MENGAJAR TIDAK SAMA DENGAN MENDIDIK
Refleksi bagi Para Pendidik Indonesia di Zaman Kecerdasan Buatan
Kita hidup dalam zaman ketika pengetahuan berada di ujung jari. Dengan telepon genggam, seorang anak dapat menemukan jawaban atas hampir segala pertanyaan dalam hitungan detik. Dengan kecerdasan buatan, sebuah tulisan dapat dibuat, sebuah persoalan dapat diringkas, sebuah bahasa dapat diterjemahkan, bahkan sebuah jawaban dapat diberikan sebelum seseorang sempat sungguh-sungguh berpikir. Dalam keadaan seperti ini, kita perlu bertanya kembali: untuk apa sekolah? Untuk apa guru? Dan sebenarnya apa arti mendidik?
Pertanyaan ini menjadi semakin penting bagi para pendidik Indonesia. Sebab ada perbedaan yang sangat mendasar antara pengajaran dan pendidikan. Pengajaran terutama berkaitan dengan menyampaikan pengetahuan, konsep, teori, informasi, dan keterampilan. Pendidikan jauh lebih luas. Pendidikan menyentuh manusia seluruhnya: cara berpikir, cara merasa, cara memilih, cara mencintai, cara hidup bersama orang lain, cara mengambil keputusan, dan kemampuan menemukan makna kehidupan.
Dengan kata lain, pengajaran terutama bertanya: “Apa yang harus diketahui?” Pendidikan bertanya lebih dalam: “Menjadi manusia macam apakah anak ini kelak?”
Inilah salah satu pesan penting Magnifica Humanitas, ensiklik Paus Leo XIV yang berbicara mengenai martabat manusia dalam menghadapi perubahan besar yang dibawa oleh teknologi dan kecerdasan buatan.
Sekolah bukan sekadar tempat memindahkan pengetahuan
Dalam Ensiklik Magnifica Humanitas no. 143, Paus Leo XIV melihat sekolah sebagai tempat generasi muda belajar mencari dan mencintai kebenaran, merefleksikan makna kehidupan, dan mengenali martabat setiap pribadi. Sekolah dengan demikian bukan sekadar tempat memindahkan informasi dari kepala guru ke kepala murid.
Guru matematika tentu harus mengajarkan matematika. Guru sejarah harus mengajarkan sejarah. Guru bahasa harus mengajarkan bahasa. Guru agama harus mengajarkan agama. Semua itu penting. Tetapi pendidikan berhenti menjadi pendidikan apabila murid hanya keluar dari sekolah dengan kepala penuh informasi, tetapi tidak tahu untuk apa pengetahuan itu digunakan.
Seorang siswa dapat memperoleh nilai sembilan dalam ujian, tetapi belum tentu memiliki kejujuran. Ia dapat menguasai teknologi, tetapi belum tentu memiliki kebijaksanaan. Ia dapat memenangkan perdebatan, tetapi belum tentu mampu menghormati orang yang berbeda pendapat. Ia dapat memperoleh gelar akademik yang tinggi, tetapi belum tentu tahu bagaimana menjalani hidup yang bermakna.
Di sinilah perbedaan antara mengajar dan mendidik menjadi sangat penting.
Mengajar memberi pengetahuan; mendidik membentuk pribadi
Pengajaran memberikan isi kepada pikiran. Pendidikan membantu membentuk arah hidup.
Pengajaran bertanya apakah siswa memahami sebuah rumus. Pendidikan bertanya apakah ia mampu menggunakan pengetahuannya untuk kebaikan.
Pengajaran mengajarkan bagaimana membuat suatu teknologi. Pendidikan membantu anak bertanya: “Apakah teknologi ini sebaiknya digunakan? Untuk siapa? Dengan akibat apa bagi manusia lain?”
Pengajaran dapat mempersiapkan seseorang untuk mendapatkan pekerjaan. Pendidikan mempersiapkan seseorang untuk menjalani kehidupan secara bertanggung jawab.
Karena itu, di tengah perkembangan kecerdasan buatan, kita tidak boleh menyamakan keberhasilan pendidikan dengan semakin banyaknya pengetahuan yang dapat diperoleh seorang anak. Justru ketika pengetahuan semakin mudah diperoleh, pendidikan manusia menjadi semakin penting.
