KECERDASAN BUATAN, KECERDASAN MANUSIA, DAN PERDEBATAN TENTANG MORALITAS

KECERDASAN BUATAN, KECERDASAN MANUSIA, DAN PERDEBATAN TENTANG MORALITAS

Menanggapi video “The Pope’s Screed Against Human Intelligence
Ben Bayer & Connor O’Leary — Ayn Rand Institute
Dipublikasikan di YouTube: 11 Juni 2026
Direkam: 5 Juni 2026

 

AI: Ancaman atau Prestasi Kecerdasan Manusia?

Video The Pope’s Screed Against Human Intelligence yang dibawakan oleh Ben Bayer dan Connor O’Leary dari Ayn Rand Institute merupakan kritik filosofis terhadap cara Paus Leo XIV memandang kecerdasan buatan dalam ensiklik Magnifica Humanitas. Video ini bukan sekadar perbincangan tentang teknologi baru, melainkan sebuah perdebatan mengenai manusia, akal budi, kebebasan, moralitas, dan arah masa depan peradaban.

Bayer dan O’Leary mengakui bahwa ensiklik Paus mengajukan pertanyaan-pertanyaan penting mengenai perkembangan kecerdasan buatan. Mereka tidak menolak kenyataan bahwa AI dapat menimbulkan persoalan serius. Namun, mereka menilai bahwa Paus memulai dari titik berangkat yang keliru. Menurut mereka, perhatian yang terlalu besar terhadap bahaya AI membuat kita kurang melihat kenyataan bahwa kecerdasan buatan merupakan hasil dari kemampuan intelektual dan produktif manusia.

AI, dalam pandangan mereka, tidak muncul dari ruang kosong. Ia merupakan hasil dari kecerdasan manusia yang mampu berpikir, menemukan, menghitung, menciptakan, dan mengembangkan teknologi. Karena itu, kemampuan menciptakan AI seharusnya tidak pertama-tama dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai salah satu bukti mengenai kemampuan luar biasa manusia.

 

Kritik terhadap Sikap yang Terlalu Pesimistis

Menurut Bayer dan O’Leary, ensiklik Paus terlalu menekankan risiko AI dan kurang memberikan perhatian pada peluang yang dibawanya. Mereka mempertanyakan mengapa AI harus dilihat terutama melalui lensa ketakutan, ketimpangan, eksploitasi, dan kehilangan pekerjaan.

Dalam sejarah manusia, teknologi memang berkali-kali menggantikan pekerjaan tertentu. Mesin menggantikan sebagian tenaga manusia, komputer mengubah pekerjaan kantor, dan internet mengubah cara manusia berkomunikasi serta bekerja. Namun, teknologi juga menciptakan berbagai kemungkinan baru. Karena itu, menurut mereka, hilangnya pekerjaan tertentu tidak dengan sendirinya berarti hilangnya nilai manusia.

Pertanyaan yang lebih tepat bukanlah semata-mata, “Apakah AI mengancam manusia?”, melainkan “Bagaimana manusia dapat menggunakan AI secara rasional untuk memperluas kemampuan manusia?”

 

Dari Mana Moralitas Berasal?

Perdebatan kemudian bergerak dari teknologi menuju persoalan moralitas. Inilah bagian yang paling fundamental dari kritik Ayn Rand Institute.

Menurut Bayer dan O’Leary, argumentasi Paus terlalu bergantung pada moralitas agama dan otoritas religius. Mereka mempertanyakan apakah prinsip-prinsip moral dapat diterima secara universal apabila dasarnya adalah iman.

Bagi mereka, moralitas harus mempunyai dasar rasional yang dapat dipahami manusia tanpa harus terlebih dahulu menerima suatu keyakinan agama. Karena itu mereka mengusulkan apa yang mereka pandang sebagai moralitas rasional dan sekuler.

Dalam kerangka Objectivisme Ayn Rand, manusia adalah makhluk rasional yang harus menggunakan akal budinya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupannya. Moralitas tidak terutama berarti kewajiban untuk mengorbankan diri demi orang lain.

 

Individu, Kepentingan Diri, dan Kebebasan

Di sinilah perbedaan antara Objectivisme dan pandangan sosial Gereja menjadi sangat jelas.

Objectivisme menempatkan individu, rasionalitas, kebebasan, produktivitas, dan kepentingan diri yang rasional pada posisi yang sangat penting. Manusia tidak seharusnya merasa bersalah karena menghasilkan kekayaan, memperoleh keuntungan, menciptakan teknologi, atau mengejar kehidupan yang baik.

Menurut perspektif ini, keuntungan dan produksi bukanlah sesuatu yang secara moral mencurigakan. Justru kemampuan manusia menghasilkan sesuatu yang bernilai merupakan bagian dari keunggulan manusia sebagai makhluk rasional.

Karena itu, masyarakat membutuhkan sistem moral dan politik yang memungkinkan manusia berpikir, mencipta, bekerja, berproduksi, dan berinovasi secara bebas.

 

AI sebagai Produk Kecerdasan Manusia

Salah satu kritik paling tajam dalam video tersebut adalah bahwa kekhawatiran berlebihan terhadap AI dapat berubah menjadi ketidakpercayaan terhadap kecerdasan manusia sendiri.

