POST HUMANISME DAN TRANSHUMANISME DI DALAM MAGNIFICA HUMANITAS

Ensiklik Magnifica Humanitas menegaskan pandangan Humanisme Kristiani dalam merespons transhumanisme dan posthumanisme, dengan menempatkan teknologi sebagai sarana pelayanan martabat manusia serta mencapai kondisi "lebih daripada manusia" melalui rahmat Allah, bukan penyesuaian teknis semata.

POST HUMANISME  DAN TRANSHUMANISME  DI DALAM MAGNIFICA HUMANITAS

“Lebih Daripada Manusia” Melalui Rahmat, Bukan Penghapusan Kemanusiaan

Magnifica Humanitas tidak menolak teknologi, peningkatan kemampuan manusia, atau inovasi. Yang ditolak adalah ideologi bahwa manusia harus menjadi sempurna secara teknis, bahwa keterbatasan manusia adalah semata-mata cacat, dan bahwa nilai manusia bergantung pada seberapa jauh ia dapat ditingkatkan atau dilampaui oleh teknologi. Karena itu, ensiklik menggeser pertanyaan dari “Seberapa jauh teknologi dapat mengubah manusia?” menjadi “Manusia macam apa yang hendak kita bangun melalui teknologi?”

1. Apa yang dimaksud transhuman dan posthuman?

A. Transhuman atau transhumanisme

Secara sederhana, transhumanisme adalah gagasan bahwa manusia dapat meningkatkan kemampuan dirinya dengan bantuan teknologi sehingga melampaui kemampuan biologis yang sekarang dimilikinya. Teknologi yang dimaksud antara lain:

  1. Biomedis,
  2. Rekayasa tubuh,
  3. Alat-alat teknologi,
  4. Algoritma,
  5. Kecerdasan buatan,
  6. dan teknologi peningkatan kemampuan manusia.

Jadi, titik berangkatnya masih manusia yang ada sekarang, tetapi manusia itu hendak dibuat lebih kuat, lebih sehat, lebih cerdas, lebih panjang umur, lebih efisien, dan lebih mampu. Magnifica Humanitas menjelaskan transhumanisme sebagai pandangan yang menginginkan peningkatan manusia melalui teknologi untuk memperbesar kinerja dan kemampuan manusia (§116).

Rumus sederhananya: Manusia → ditingkatkan oleh teknologi → manusia yang “lebih mampu”.

B. Posthuman atau posthumanisme

Posthumanisme bergerak lebih jauh. Kalau transhumanisme masih ingin meningkatkan manusia, posthumanisme terutama dalam bentuknya yang radikal mempertanyakan apakah manusia seperti yang kita kenal sekarang harus tetap menjadi pusat kehidupan. Menurut Magnifica Humanitas, posthumanisme dapat membayangkan:

  1. Perpaduan manusia dan mesin,
  2. Perpaduan manusia, teknologi, dan lingkungan,
  3. Serta munculnya suatu tahap evolusi baru ketika manusia melampaui dirinya sendiri (§116).

Rumus sederhananya: Manusia → bercampur/bertransformasi dengan teknologi → bentuk kehidupan baru yang melampaui manusia sekarang.

2. Apa persamaan keduanya?

Magnifica Humanitas mengatakan bahwa keduanya merupakan kumpulan arus pemikiran yang sangat beragam. Karena itu, keduanya tidak dapat didefinisikan secara mutlak dengan satu pengertian saja. Namun, ada “laut bersama” yang menghubungkannya: peran sentral teknologi dan keinginan untuk melampaui batas-batas kondisi manusia (§116).

Persamaannya dapat diringkas dalam empat hal:

No

Persamaan

Penjelasan

1.

Teknologi sebagai kekuatan utama

Teknologi dianggap mampu mengubah kondisi manusia secara mendasar.

2.

Manusia memiliki keterbatasan

Keterbatasan biologis dipandang sebagai sesuatu yang dapat atau perlu diatasi.

3.

