APA YANG DIKATAKAN OLEH PAUS LEO XIV TENTANG PERAWATAN BUMI, OUR COMMON HOME, ISI LAUDATO SI', KETIKA BERKUNJUNG KE PERANCIS BARU-BARU INI?

APA YANG DIKATAKAN OLEH PAUS LEO XIV TENTANG PERAWATAN BUMI, OUR COMMON HOME, ISI LAUDATO SI', KETIKA BERKUNJUNG KE PERANCIS  BARU-BARU INI?
 
 

1. “Ada satu bumi untuk semua”

Salah satu kalimat Paus yang paling penting adalah: “There is one earth for all and a common human nature.” Dalam bahasa Indonesia: “Hanya ada satu bumi untuk semua dan satu kodrat manusia yang sama.”

Paus kemudian mengatakan bahwa manusia tidak dapat dipahami dengan memisahkan hal-hal yang sebenarnya tak terpisahkan: tubuh dan jiwa, kehidupan pribadi dan relasi, hubungan dengan sesama dan hubungan dengan lingkungan.  Ini sangat dekat dengan jantung pemikiran Laudato Si’: manusia bukan makhluk yang berdiri di luar alam, melainkan bagian dari jaringan relasi kehidupan.

 

2. Kalimat yang sangat kuat: “Cultivating the earth…”

Paus Leo XIV mengatakan: “Cultivating the earth also means cultivating the humanity that inhabits it.” Saya kira terjemahan yang bagus: “Mengolah bumi berarti juga mengolah kemanusiaan yang mendiaminya.”

Ia menghubungkan kata culture dengan cultivation: kebudayaan pada dasarnya adalah tindakan “mengolah”. Jadi pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan seharusnya tidak hanya menghasilkan manusia yang semakin mampu menguasai alam, tetapi manusia yang mampu merawat bumi sekaligus memanusiakan dirinya sendiri. Ini menarik sekali bila dikaitkan dengan gagasan pertobatan ekologis dalam Laudato Si’.

 

3. Paus Leo XIV secara eksplisit menyebut Laudato Si’

Ini bukan sekadar interpretasi. Paus sendiri mengatakan:“Pope Francis developed the perspective of integral ecology.” Kemudian ia secara eksplisit merujuk pada Laudato Si’, khususnya nn. 137–162, yaitu bagian mengenai ekologi integral.

Jadi, dalam kunjungan ke Prancis, Paus Leo XIV secara jelas menempatkan dirinya dalam kesinambungan dengan pemikiran ekologis Paus Fransiskus.

 

4. “Merawat manusia dan ciptaan bersama-sama”

Paus mengatakan:“I therefore renew the appeal of my predecessors to care together for the human person and for creation.” Artinya: “Karena itu saya memperbarui seruan para pendahulu saya untuk bersama-sama merawat pribadi manusia dan ciptaan.”

Di sini ada kata yang penting: together — bersama-sama. Ekologi bagi Paus Leo XIV bukan hanya urusan individu, Gereja, atau aktivis lingkungan. Ia menyangkut tanggung jawab bersama umat manusia, termasuk pendidikan, ilmu pengetahuan, kebudayaan dan lembaga-lembaga internasional.

 

5. Siapa yang menjadi “ukuran” kepedulian ekologis?

Bagian ini sangat kuat dan sangat Laudato Si’.

Paus Leo XIV mengatakan bahwa ukuran komitmen kita dapat dilihat dari perhatian kepada “the littlest and the poor” — mereka yang paling kecil dan kaum miskin. Ia menyebut:

  • anak-anak,
  • korban perang,
  • penyandang disabilitas,
  • lansia,
  • migran dan pengungsi, dan
  • mereka yang disingkirkan karena dianggap tidak produktif.

Menurut Paus, mereka merupakan “the true test of our claims to respect human dignity” — ujian nyata atas klaim kita mengenai penghormatan terhadap martabat manusia. Dan perlindungan terhadap mereka juga meluas kepada ciptaan. Ini sangat dekat dengan prinsip Laudato Si’ bahwa “jeritan bumi” dan “jeritan kaum miskin” tidak dapat dipisahkan.

Menariknya, hal ini juga konsisten dengan Magnifica Humanitas yang ditulis Paus Leo XIV: ia menyebut Laudato Si’ sebagai ensiklik yang secara sistematis menghubungkan krisis ekologis dengan krisis sosial-ekonomi, serta menggabungkan perawatan our common home dengan pilihan mengutamakan kaum miskin.

 

6. Kritik terhadap pola eksploitasi

Paus Leo XIV kemudian memberikan kontras yang tajam:“consuming without safeguarding, destroying without cultivating.” Secara bebas: “mengonsumsi tanpa menjaga, menghancurkan tanpa mengolah.”