AI adalah hasil kerja manusia. Manusia menciptakan algoritma, komputer, jaringan, pusat data, model bahasa, dan berbagai sistem yang memungkinkan AI bekerja. Maka, melihat AI semata-mata sebagai lawan manusia berarti mengabaikan asal-usul AI itu sendiri.

Dalam perspektif Ayn Rand, manusia tidak perlu takut kepada kecerdasannya sendiri. Sebaliknya, manusia perlu mengembangkan kecerdasannya dan menggunakan teknologi yang diciptakannya untuk memperluas kemungkinan hidup.

 

Bagaimana dengan Pekerjaan Manusia?

Masalah pekerjaan menjadi salah satu titik penting dalam perdebatan.

AI memang dapat menggantikan sejumlah pekerjaan atau mengubah cara pekerjaan dilakukan. Namun, menurut perspektif yang dikemukakan dalam video, hal tersebut bukan alasan yang cukup untuk menolak teknologi.

Setiap revolusi teknologi telah mengubah struktur pekerjaan. Yang hilang bukan seluruh pekerjaan manusia, melainkan jenis pekerjaan tertentu. Pada saat yang sama, muncul berbagai pekerjaan dan kemungkinan baru.

Karena itu, tantangan utamanya bukan menghentikan kemajuan teknologi, melainkan membantu manusia beradaptasi terhadap perubahan tersebut.

 

Teknologi, Ketimpangan, dan Kekuasaan Ekonomi

Bayer dan O’Leary juga mengkritik kecenderungan untuk menghubungkan AI dengan ketimpangan sosial, eksploitasi ekonomi, dan dominasi kelompok kaya atas kelompok miskin.

Menurut mereka, pendekatan seperti itu terlalu mudah menjadikan teknologi sebagai arena pertentangan antara “yang kaya” dan “yang miskin”. Mereka lebih memilih melihat persoalan dari sudut kebebasan individu dan sistem politik yang memungkinkan inovasi berkembang.

Namun, di sinilah muncul pertanyaan penting yang juga tidak boleh diabaikan: siapa yang memiliki AI, siapa yang menguasainya, siapa yang memperoleh manfaatnya, dan siapa yang menanggung risikonya?

Pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa persoalan AI memang tidak hanya bersifat teknis. Ia juga mempunyai dimensi ekonomi, politik, sosial, dan moral.

 

Kebebasan Tidak Sama dengan Tanpa Tanggung Jawab

Perdebatan ini akhirnya membawa kita pada pengertian mengenai kebebasan.

Dalam Objectivisme, kebebasan sangat erat dengan kemampuan individu menggunakan akal budi dan menentukan kehidupannya sendiri. Manusia harus diberi ruang untuk berpikir, mencipta, menghasilkan sesuatu, dan mengambil keputusan.

Sementara itu, pandangan sosial Gereja menempatkan kebebasan dalam konteks relasi. Manusia bukan individu yang hidup sendirian. Ia selalu hidup bersama orang lain dan karena itu memiliki tanggung jawab terhadap sesamanya.

Dengan demikian, perbedaan kedua perspektif tersebut bukan terutama mengenai apakah manusia boleh bebas. Keduanya sama-sama menghargai manusia. Perbedaannya adalah bagaimana kebebasan manusia dipahami dan kepada siapa kebebasan itu harus dipertanggungjawabkan.

 

Dua Gambaran tentang Manusia

Pada akhirnya, perdebatan tentang AI ternyata merupakan perdebatan tentang antropologi filosofis, tentang siapa dan apakah manusia itu.

Bagi Ayn Rand, manusia terutama adalah individu rasional yang mempunyai kemampuan untuk menggunakan akal budi, mempertahankan hidup, menghasilkan nilai, dan menentukan kehidupannya sendiri.

Dalam perspektif Paus Leo XIV, manusia tidak dapat dipahami hanya sebagai individu yang rasional dan bebas. Manusia juga merupakan pribadi yang hidup dalam relasi, memiliki martabat, membutuhkan solidaritas, dan mempunyai tanggung jawab terhadap sesamanya serta masyarakat.

Perbedaan ini kemudian menentukan bagaimana keduanya melihat AI.

Bagi Objectivisme, AI terutama merupakan salah satu hasil terbesar dari kemampuan manusia untuk berpikir dan mencipta.

Bagi Paus, kemampuan teknis manusia justru menuntut pertanyaan moral yang lebih mendalam: apakah apa yang dapat dilakukan manusia juga selalu merupakan sesuatu yang seharusnya dilakukan manusia?

 

Di Mana Kritik Ayn Rand Perlu Didengarkan?

Kritik dalam video tersebut memiliki satu kekuatan penting: ia mengingatkan manusia agar tidak kehilangan kepercayaan terhadap kemampuan akal budi.

Ketakutan terhadap teknologi memang dapat menjadi penghambat kemajuan. Manusia tidak boleh melihat setiap inovasi sebagai ancaman. AI dapat membantu manusia dalam ilmu pengetahuan, pendidikan, kesehatan, komunikasi, penelitian, dan berbagai bidang kehidupan lainnya.