Kecerdasan buatan mengubah tugas sekolah
Magnifica Humanitas mengingatkan bahwa pendidikan harus berhadapan secara serius dengan perkembangan teknologi. Dalam artikel no. 140, pendidikan mengenai kecerdasan buatan tidak cukup hanya mengajarkan bagaimana menggunakan teknologi. Kita juga perlu belajar kapan dan untuk tujuan apa teknologi itu tidak perlu digunakan.
Gagasan ini sangat penting. Anak harus belajar bahwa tidak setiap persoalan harus segera diberikan kepada kecerdasan buatan. Tidak setiap tugas harus dipercepat. Tidak setiap kesulitan harus segera dihilangkan.
- Ada kesulitan yang justru mendidik.
- Ada pertanyaan yang perlu dibiarkan terbuka.
- Ada buku yang harus dibaca perlahan.
- Ada persoalan yang harus direnungkan.
- Ada jawaban yang harus ditemukan melalui pergulatan pribadi.
Jika seorang siswa selalu meminta kecerdasan buatan memberikan jawaban setiap kali ia mengalami kesulitan, ia mungkin menjadi semakin cepat memperoleh jawaban, tetapi belum tentu menjadi semakin mampu berpikir.
Karena itu, tantangan pendidikan bukan hanya mengajarkan anak menggunakan kecerdasan buatan. Tantangannya adalah membantu anak menggunakan kecerdasan buatan tanpa kehilangan kecerdasannya sendiri.
Guru tidak kalah oleh kecerdasan buatan
Dalam Magnifica Humanitas no. 145, Paus Leo XIV menegaskan bahwa perkembangan teknologi informasi dan kecerdasan buatan menuntut pembaruan kurikulum, ruang belajar, cara penilaian, dan bahkan pemahaman mengenai peran guru. Guru perlu terus belajar agar mampu berdialog secara positif dengan teknologi dan membantu siswa menggunakannya secara bertanggung jawab, kritis, dan kreatif.
Maka kita tidak perlu bertanya, “Apakah kecerdasan buatan akan menggantikan guru?”
Pertanyaan yang lebih tepat adalah: “Apa yang harus dilakukan guru yang tidak dapat dilakukan oleh mesin?"
- Mesin dapat memberikan informasi. Guru membantu anak memahami makna informasi.
- Mesin dapat menghasilkan jawaban. Guru membantu anak belajar mengajukan pertanyaan yang benar.
- Mesin dapat menghitung. Guru membantu manusia mempertimbangkan apa yang pantas dilakukan.
- Mesin dapat menghasilkan teks. Guru membantu anak menemukan suara, tanggung jawab, dan pendiriannya sendiri.
- Mesin dapat bekerja tanpa lelah. Guru hadir sebagai pribadi yang membangun relasi.
Karena itu, masa depan pendidikan bukanlah guru melawan kecerdasan buatan, melainkan guru yang menggunakan teknologi tanpa menyerahkan pendidikan manusia kepada teknologi.
“Higiene perhatian”: pendidikan untuk kebebasan
Di sinilah kita sampai pada salah satu gagasan yang sangat penting dalam no. 146, yaitu perlunya menjaga apa yang dapat disebut sebagai “higiene perhatian”.
Kita mengenal higiene tubuh: mencuci tangan, menjaga kebersihan makanan, tidur cukup, dan menjaga kesehatan. Higiene perhatian mempunyai gagasan yang serupa, tetapi yang dijaga adalah pikiran dan kemampuan manusia untuk memperhatikan.
Hari ini perhatian manusia menjadi sesuatu yang sangat berharga. Telepon genggam, media sosial, video pendek, iklan, pemberitahuan, mesin pencari, dan berbagai sistem digital berlomba-lomba mendapatkan perhatian kita.
Akibatnya, kita dapat duduk di depan sebuah buku selama satu jam, tetapi pikiran kita berpindah-pindah setiap beberapa detik. Masalahnya bukan sekadar bahwa kita terganggu. Masalah yang lebih dalam adalah bahwa kita perlahan-lahan dapat kehilangan kemampuan untuk menentukan sendiri kepada apa kita akan memberikan perhatian.
Di sinilah persoalannya menjadi persoalan pendidikan dan kebebasan. Seseorang yang tidak mampu mengarahkan perhatiannya sendiri akan mudah diarahkan oleh orang lain.
- Jika setiap pemberitahuan membuat kita segera melihat telepon, perhatian kita sedang dikendalikan oleh perangkat.
