbudak?

2)    Apabila jawabannya yang kedua, maka teknologi tersebut memerlukan koreksi etis.

 

V. Indonesia: Tantangan Nyata

Indonesia memperlihatkan dengan jelas hubungan antara ekonomi dan martabat manusia. Pertumbuhan ekonomi sering berjalan bersamaan dengan:

1)    Kerusakan hutan,

2)    Pencemaran sungai,

3)    Konflik lahan masyarakat adat,

4)    Perdagangan manusia,

5)    Eksploitasi pekerja migran,

6)    Ketimpangan digital,

7)    dan meningkatnya kesenjangan sosial.

Dalam situasi demikian, Economy of Francesco menjadi sangat relevan. 

1)    Investasi harus menghormati hak masyarakat adat.

2)    Pertambangan harus menjaga keberlanjutan lingkungan.

3)    Transformasi digital harus melindungi data pribadi dan hak pekerja.

4)    Kebijakan ekonomi harus memastikan bahwa tidak ada manusia yang diperlakukan sekadar sebagai alat produksi.

 

VI. Spiritualitas Ekonomi Baru

Baik Laudato Si' maupun Magnifica Humanitas akhirnya mengajak kita kepada suatu pertobatan. Masalah ekonomi bukan hanya masalah kebijakan, melainkan juga masalah hati. Keserakahan tidak dapat diatasi hanya dengan regulasi. Diperlukan spiritualitas baru yang menumbuhkan:

1)    Kesederhanaan,

2)    Solidaritas,

3)    Rasa syukur,

4)    Tanggung jawab ekologis,

5)    dan kasih terhadap sesama.

Dalam spiritualitas inilah ekonomi menjadi panggilan untuk melayani kehidupan.

 Penutup

Martabat manusia bukan salah satu unsur dalam pembangunan ekonomi; martabat manusia adalah alasan mengapa ekonomi itu ada. Laudato Si' mengingatkan bahwa jeritan bumi dan jeritan kaum miskin merupakan satu jeritan yang sama. Magnifica Humanitas menambahkan bahwa di era kecerdasan buatan, jeritan itu juga terdengar dalam dunia digital ketika manusia direduksi menjadi data, algoritma, dan komoditas.

Karena itu, Economy of Francesco bukan sekadar model ekonomi alternatif, melainkan sebuah pertobatan peradaban. Ia mengajak dunia membangun ekonomi yang menempatkan manusia di atas modal, solidaritas di atas kompetisi yang tidak terkendali, dan keberlanjutan di atas keuntungan jangka pendek.

Ekonomi yang demikian bukanlah ekonomi yang anti-pasar atau anti-teknologi. Sebaliknya, ia adalah ekonomi yangm memastikan bahwa pasar, modal, dan teknologi selalu menjadi pelayan kehidupan, bukan penguasanya.

Hanya dengan menempatkan martabat manusia di jantung ekonomi, dunia dapat melangkah menuju masa depan yang lebih adil, lebih damai, dan lebih setia kepada kehendak Sang Pencipta atas seluruh ciptaan. (Ignatius Ismartono, SJ - Bandung, 23 Juli 2026)