Ada dorongan untuk “melampaui” manusia sekarang

Manusia tidak lagi menerima begitu saja kondisi biologisnya.

4.

Masa depan manusia dibayangkan secara teknologis

Teknologi menjadi salah satu jalan utama menuju bentuk manusia yang baru atau “lebih tinggi”.

 

Karena itu, Magnifica Humanitas tidak pertama-tama bertanya, “Apakah teknologinya canggih?”, tetapi bertanya: “Visi tentang manusia macam apa yang berada di balik teknologi tersebut?” Itulah pertanyaan etis yang sangat penting dalam ensiklik ini (§117).

3. Apa perbedaannya?

Perbedaannya paling mudah dipahami dengan kata “meningkatkan” dan “melampaui.”

 

Transhumanisme

Posthumanisme

Titik berangkat

Manusia sekarang

Manusia sekarang

Tujuan

Meningkatkan kemampuan manusia

Melampaui bentuk manusia sekarang

Teknologi

Alat peningkatan manusia

Dapat menjadi sarana transformasi manusia

Hubungan manusia-teknologi

Manusia menggunakan teknologi untuk menjadi lebih mampu

Manusia dapat berbaur dengan mesin/lingkungan

Pertanyaan utama

“Bagaimana manusia dapat menjadi lebih baik/kuat?”

“Apakah manusia masih menjadi bentuk akhir kehidupan?”

Gambaran ekstrem

Manusia yang sangat ditingkatkan

Bentuk kehidupan baru pasca-manusia

Jadi, secara sederhana:

  1. Transhumanisme: “Mari kita tingkatkan manusia.”
  2. Posthumanisme: “Mari kita melampaui manusia.”

Perlu diberi catatan: ini adalah penyederhanaan pedagogis. Magnifica Humanitas sendiri menegaskan bahwa kedua istilah tersebut mencakup berbagai aliran dan tidak memiliki satu definisi yang sepenuhnya tunggal (§116).

4. Bagaimana sikap Magnifica Humanitas terhadap transhumanisme?

Sikapnya kritis, tetapi bukan anti-teknologi. Ensiklik tidak mengatakan bahwa setiap usaha meningkatkan kemampuan manusia melalui teknologi adalah salah. Masalahnya adalah visi antropologis yang mendasarinya.

Pada §117, Magnifica Humanitas mengatakan bahwa persoalannya bukan penggunaan teknologi itu sendiri, melainkan pandangan tentang manusia yang berada di balik penggunaannya. Jika manusia dipandang sebagai sesuatu yang harus terus-menerus “disempurnakan” atau “dilampaui”, muncul bahaya bahwa manusia dinilai berdasarkan kegunaan, kemampuan, efisiensi, atau kesempurnaannya.

Bahaya berikutnya sangat serius: Bila sebagian manusia dianggap kurang berguna, kurang diinginkan, atau kurang bernilai, maka atas nama “kemajuan” dapat muncul pembenaran terhadap pengorbanan kelompok yang rentan. Dengan kata lain:

  1. Transhumanisme menjadi problematis ketika: “Saya ingin meningkatkan kemampuan manusia”
  2. berubah menjadi: “Manusia yang tidak dapat ditingkatkan tidak lagi cukup bernilai.”

Inilah yang ditolak oleh Magnifica Humanitas.

5. Bagaimana sikap terhadap posthumanisme?

Terhadap posthumanisme, kritiknya bahkan lebih mendasar apabila posthumanisme mengambil bentuk radikal.

Mengapa?

Karena posthumanisme dapat sampai pada gagasan bahwa manusia bukan lagi pusat atau bentuk akhir dari kehidupan, dan bahwa manusia dapat melebur dengan mesin, teknologi, atau bentuk kehidupan lainnya. Magnifica Humanitas melihat bahaya ketika manusia tidak lagi dipahami sebagai pribadi dengan martabat yang melekat, tetapi sebagai proyek teknologi yang harus dioptimalkan atau dilampaui (§117).