- Jika setiap judul berita membuat kita segera bereaksi sebelum membaca isinya, perhatian kita sedang dikendalikan oleh arus informasi.
- Jika setiap video pendek membuat kita terus menggeser layar tanpa mampu berhenti, perhatian kita tidak lagi sepenuhnya berada dalam kendali kita.
Karena itu, higiene perhatian sebenarnya adalah latihan kebebasan batin. Kita belajar mengatakan: “Saya memilih kepada apa saya memberikan perhatian.” Bukan: “Apa pun yang muncul di layar, saya harus memperhatikannya.”
Pendidikan harus mengajarkan kemampuan berhenti
Dalam Magnifica Humanitas no. 146, Paus Leo XIV memperingatkan bahwa banyaknya informasi tidak dengan sendirinya menghasilkan kebijaksanaan. Pendidikan membutuhkan penelitian, refleksi, discernment, membaca secara mendalam, dialog, dan keheningan. Ini merupakan tantangan besar bagi pendidikan Indonesia.
Anak-anak kita hidup dalam dunia yang penuh suara: pemberitahuan, video, pesan, iklan, komentar, permainan, berita, dan berbagai arus informasi. Mereka dapat berpindah dari satu informasi ke informasi lain tanpa pernah berhenti cukup lama untuk bertanya: “Apa artinya semua ini?”
Karena itu sekolah harus menjadi tempat yang berbeda dari sekadar dunia digital. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar berhenti. Berhenti agar dapat membaca. Berhenti agar dapat mendengarkan. Berhenti agar dapat berpikir. Berhenti agar dapat bertanya. Berhenti agar dapat berdialog. Dan, bila perlu, berhenti agar dapat diam. Berhenti bukan tujuan akhir. Berhenti adalah ruang yang memungkinkan manusia kembali membaca, mendengarkan, berpikir, bertanya, berdialog, dan akhirnya menemukan keheningan.
Keheningan bukan waktu yang terbuang. Keheningan adalah ruang tempat pikiran bekerja dan hati nurani berbicara. Manusia tidak menjadi bijaksana karena menerima semakin banyak informasi. Manusia menjadi bijaksana ketika ia mampu mengolah informasi menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi kebijaksanaan, dan kebijaksanaan menjadi tindakan yang bertanggung jawab.
Jangan sampai sekolah hanya menghasilkan “orang pintar”
Inilah bahaya pendidikan yang hanya mengejar prestasi akademik.
- Kita dapat menghasilkan anak-anak yang pandai mengerjakan soal, tetapi tidak mampu mengambil keputusan moral.
- Kita dapat menghasilkan lulusan dengan banyak sertifikat, tetapi miskin kepedulian sosial.
- Kita dapat menghasilkan manusia yang sangat kompeten secara teknis, tetapi tidak memiliki kepekaan terhadap penderitaan sesamanya.
- Kita dapat menghasilkan orang yang mampu menciptakan teknologi, tetapi tidak pernah bertanya apakah teknologi itu menghormati martabat manusia.
Maka pendidikan yang baik tidak cukup menghasilkan orang pintar. Pendidikan harus menghasilkan manusia yang bijaksana. Pendidikan bukan hanya urusan sekolah
Dalam artikel no. 147, Magnifica Humanitas berbicara tentang perlunya “aliansi pendidikan yang diperbarui” antara keluarga, sekolah, komunitas Kristiani, dan lembaga-lembaga publik. Pendidikan harus membentuk kebebasan dan tanggung jawab, perhatian kepada sesama dan generasi mendatang, kesadaran akan transendensi, serta orientasi kepada kebaikan bersama.
Dengan demikian, mendidik bukan hanya tugas guru. Orang tua mendidik. Guru mendidik. Dosen mendidik. Masyarakat mendidik. Media mendidik. Lingkungan digital juga mendidik. Pertanyaannya kemudian bukan hanya “Apa yang diajarkan sekolah?”, tetapi juga “Nilai-nilai apa yang sedang dipelajari anak dari seluruh lingkungan hidupnya?”
Seorang guru dapat mengajarkan kejujuran selama satu jam. Tetapi jika anak melihat kebohongan, korupsi, kekerasan verbal, manipulasi, dan ketidakadilan setiap hari di sekelilingnya, ia menerima pelajaran lain yang mungkin jauh lebih kuat. Karena itu pendidikan adalah tanggung jawab bersama.
