Syuting

Syuting
Peserta pembuat film berfoto bersama Suster Laurentina PI dan Mama Pendeta Emmy

1 Mei 2019

Hari Buruh Internasional yang diperingati hari ini, Rabu (01/05/2019) dimanfaatkan dengan baik oleh para buruh dalam bentuk kegiatan aksi di berbagai daerah, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, tidak terkecuali Malaysia. Beberapa Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Malaysia menggunakan kesempatan berharga ini untuk menuntut keadilan bagi PMI yang meninggal akibat perlakukan keji sang majikan pada 2018 lalu, Adelina Sau.

Di Kupang masih bungkam. Dari luar mungkin saja belum ada tanda-tanda, namun para aktivis sebenarnya sedang merencanakan aksi untuk menggugah hati gubernur NTT. Entahlah, akupun tidak terlalu mengetahui apa yang mereka rencanakan selain menjalani kesibukan harianku seperti biasanya

Pada siang hari, sekitar pukul dua, Suster Laurentina PI memberitahu bahwa pada sore hari kami akan mengikuti pembuatan film (syutingdengan pelayan Kargo kemanusiaan yang setia, mama pendeta Emmy.

Benar saja, pada pukul lima sore, bel di depan biara berbunyi. Aku segera bangkit dan menemukan seorang perempuan bersama anak asrama Puteri yang menghantarkan tamu tersebut. Wanita itu merupakan salah satu tim yang akan merekam proses pembuatan film. Aku segera menginformasikan perihal kedatangan wanita itu kepada Suster Laurentina PI.

Samar-samar, dari balik lemari, aku mendengar bahwa kakak perempuan itu memberitahukan bahwa proses shooting akan dimulai dari awal perjumpaan dengan suster Laurentina PI hingga ke rumah Mama Pendeta Emmy. Sambil deg-degan, aku segera mengikuti mobil yang mereka tumpangi dari belakang dengan mengendarai sepeda motor.

Setelah tiba di rumah Mama Pendeta Emmy, proses pembuatan film tetap berlanjut. Perjalanan suster menyusuri jalan kecil tidak lepas dari sorotan kamera. Kuparkirkan sepeda motorku tepat di depan rumah Mama Pendeta Emmy yang penuh dengan tanaman. Di depan rumahnya kutemukan Binahong merah yang menjalar di sebuah besi, seperti arch gate yang biasanya kutemukan di acara-acara pernikahan.

Suster Laurentina PI dan Mama Pendeta Emmy segera berpelukan. Kemudian mereka masuk ke dalam rumah dan duduk di meja makan yang berhadapan langsung dengan pintu masuk. Semuanya didokumentasikan dengan pengambilan sudut gambar yang tepat. Selama proses pembuatan film berlangsung, aku mengobrol santai bersama Kakak Aris yang sehari-hari menemani mama pendeta Emmy. Aku juga mengobrol dengan beberapa anggota tim dalam pembuatan film ini, empat di antaranya merupakan orang asing, berasal dari Afghanistan. Kami duduk di ruang tamu, namun masih bisa melihat proses shooting berlangsung. Pembicaraan Suster Laurentina PI dan mama pendeta Emmy mengalir dalam pembahasan mengenai human trafficking

Jeda shoooting diisi dengan obrolan santai dengan para kru 

Saat jeda pembuatan film, kami kembali bertukar cerita. Aku terkesan dengan salah satu migran yang juga ikut serta dalam pembuatan film ini, Ausif namanya. Wajah dan pembawaannya cukup menarik. Apalagi postur tubuhnya yang paling tinggi diantara kami semua menambah kelebihan fisiknya sebagai lelaki. Komunikasiku dan Ausif cukup dipermudah karena kemampuannya dalam berbahasa Indonesia yang bagus. 

Proses pembuatan film kembali dilanjutkan dengan latar tempat yang berbeda, yaitu di belakang rumah Mama Pendeta Emmy yang menghadap sawah dengan topik pembicaraan mengenai solusi perdagangan orang yang ada di NTT. Mereka diarahkan untuk melempar pandangan ke ujung sawah sambil memikirkan masa depan masyrakat NTT.

Saat mereka sedang sibuk dengan shooting, aku memutuskan untuk membuat teh dan kopi bersama kakak Aris. Kami beberapa kali mendapat teguran karena suara kami yang dianggap mengganggu proses rekaman. Tentu saja kedua mulut segera kami tutup rapat-rapat saat Suster Laurentina PI dan Mama Pendeta Emmy kembali masuk ke rumah.

Proses Shooting yang sedang berlangsung 

Tidak terasa, hari sudah gelap, ku nikmati kopi panas yang sudah kami siapkan. Pembuatan film masih berlanjut, namun Ausif dan dua orang temannya sudah masuk ke dalam dapur dan minum kopi milik mereka yang sudah kusajikan dengan sepenuh hati.

Ausif memulai percakapan denganku, saat kurapatkan jeket yang kubawa. Dia bertanya apakah aku kedinginan. Aku hanya menjawab dengan sebuah gelengan karena malu. Mereka masih larut dalam pembicaraan. Kuberanikan diri berkomunikasi dengan mereka menggunakan Bahasa Inggris.

Oh, you speak English?” ujar Ausif setengah kaget.

Yes, I speak English. Just a little,jawabku grogi. Tidak menjadi persoalan bagiku. Benar atau tidak, yang penting aku sudah mengucapkannya.

It’s okay, jawannya tersenyum.

Proses pembuatan film akhirnya selesai. Kami sudah diperbolehkan masuk ke dalam rumah. Di dalam, mereka saling bercanda, sedangkan aku menikmati roti yang ada di meja makan untuk mengisi perut yang keroncongan.

Foto bersama tak luput dari ingatan dan aku sering mengambil peran sebagai fotografer. Lightning dinyalakan, ku potret mereka yang memamerkan gigi, tidak hanya satu handphone lalu wefie sebanyak dua kali jepretan.

Sambil menunggu jemputan, kami masih asyik dengan bertukar cerita. Ausif menyadari bahwa wajah Mama Pendeta Emmy mirip dengan wajah orang India. Ausif juga menceritakan pengalamanya selama tiga tahun di Indonesia. Ia mengaku sudah pernah mengunjungi Manggarai dan telah menggunakan sarung Manggarai.

Mobil yang akan menjemput kami telah tiba. Suster Laurentina PI akan bersama dengan mereka, sementara aku kembali mengendarai motor seorang diri. Rute yang diambil sama dengan rute saat ke sini. Salah seorang migran di turunkan di dekat rumah makan Sambal Cobek, sedangkan Ausif di turunkan di Area Toko Roti Kahiyang.

Sangat bersyukur atas hari Buruh Internasional yang sangat luar biasa ini, setidaknya aku punya pengalaman yang mendukung para buruh melalui rekaman video yang telah dibuat hari ini. Semoga perjumpaanku dengan orang asing hari ini juga bisa semakin memantapkan hati dan tekadku untuk lebih giat belajar Bahasa Inggris. Ah, senang sekali rasanya.

***