Ia menggambarkan lawannya sebagai kehendak untuk mengeksploitasi dan menjarah, mengambil sebanyak mungkin dari setiap makhluk hidup. Dengan demikian, persoalan ekologis bukan sekadar: “Bagaimana kita mengurangi sampah?” Tetapi lebih dalam: “Bagaimana kita mengubah cara manusia berelasi dengan bumi?”

 

7. Krisis ekologis adalah krisis antropologis

Inilah mungkin kalimat paling penting dari pidatonya: “Thus, the present ecological crisis is an anthropological crisis.” Terjemahannya: “Dengan demikian, krisis ekologis sekarang ini adalah krisis antropologis.”

Maksudnya: kerusakan bumi memperlihatkan adanya persoalan mengenai siapa manusia itu, bagaimana manusia memahami kebebasan, kebutuhan, kemajuan, konsumsi, teknologi, relasi dengan sesama, dan tanggung jawabnya terhadap ciptaan.

Jadi, bagi Paus Leo XIV, krisis ekologis bukan hanya masalah lingkungan; ia adalah masalah tentang manusia.  

 

8. Ada hubungan dengan kritik Laudato Si’ terhadap paradigma teknokratis

Pidato di UNESCO juga menarik karena Paus menghubungkan lingkungan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ia mengatakan bahwa teknologi baru harus tetap melayani pribadi manusia, bukan menjadi instrumen dominasi dan ketidakadilan. 

Ini sejalan dengan Laudato Si’ mengenai paradigma teknokratis: masalahnya bukan teknologi itu sendiri, tetapi ketika kemampuan teknis manusia berubah menjadi logika menguasai, mengeksploitasi, mengonsumsi dan membuang.

Dalam Magnifica Humanitas, Paus Leo XIV bahkan mengembangkan gagasan ini lebih jauh: Laudato Si’ dikatakannya telah menunjukkan bahwa krisis ekologis merupakan aspek ekologis dari krisis sosial-ekonomi kontemporer, sekaligus mengkritik paradigma teknokratis yang memperlakukan segala sesuatu sebagai objek untuk didominasi.

 

9. Hubungannya dengan “our common home”

Jadi, kalau kita merangkum pesan Paus Leo XIV di Prancis, khususnya UNESCO, ada lima lingkaran yang saling berhubungan: 

MANUSIA
↓
RELASI DENGAN SESAMA
↓
MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN
↓
BUMI / CIPTAAN
↓
MASA DEPAN BERSAMA

 Karena itu our common home bukan sekadar istilah untuk planet bumi. Ia berarti rumah bersama tempat manusia, masyarakat dan seluruh ciptaan saling berhubungan. Dan di sinilah Paus Leo XIV meneruskan Laudato Si’: ekologi tidak boleh dipisahkan dari martabat manusia, kaum miskin, perdamaian, pendidikan, kebudayaan dan keadilan.

 

10. Bahkan lebih kuat lagi: “Babel” versus “Pentakosta”

Ini menarik sekali untuk proyek yang sebelumnya kita bahas mengenai Babel and public square of Pentecost.

Di UNESCO, Paus Leo XIV mengatakan bahwa eksploitasi yang merusak masyarakat dan lingkungan merupakan salah satu wajah “Babel”. Ia menghubungkannya dengan globalisasi tanpa persaudaraan, neokolonialisme dan ilmu pengetahuan yang direduksi menjadi teknik kekuasaan.

Sebaliknya, Pentakosta adalah gambaran masyarakat yang berbeda: keberagaman tidak dihancurkan, tetapi dipersatukan melalui komunikasi, dialog, perdamaian dan pencarian kebaikan bersama.

Dengan demikian, kita dapat membaca pesan ekologis Paus Leo XIV di Prancis seperti ini:

  • Babel: menguasai → mengeksploitasi → mengonsumsi → menghancurkan → memecah-belah.
  • Pentakosta: mendengarkan → berdialog → merawat → bekerja bersama → membangun rumah bersama.

Ini sebenarnya memberikan pembacaan baru yang sangat kuat terhadap Laudato Si’: our common home hanya dapat dirawat kalau manusia juga membangun common humanity — kemanusiaan bersama.

Dan ini bukan pesan yang muncul hanya sekali. Pada 1 September 2026, dalam Misa untuk Perawatan Ciptaan di Borgo Laudato Si’, Paus Leo XIV juga menyerukan pertobatan ekologis, mengatakan bahwa “belum terlambat” untuk mengubah apa yang telah digunakan untuk kehancuran menjadi sesuatu yang memberi kehidupan dan merawat kaum miskin, memberi makan yang lapar, serta melindungi ciptaan.

Benang merah Paus Leo XIV di Prancis sangat jelas: Laudato Si’ tidak ditinggalkan. Justru gagasan “ekologi integral” dibawa masuk ke dalam pembicaraan tentang pendidikan, ilmu pengetahuan, kebudayaan, teknologi, kemiskinan, migrasi, perdamaian dan masa depan umat manusia.