Sekolah tidak perlu berlari mengikuti kecepatan dunia digital
Salah satu tantangan terbesar pendidikan adalah godaan untuk selalu mengejar yang terbaru: perangkat terbaru, aplikasi terbaru, metode terbaru, dan kecerdasan buatan terbaru.
Padahal sekolah tidak harus menjadi tempat yang paling cepat. Sekolah harus menjadi tempat yang paling manusiawi. Sekolah harus menyediakan waktu untuk belajar dan relasi yang dapat dipercaya. Di sana seorang anak boleh melakukan kesalahan tanpa dipermalukan. Di sana ia belajar mendengarkan orang lain. Di sana ia menemukan guru yang bukan hanya mengetahui sesuatu, tetapi sungguh-sungguh peduli kepadanya. Di sana ia belajar bahwa keberhasilan bukan hanya tentang menjadi yang pertama, tetapi juga tentang membantu orang lain agar dapat maju bersama. Di sana ia belajar bahwa ilmu pengetahuan bukan hanya alat untuk memperoleh pekerjaan dan penghasilan, tetapi juga panggilan untuk melayani kehidupan dan kebaikan bersama.
Dari informasi menuju kebijaksanaan
Kita dapat melihat perjalanan pendidikan manusia dalam sebuah rangkaian sederhana:
Informasi → perhatian → pemahaman → refleksi → penilaian → kebijaksanaan → tindakan.
Kecerdasan buatan sangat kuat dalam menyediakan informasi dan dapat membantu manusia memahami sesuatu. Tetapi manusia tetap harus menjalani tahap refleksi, penilaian moral, kebijaksanaan, dan keputusan.
Karena itu pendidikan tidak boleh berhenti pada pertanyaan: “Apakah siswa tahu?” Ia harus bergerak kepada: “Apakah siswa memahami?” Lalu: “Apakah ia mampu membedakan yang benar dari yang salah?” Dan akhirnya: “Apakah ia mampu menggunakan pengetahuannya demi kebaikan?”
Di sinilah pendidikan berbeda dari sekadar pengajaran.
Kepada para pendidik Indonesia
Maka kepada para guru, dosen, kepala sekolah, pengelola pendidikan, orang tua, dan semua yang terlibat dalam pendidikan di Indonesia, Magnifica Humanitas mengajukan sebuah pertanyaan sederhana tetapi mendasar: Apakah kita hanya sedang mengajar anak-anak, atau sungguh-sungguh sedang mendidik mereka?
- Mengajar membuat mereka mengetahui. Mendidik membantu mereka memahami.
- Mengajar memberi keterampilan. Mendidik membentuk karakter.
- Mengajar mempersiapkan mereka menghadapi ujian. Mendidik mempersiapkan mereka menghadapi kehidupan.
- Mengajar dapat membuat seseorang kompeten. Mendidik membantu seseorang menjadi manusia.
Di tengah kemajuan kecerdasan buatan, perbedaan ini menjadi semakin penting. Justru ketika mesin semakin mampu melakukan pekerjaan yang dahulu dilakukan manusia, pendidikan harus semakin serius melakukan apa yang tidak boleh direduksi menjadi pekerjaan mesin: membentuk hati nurani, kebebasan, tanggung jawab, kemampuan mencintai, kemampuan hidup bersama, dan keberanian mencari kebenaran.
Maka janganlah kita takut bahwa kecerdasan buatan akan membuat guru tidak diperlukan. Yang harus kita takutkan justru sebaliknya: jangan sampai kita memiliki sekolah yang sangat modern, teknologi yang sangat canggih, dan siswa yang sangat pintar, tetapi kehilangan pendidikan yang membuat mereka sungguh-sungguh manusia. Sebab pada akhirnya, tujuan pendidikan bukanlah menciptakan manusia yang mampu mengetahui segala sesuatu.
Tujuan pendidikan adalah membantu manusia mengetahui apa yang benar, mencintai apa yang baik, menghargai martabat setiap orang, mampu menjaga perhatiannya, dan berani melakukan apa yang benar demi kebaikan bersama. Itulah tantangan pendidikan Indonesia di zaman kecerdasan buatan.
Dan itulah pula panggilan mulia para pendidik: bukan hanya mengisi kepala manusia dengan pengetahuan, tetapi membantu membentuk manusia yang bebas, bijaksana, bertanggung jawab, dan mampu menggunakan pengetahuannya untuk kehidupan.
I. Ismartono, SJ
Sahabat Insan
September 2026


