DARI REGIMINI MILITANTIS ECCLESIAE MENUJU UAP: MENJADI GEREJA YANG BERJUANG DI ZAMAN INI

1. Diresmikan dengan Regimini Militantis Ecclesiae
Pada 27 September 1540, Paus Paulus III mengesahkan Serikat Yesus melalui bulla Regimini militantis Ecclesiae. Dengan pengesahan ini, Serikat Yesus yang didirikan oleh Santo Ignatius Loyola dan para sahabatnya secara resmi diterima dalam Gereja. Sejak awal, Serikat Yesus lahir bukan terutama untuk membangun dirinya sendiri, melainkan untuk diutus. Identitasnya dibentuk oleh kesiapsediaan untuk pergi ke mana pun diperlukan, melayani Gereja dan manusia, terutama ketika zaman menghadirkan tantangan baru bagi iman dan kehidupan.
Karena itu, tanggal 27 September mempunyai makna khusus bagi Serikat Yesus. Ia mengingatkan bahwa Serikat lahir dari sebuah panggilan untuk berjuang dan diutus.
2. Apa arti militantis?
Kata militantis berasal dari bahasa Latin militare, yang berarti berjuang, bertempur, menjalankan tugas sebagai seorang prajurit. Tetapi militantis dalam konteks Gereja tidak boleh dipahami sebagai ajakan kepada kekerasan atau peperangan fisik. Ecclesia militans menunjuk pada Gereja yang berada dalam perjuangan rohani dan historis: melawan dosa, ketidakadilan, kebohongan, egoisme, penindasan, dan segala sesuatu yang merendahkan martabat manusia serta merusak ciptaan.
Dengan demikian, militantis bukan pertama-tama menunjuk pada melawan seseorang, melainkan berjuang untuk sesuatu: untuk Kerajaan Allah, kebenaran, keadilan, perdamaian, martabat manusia, dan keutuhan ciptaan. Dalam semangat Ignatian, perjuangan itu juga menuntut discernment: kemampuan membaca tanda-tanda zaman, mengenali di mana Allah sedang bekerja, dan kemudian mengambil keputusan untuk ikut serta dalam karya-Nya. Maka, menjadi militantis berarti memiliki hati yang siap diutus dan tangan yang siap bekerja.
3. Pada zaman ini, militantis diungkapkan dalam UAP
Lima abad kemudian, konteks dunia telah berubah secara radikal. Tantangannya bukan lagi tantangan abad XVI. Ada kemiskinan struktural, migrasi, perang, ketidakadilan ekonomi, krisis ekologis, perkembangan teknologi dan Kecerdasan Buatan, polarisasi sosial, serta berbagai bentuk baru dehumanisasi. Dalam konteks itulah Serikat Yesus merumuskan Universal Apostolic Preferences (UAP) 2019–2029 sebagai empat orientasi apostolik universal: Menunjukkan jalan menuju Allah melalui discernment dan Latihan Rohani.
Berjalan bersama kaum miskin dan mereka yang terpinggirkan, serta bekerja demi rekonsiliasi dan keadilan. Mendampingi kaum muda dalam menciptakan masa depan yang penuh harapan. Bekerja sama dalam merawat Rumah Kita Bersama, terutama melalui pertobatan ekologis dan rekonsiliasi dengan ciptaan. Dengan demikian, semangat militantis tidak berhenti sebagai warisan sejarah tahun 1540. Ia memperoleh wajah konkret dalam UAP.
Kalau dahulu pertanyaannya adalah, “Ke mana Gereja mengutus kita?”, maka hari ini pertanyaannya menjadi: “Di mana perjuangan manusia dan ciptaan paling membutuhkan kehadiran kita?”
4. Salah satu medan perjuangan itu adalah kaum pinggiran: mereka yang menjadi korban
Di sinilah UAP memperoleh wajah yang sangat konkret. Kaum pinggiran bukan sekadar sebuah kategori statistik. Mereka adalah manusia dengan nama, wajah, keluarga, tanah, rumah, sejarah, dan harapan. Mereka adalah orang miskin yang tidak mempunyai akses yang sama terhadap sumber daya; mereka yang terpaksa meninggalkan rumah karena konflik atau pembangunan; masyarakat adat yang kehilangan ruang hidup; petani kecil yang tanahnya terdesak; nelayan yang lautnya tercemar; perempuan dan anak-anak yang menanggung akibat krisis; lansia dan kelompok rentan yang tidak mempunyai daya tawar; serta mereka yang hidup di wilayah yang mengalami kerusakan ekologis tetapi paling sedikit menikmati keuntungan ekonomi dari eksploitasi alam.
