MASIHKAH KITA PRIMITIF DALAM MENGHARGAI MANUSIA?
Melalui refleksi Prasasti Kulamuwa, artikel ini menegaskan bahwa peradaban sejati dan nilai-nilai ajaran agama (Islam dan Kristen) menolak perbudakan modern serta eksploitasi ekonomi, karena manusia diciptakan mulia dan memiliki martabat yang tidak dapat diperjualbelikan.
Seorang gadis dapat ditukar dengan seekor domba.
Sebuah Renungan tentang
Prasasti Kulamuwa, Perbudakan Modern, dan Martabat Manusia
Hampir tiga ribu tahun yang lalu, Raja Kulamuwa dari Sam'al (abad ke-9 SM) mengukir sebuah kalimat yang hingga kini mengguncang hati kita. Dalam prasasti Fenisia itu ia membanggakan kemakmuran kerajaannya dengan berkata:
“He gave me a maid for the price of a sheep, and a man for the price of a garment.”
"Ia memberiku seorang gadis seharga seekor domba, dan seorang laki-laki seharga sehelai pakaian."
Kalimat itu bukan sekadar catatan sejarah. Ia membuka cara berpikir sebuah zaman: manusia mempunyai harga. Seorang gadis dapat disamakan nilainya dengan seekor domba; seorang laki-laki dengan sehelai pakaian. Manusia menjadi komoditas.
Kita mungkin merasa bahwa dunia seperti itu telah lama berlalu. Kita hidup pada abad ke-21, memiliki Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, konvensi internasional, kecerdasan buatan, dan teknologi yang luar biasa. Namun, benarkah cara pandang kita telah berubah?
Menurut berbagai laporan internasional, puluhan juta orang di dunia saat ini masih hidup dalam perbudakan modern: diperdagangkan, dieksploitasi secara seksual, dipaksa bekerja, dijerat utang, diperdagangkan organ tubuhnya, atau diperbudak dalam berbagai bentuk yang tersembunyi. Pasar budak memang telah hilang, tetapi logika pasar budak masih hidup. Dahulu seorang gadis dihargai seekor domba; sekarang manusia dihargai menurut keuntungan, upah murah, atau nilai transaksi.
Di sinilah letak keprimitifan kita. Primitif bukan karena hidup tanpa teknologi, melainkan karena gagal melihat martabat manusia. Kita mungkin modern dalam teknologi, tetapi masih kuno dalam hati ketika manusia diperlakukan sebagai alat produksi, objek eksploitasi, atau angka dalam neraca keuntungan.
Baik Kekristenan maupun Islam berdiri teguh menolak cara pandang seperti itu.
Kitab Suci mengajarkan:
"Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya." (Kejadian 1:27)
Karena diciptakan menurut gambar Allah, manusia memiliki martabat yang tidak dapat dibeli atau dijual. Yesus Kristus memperlakukan setiap orang orang miskin, perempuan, orang asing, dan mereka yang disingkirkan sebagai pribadi yang layak dihormati, bukan sebagai alat. Demikian pula Al-Qur'an menegaskan:
"Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak-anak Adam." (QS. Al-Isra' [17]: 70)
Kemuliaan itu berasal dari Allah sendiri, bukan dari kekayaan, kekuasaan, atau status sosial. Karena itu, manusia tidak boleh direduksi menjadi barang dagangan. Pada masa Nabi Muhammad, perbudakan memang masih merupakan kenyataan sosial. Namun Islam mendorong pembebasan budak sebagai amal yang mulia (QS. Al-Balad [90]: 13) dan Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Saudara-saudaramu yang menjadi pelayanmu telah Allah jadikan berada di bawah kekuasaanmu. Maka berilah mereka makan sebagaimana kamu makan dan pakaian sebagaimana kamu berpakaian." (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Baik Injil maupun Al-Qur'an mengajak manusia meninggalkan logika yang mengukur nilai seseorang berdasarkan manfaat ekonominya. Di sinilah Prasasti Kulamuwa menjadi cermin bagi zaman kita. Jangan-jangan kita memang tidak lagi menukar seorang gadis dengan seekor domba, tetapi kita masih menukar martabat manusia dengan keuntungan ekonomi, devisa negara, efisiensi produksi, atau kenyamanan hidup kita sendiri. Ketika pekerja migran dieksploitasi, perempuan diperdagangkan, anak-anak dipaksa bekerja, atau korban perdagangan manusia diperlakukan hanya sebagai angka statistik, sesungguhnya kita sedang menghidupkan kembali logika Kulamuwa: manusia mempunyai harga.
Padahal, baik iman Kristiani maupun Islam mengajarkan sebaliknya: manusia mempunyai martabat. Peradaban sejati tidak diukur dari kecanggihan teknologi, besarnya investasi, atau tingginya pertumbuhan ekonomi. Peradaban sejati diukur dari kesediaan kita mengakui bahwa tidak ada seorang pun yang dapat diberi harga. Seorang anak tidak seharga seekor domba. Seorang perempuan tidak seharga sejumlah uang. Seorang pekerja migran tidak seharga devisa yang dihasilkannya.
Jika masih ada manusia yang diperdagangkan, dieksploitasi, atau diperlakukan sebagai komoditas, maka sesungguhnya kita belum sepenuhnya meninggalkan dunia Kulamuwa. Pertanyaan yang harus kita ajukan kepada diri sendiri bukanlah, "Apakah kita hidup di zaman modern?", melainkan, "Apakah kita sudah sungguh menjadi manusia yang beradab?"
Sebab manusia tidak pernah memiliki harga. Manusia hanya memiliki martabat - martabat yang dianugerahkan oleh Allah dan karena itu tidak dapat diperjualbelikan. (Jakarta, Juli 2026 – Ismartono, SJ)


