MAGNIFICA HUMANITAS: KETIKA DUNIA KECERDASAN BUATAN MULAI MENDENGARKAN SUARA ETIKA
Ketika Paus Leo XIV menerbitkan ensiklik Magnifica Humanitas pada Mei 2026, dokumen ini segera menempatkan Gereja Katolik di tengah salah satu perdebatan paling menentukan zaman kita: ke mana arah perkembangan kecerdasan buatan dan untuk siapa teknologi itu dikembangkan. Ensiklik tersebut tidak sekadar berbicara tentang teknologi, melainkan mengajukan pertanyaan yang jauh lebih mendasar: apa arti menjadi manusia ketika mesin semakin mampu melakukan pekerjaan yang dahulu dianggap sebagai kekhasan manusia? Tiga bulan setelah penerbitannya, perdebatan mengenai Magnifica Humanitas menunjukkan bahwa dokumen ini semakin memperoleh tempat dalam percakapan publik, termasuk di kalangan pemimpin teknologi dan para pengambil kebijakan. (National Catholic Reporter)
Pada awalnya, tidak semua orang yakin bahwa sebuah ensiklik Gereja dapat memberikan pengaruh nyata terhadap tata kelola kecerdasan buatan. Elham Tabassi dari Brookings Institution, misalnya, meragukan bahwa Magnifica Humanitas akan secara langsung menjadi pendorong lahirnya legislasi atau regulasi baru, meskipun ia mengakui bahwa ensiklik tersebut dapat memengaruhi percakapan penting mengenai kecerdasan buatan. Keraguan semacam ini patut diperhatikan karena memperlihatkan tantangan utama yang dihadapi dokumen tersebut: bagaimana gagasan moral diterjemahkan menjadi kebijakan konkret dalam dunia teknologi yang bergerak sangat cepat. (National Catholic Reporter)
Namun, perkembangan berikutnya justru menunjukkan bahwa pengaruh Magnifica Humanitas tidak semakin surut, melainkan semakin meluas. Dukungan terbaru yang sangat penting datang dari Bill Gates, salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah industri teknologi modern. Dalam tulisannya mengenai bahaya perkembangan kecerdasan buatan yang tidak terkendali, Gates menyatakan bahwa para pemimpin agama mempunyai peranan penting karena mereka secara khusus memikirkan apa artinya menjadi manusia; ia bahkan mengatakan bahwa ia “terpesona” oleh ensiklik Paus Leo XIV dan melihatnya sebagai landasan yang kuat bagi pekerjaan yang masih harus dilakukan. (National Catholic Reporter)
Dukungan Gates mempunyai arti simbolis yang besar. Ia bukan seorang pengamat dari luar dunia teknologi, melainkan salah satu tokoh yang ikut membentuk revolusi digital itu sendiri. Karena itu, ketika seorang tokoh teknologi seperti Gates menemukan nilai penting dalam refleksi seorang Paus mengenai martabat manusia, peristiwa tersebut menunjukkan bahwa pertanyaan etis tidak lagi dapat dianggap sebagai urusan tambahan setelah teknologi dikembangkan. Etika justru semakin diperlukan ketika kemampuan teknologi semakin besar.
Di sinilah Magnifica Humanitas mempunyai kemiripan historis dengan Rerum Novarum yang diterbitkan Paus Leo XIII pada 1891. Jika Rerum Novarum hadir ketika Revolusi Industri sedang mengubah dunia kerja dan struktur ekonomi, Magnifica Humanitas hadir ketika masyarakat memasuki revolusi sosial baru yang didorong oleh kecerdasan buatan. Perbedaannya adalah bahwa revolusi digital berlangsung dengan kecepatan luar biasa dan langsung menjangkau hampir seluruh kehidupan manusia. Karena itu, refleksi mengenai martabat manusia tidak boleh datang terlambat setelah teknologi menguasai kehidupan sosial; refleksi itu harus hadir bersamaan dengan proses pembentukan masa depan teknologi. (National Catholic Reporter)
Perkembangan paling menarik terlihat dari masuknya Magnifica Humanitas ke dalam ruang politik dan kebijakan publik. Ro Khanna, anggota Kongres Amerika Serikat dari California yang daerah pemilihannya mencakup pusat Silicon Valley, setelah bertemu Paus Leo XIV bersama delegasi Kongres, mengirim surat kepada pimpinan Amazon, Anthropic, Apple, Google, Meta, Microsoft, Nvidia, dan OpenAI. Ia meminta perusahaan-perusahaan tersebut menjelaskan bagaimana mereka akan menyelaraskan teknologi mereka dengan prinsip-prinsip ensiklik Paus. (National Catholic Reporter)
Khanna bahkan menyebut Magnifica Humanitas sebagai kerangka etis bagi kecerdasan buatan yang bertumpu pada martabat manusia dan kesetaraan. Ia menegaskan bahwa manusia tidak seharusnya mengejar ilusi untuk menjadi seperti Allah dengan menghapus keterbatasan dan kematian manusia; sebaliknya, kecerdasan buatan seharusnya memperkuat penilaian manusia, kreativitas, dan kebijaksanaan, bukan menggantikannya. Pernyataan tersebut penting karena memperlihatkan bahwa bahasa ensiklik telah mulai diterjemahkan ke dalam pertanyaan yang sangat konkret mengenai arah industri teknologi dan tanggung jawab perusahaan-perusahaan besar. (National Catholic Reporter)