Karena itu, penting untuk menghindari sikap teknologi-fobia. Manusia tidak perlu takut terhadap kecerdasannya sendiri.

 

Di Mana Kritik terhadap Objectivisme Perlu Diajukan?

Namun, pertanyaan sebaliknya juga penting: apakah segala sesuatu yang dapat diciptakan manusia otomatis baik bagi manusia?

Jawabannya tentu tidak.

Kemampuan teknis untuk menciptakan sesuatu tidak otomatis memberikan jawaban mengenai bagaimana sesuatu itu harus digunakan. Manusia dapat menciptakan teknologi yang sangat kuat, tetapi justru karena kekuatan tersebut diperlukan pertimbangan etis.

AI dapat meningkatkan produktivitas, tetapi juga dapat memperbesar ketimpangan. AI dapat membantu pekerja, tetapi juga dapat menggantikan sebagian pekerjaan. AI dapat memperluas akses pengetahuan, tetapi juga dapat digunakan untuk manipulasi, pengawasan, atau penyebaran informasi yang menyesatkan.

Karena itu, persoalan AI bukan hanya “Apa yang dapat dilakukan teknologi?”, tetapi juga “Untuk apa teknologi itu digunakan, oleh siapa, dan demi kepentingan siapa?”

 

AI dan Masa Depan Manusia

Di sinilah perdebatan antara Ayn Rand Institute dan Paus Leo XIV menjadi menarik. Keduanya sebenarnya mengingatkan manusia pada dua bahaya yang berbeda.

Ayn Rand Institute memperingatkan bahaya ketika manusia kehilangan kepercayaan terhadap akal budi, kebebasan, kreativitas, produksi, dan inovasi.

Paus memperingatkan bahaya ketika manusia begitu percaya kepada kemampuan teknologinya sehingga lupa bahwa teknologi harus tunduk pada martabat manusia dan kebaikan bersama.

Keduanya mengajukan pertanyaan yang berbeda karena keduanya berangkat dari pemahaman yang berbeda mengenai manusia.

 

Bukan Manusia versus AI

Karena itu, persoalan AI seharusnya tidak dirumuskan sebagai pertentangan sederhana antara manusia versus mesin.

AI tidak berdiri di luar manusia. AI adalah hasil kreativitas manusia. Namun, setelah diciptakan, AI dapat memengaruhi kembali kehidupan manusia, cara manusia bekerja, berpikir, berkomunikasi, belajar, dan mengambil keputusan.

Karena itu, manusia membutuhkan dua hal sekaligus: kepercayaan terhadap akal budi dan kebijaksanaan moral dalam menggunakan akal budi tersebut.

Manusia tidak boleh takut terhadap kecerdasannya sendiri. Tetapi manusia juga tidak boleh begitu terpesona oleh keberhasilan teknologinya sehingga berhenti bertanya tentang tujuan hidupnya.

 

Pertanyaan yang Lebih Dalam

Pada akhirnya, perdebatan yang ditampilkan dalam The Pope’s Screed Against Human Intelligence bukan hanya perdebatan tentang kecerdasan buatan. Ia merupakan perdebatan tentang akal budi dan iman, kebebasan dan tanggung jawab, individu dan masyarakat, produksi dan keadilan, inovasi dan martabat manusia.

Pertanyaan paling penting bukan apakah manusia harus memilih antara AI dan manusia. Pertanyaannya adalah: manusia macam apakah yang hendak kita bentuk melalui teknologi yang kita ciptakan?

AI dapat menjadi alat untuk memperluas kemampuan manusia. Tetapi AI juga dapat memperbesar kelemahan manusia apabila digunakan tanpa kebijaksanaan dan tanggung jawab.

Karena itu, tantangan masa depan bukan menghentikan kecerdasan buatan dan bukan pula menyerahkan masa depan kepada kecerdasan buatan. Tantangannya adalah memastikan agar kecerdasan buatan tetap berada dalam pelayanan terhadap manusia.

Manusia tidak boleh kehilangan kepercayaan terhadap akal budinya. Namun, manusia juga harus terus bertanya untuk apa akal budi itu digunakan.

Pada titik inilah perdebatan antara Ayn Rand Institute dan Paus Leo XIV menjadi sangat relevan. Ayn Rand mengingatkan kita untuk percaya kepada kemampuan manusia untuk berpikir, mencipta, dan berinovasi. Paus mengingatkan kita agar kemampuan tersebut tidak dipisahkan dari martabat manusia, solidaritas, tanggung jawab, dan kebaikan bersama.

Mungkin justru di antara kedua pertanyaan itulah tantangan terbesar zaman kecerdasan buatan berada: bagaimana mempertahankan kebebasan dan kreativitas manusia sekaligus memastikan bahwa kecerdasan yang kita ciptakan tidak membuat manusia kehilangan kemanusiaannya.

 

Sumber tanggal penerbitan: episode tersebut tercatat 11 Juni 2026, sementara keterangannya menyebut episode direkam pada 5 Juni 2026. (Ivy.fm)