Karena itu, ensiklik menolak gagasan bahwa “keselamatan” manusia dapat dicapai secara murni teknis. Dengan kata lain: Teknologi boleh membantu manusia mengatasi penderitaan; tetapi teknologi tidak boleh menentukan apa arti menjadi manusia.

6. Mengapa Magnifica Humanitas begitu menekankan “batas” manusia?

Di sinilah bagian yang sangat menarik. Dalam §118, ensiklik mengatakan bahwa kita cenderung melihat:

  1. ketidakmampuan,
  2. penyakit,
  3. usia tua,
  4. penderitaan,
  5. kerentanan,

semata-mata sebagai cacat yang harus diperbaiki.

Tetapi Magnifica Humanitas memberikan perspektif yang berbeda: keterbatasan bukan hanya kekurangan; melalui keterbatasan manusia justru dapat bertumbuh dalam kemanusiaannya.

Mengapa?

Karena pengalaman keterbatasan memungkinkan munculnya:

  1. belas kasih,
  2. kepedulian,
  3. kemurahan hati,
  4. solidaritas,
  5. relasi,
  6. pengalaman rohani,
  7. dan keterbukaan kepada Allah.

 

Dengan demikian, tidak semua keterbatasan harus dianggap sebagai kesalahan desain biologis yang harus dihapus oleh teknologi. Ini bukan berarti Gereja memuji penderitaan atau menolak pengobatan. Sebaliknya: Kita boleh dan harus mengurangi penderitaan yang dapat diatasi, tetapi kita tidak boleh menyimpulkan bahwa manusia baru menjadi bernilai apabila ia bebas dari semua keterbatasan.

7. Lalu apa alternatif yang ditawarkan Magnifica Humanitas?

Ini bagian yang sangat penting untuk menjelaskan keseluruhan sikap ensiklik. Magnifica Humanitas tidak menawarkan: humanisme anti-teknologi.  Ia menawarkan: humanisme kristiani yang menggunakan teknologi untuk melayani manusia. Ensiklik bahkan berbicara tentang “the authentic ‘more than human’: grace and Christian humanism.”

Jadi ada paradoks yang indah:

  1. Transhumanisme berkata: Manusia harus melampaui dirinya melalui teknologi.
  2. Posthumanisme berkata: Manusia dapat berubah menjadi sesuatu yang melampaui manusia.

Magnifica Humanitas berkata: Manusia memang dipanggil untuk melampaui dirinya, tetapi bukan dengan berhenti menjadi manusia dan bukan terutama melalui teknologi melainkan melalui relasi dengan Allah, rahmat, kasih dan kepenuhan hidup. Dengan demikian, “lebih daripada manusia” bagi iman Kristiani bukanlah post-human, melainkan manusia yang semakin manusiawi dalam rahmat Allah.

8. Bagan yang sangat sederhana

Secara konseptual:

 

HOMO SAPIENS

Teknologi

Transhumanisme → meningkatkan manusia

Posthumanisme → melampaui/mentransformasi manusia

 

MAGNIFICA HUMANITAS

Teknologi harus tetap berada dalam pelayanan manusia

Martabat, relasi, kasih, tanggung jawab

Humanisme Kristiani

“Lebih daripada manusia” melalui rahmat, bukan penghapusan kemanusiaan

 

Kesimpulan paling ringkas: Magnifica Humanitas tidak menolak teknologi, peningkatan kemampuan manusia, atau inovasi. Yang ditolak adalah ideologi bahwa manusia harus menjadi sempurna secara teknis, bahwa keterbatasan manusia adalah semata-mata cacat, dan bahwa nilai manusia bergantung pada seberapa jauh ia dapat ditingkatkan atau dilampaui oleh teknologi. Karena itu, ensiklik menggeser pertanyaan dari “Seberapa jauh teknologi dapat mengubah manusia?” menjadi “Manusia macam apa yang hendak kita bangun melalui teknologi?”

 

 

(Jakarta, 02 September 2026, Sahabat Insan - Ignatius Ismartono, SJ)