Tentu saja, Magnifica Humanitas tidak diterima tanpa kritik. Peter Thiel bahkan menyerang seruan Paus mengenai regulasi kecerdasan buatan dengan tuduhan yang sangat keras. David Sacks, meskipun menerima prinsip bahwa kecerdasan buatan harus melayani martabat manusia, mempertanyakan pemberian kewenangan yang terlalu besar kepada pemerintah karena khawatir regulasi dapat berubah menjadi alat penyensoran, pengawasan, dan pengendalian warga. Kritik-kritik ini tidak boleh diabaikan, sebab persoalan tata kelola kecerdasan buatan memang mengandung ketegangan nyata antara keselamatan, kebebasan, inovasi, tanggung jawab negara, dan kekuasaan perusahaan teknologi. (National Catholic Reporter)
Namun, justru di tengah kritik itulah kekuatan Magnifica Humanitas semakin terlihat. Ensiklik ini tidak perlu membuat semua orang langsung sepakat; yang lebih penting ialah bahwa ia berhasil mengubah pertanyaan yang harus dibicarakan. Persoalannya bukan hanya “apa yang dapat dilakukan oleh kecerdasan buatan?”, tetapi juga “manusia macam apa yang hendak kita bentuk melalui kecerdasan buatan?” dan “masyarakat macam apa yang akan lahir dari teknologi tersebut?” Dengan demikian, Magnifica Humanitas membawa pembicaraan tentang kecerdasan buatan dari sekadar persoalan kemampuan teknis menuju persoalan martabat, keadilan, kebebasan, tanggung jawab, dan kesejahteraan bersama.
Karena itu, perkembangan dukungan terhadap ensiklik ini patut dicatat secara khusus. Dukungan tidak hanya datang dari kalangan Gereja atau mereka yang sejak awal dekat dengan pemikiran sosial Katolik, tetapi juga mulai muncul dari orang-orang yang berasal dari dunia kecerdasan buatan sendiri dan dari luar dunia teknologi, terutama para pengambil keputusan publik. Bill Gates memberikan suara dari dunia teknologi; Ro Khanna membawa gagasan itu ke ruang politik; sementara sejumlah pemimpin dunia sebelumnya juga telah memberikan perhatian positif terhadap dokumen tersebut. Magnifica Humanitas dengan demikian mulai berfungsi sebagai titik temu antara teknologi, etika, politik, dan kepentingan manusia. (National Catholic Reporter)
Hal ini menunjukkan bahwa nilai sebuah ensiklik tidak selalu dapat diukur dari seberapa cepat ia menghasilkan undang-undang. Pengaruh sebuah dokumen sosial juga dapat terlihat dari kemampuannya membentuk kesadaran, bahasa, pertanyaan, dan kerangka berpikir baru bagi masyarakat. Dalam arti ini, Magnifica Humanitas sedang menjalankan peranan yang penting: mengingatkan bahwa manusia tidak boleh menjadi sekadar bahan baku bagi revolusi teknologi yang diciptakannya sendiri.
Pada akhirnya, pertanyaan terbesar mengenai kecerdasan buatan bukanlah apakah manusia mampu menciptakan mesin yang semakin cerdas, melainkan apakah manusia cukup bijaksana untuk memastikan bahwa kecerdasan tersebut tetap berada dalam pelayanan terhadap manusia. Teknologi harus memperluas kemampuan manusia tanpa menghilangkan tanggung jawab manusia; kecerdasan buatan harus membantu manusia menjadi semakin manusiawi, bukan menjadikan manusia semakin tidak diperlukan. Inilah inti tantangan Magnifica Humanitas: bukan menghentikan kemajuan teknologi, melainkan memastikan bahwa kemajuan teknologi tetap berada dalam horizon martabat manusia dan kebaikan bersama.
Dengan demikian, meskipun kritik terhadap Magnifica Humanitas tetap ada—dan sebagian kritik tersebut bahkan keras—perkembangan tiga bulan pertama setelah penerbitannya memperlihatkan bahwa perhatian terhadap ensiklik ini justru semakin bertumbuh. Dukungan dari Bill Gates dan langkah politik Ro Khanna menunjukkan bahwa suara Paus Leo XIV mulai didengar di tempat-tempat yang sangat menentukan arah masa depan kecerdasan buatan. (National Catholic Reporter) Jika kecenderungan ini terus berkembang, Magnifica Humanitas dapat menjadi salah satu dokumen penting yang membantu dunia menyusun tata kelola kecerdasan buatan yang tidak hanya cerdas secara teknologis, tetapi juga manusiawi secara moral.
Ignatius Ismartono, SJ
Jakarta, September 2026
Sumber tulisan: Justin McLellan, “Bill Gates and Silicon Valley congressman latest to endorse pope's AI encyclical,” National Catholic Reporter, 1 September 2026. National Catholic Reporter – artikel sumber