Di sinilah kita menemukan hubungan yang sangat dalam antara kaum pinggiran dan kerusakan lingkungan. Kerusakan alam tidak pernah hanya menjadi persoalan “alam”. Ketika hutan dihancurkan, sungai tercemar, tanah rusak, laut dieksploitasi, atau iklim berubah, ada manusia yang menerima akibatnya. Karena itu, perjuangan ekologis sekaligus merupakan perjuangan sosial.
Inilah yang sering disebut sebagai jeritan bumi dan jeritan kaum miskin. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Sahabat Insan: hadir bersama mereka yang menjadi korban Dalam semangat inilah Sahabat Insan berusaha menghidupi panggilan untuk memperhatikan mereka yang menjadi korban dan mereka yang terpinggirkan.
Perhatian tersebut tidak berhenti pada rasa iba. Perhatian berarti melihat, mendengarkan, mendekati, memahami, dan berjalan bersama mereka yang sering kali tidak mempunyai suara dan tidak mempunyai kekuatan yang cukup untuk memperjuangkan haknya sendiri.
Sahabat Insan berusaha menempatkan manusia yang menjadi korban bukan sebagai “objek pertolongan”, melainkan sebagai subjek yang mempunyai martabat, suara, pengalaman, dan hak untuk menentukan masa depannya sendiri. Di sinilah semangat militantis memperoleh bentuk yang konkret: hadir di tempat kehidupan sedang terluka.
Bukan hanya bertanya, “Apa yang dapat kita berikan kepada mereka?”, tetapi juga:
- “Apa yang terjadi pada mereka?”
- “Mengapa mereka menjadi korban?”
- “Siapa yang tidak mempunyai suara?”
- “Struktur apa yang menyebabkan mereka tersingkir?”
- “Dan bersama mereka, perubahan macam apa yang perlu diperjuangkan?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mengubah pelayanan dari sekadar charity menjadi perjalanan menuju solidaritas, keadilan, dan rekonsiliasi. Dengan demikian, perhatian kepada korban bukanlah tambahan kecil dalam spiritualitas. Ia merupakan salah satu cara konkret untuk menghidupi panggilan Gereja yang militans: berdiri bersama kehidupan ketika kehidupan itu sedang terancam.
Dari “militantis” menuju solidaritas. Maka, Regimini militantis Ecclesiae tidak perlu dibaca hanya sebagai dokumen sejarah dari tahun 1540. Semangatnya terus mencari bentuk baru sesuai dengan tantangan setiap zaman.
Pada zaman ini, bentuk tersebut antara lain dinyatakan dalam UAP: mencari Allah, berjalan bersama mereka yang miskin dan tersingkir, mendampingi kaum muda, dan merawat Rumah Kita Bersama. Dan dalam konteks konkret Sahabat Insan, semangat itu menemukan salah satu wajahnya dalam perhatian kepada para korban dan mereka yang terpinggirkan.
Sebab, Gereja yang militans bukanlah Gereja yang sibuk menunjukkan kekuatannya. Gereja yang militans adalah Gereja yang berani mendekati mereka yang terluka.
- Ia melihat apa yang sering tidak dilihat orang lain.
- Ia mendengar suara yang sering tidak terdengar.
- Ia berdiri bersama mereka yang sering berdiri sendirian.
- Ia berjalan bersama mereka yang tersingkir dari jalan utama pembangunan.
Dan akhirnya, ia bertanya bukan hanya: “Di pihak siapa kita berdiri?” melainkan lebih dalam: “Di mana kehidupan sedang terluka, dan apakah kita bersedia hadir di sana?”. Di situlah militantis menjadi praksis. Di situlah UAP menjadi kehadiran. Dan di situlah Sahabat Insan berusaha menghidupi semangatnya: menjadi sahabat bagi manusia yang terluka, terpinggirkan, dan menjadi korban.
(Jakarta, September 2026 – Sahabat Insan, Ignatius Ismartono, SJ)


