Pesona NTT: Mengubah Kisah Pilu Menjadi Harapan

Pesona NTT: Mengubah Kisah Pilu Menjadi Harapan

“Pesona Nusa Tenggara Timur: Ragam Sanggul, Kebaya, dan Kain Indonesia” berlangsung di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Kamis (22/10/2026), untuk memperingati Sumpah Pemuda. Kegiatan ini digagas Yayasan Sinergi Perempuan Indonesia, Sahabat Insan, dan Perempuan Berkebaya Indonesia. Bertema “Meningkatkan Potensi Produk Kearifan Lokal NTT untuk Lebih Mendunia”, acara mempertemukan komunitas budaya, penenun, pelaku UMKM, akademisi, dan pemangku kebijakan. Melalui simposium, pameran, pertunjukan tari, peragaan busana, dan stan UMKM, penyelenggara memperkenalkan budaya NTT sekaligus mendorong pemberdayaan perempuan.

Pengembangan tenun diharapkan memperkuat penghasilan keluarga sehingga perempuan memiliki pilihan penghidupan layak di daerah asal dan terhindar dari migrasi berisiko. Para narasumber mendorong kolaborasi lintas sektor, pemasaran digital, perlindungan motif tradisional, serta pengelolaan usaha yang menghargai keterampilan perajin. Perluasan pasar tenun juga harus memberikan manfaat nyata bagi perempuan yang menjaga keberlanjutan tradisi. Ketua Sahabat Insan, Romo Ignatius Ismartono, SJ, melihat perhelatan tersebut sebagai kesempatan untuk mengubah cara pandang terhadap NTT.

“Kegiatan ini mengubah narasi NTT. Wacana tentang NTT selama ini lebih berkisar pada kesedihan: migrasi paksa, korban human trafficking, dan lain sebagainya,” tuturnya.

Padahal, menurut Romo Ismartono, ada banyak nilai yang selama ini tertimbun oleh kisah-kisah pilu. Nilai-nilai itu perlu digali kembali, ditampilkan, diapresiasi, dan disyukuri agar menjadi modal bagi kehidupan bersama yang lebih bernilai.

Di titik inilah tenun memperoleh makna yang lebih dalam. Ia bukan hanya benda budaya yang pantas dipajang di ruang pamer atau dikenakan dalam peragaan busana. Ia juga dapat menjadi pengingat bahwa sebuah daerah tidak seharusnya didefinisikan semata-mata oleh persoalannya, melainkan juga oleh daya hidup, pengetahuan, dan kekuatan masyarakatnya.

 

Penulis: Maria Fransiska Saraswati

Instagram: @ayaz1006