Kampanye Jalan, Jenazah Datang

Kampanye Jalan, Jenazah Datang
Peserta Aksi dalam Kampanye Anti Perdagangan Orang

3 - 4 Mei 2019

Sebelum Aksi Kampanye Anti Perdagangan Orang dilaksanakan, para aktivis bahu-membahu mengerjakan papan kampanye dan replika manusia mirip Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad di kantor IRGS pada Jumat, (03/05/2019) H-1. Aksi ini sekaligus bertujuan menuntut keadilan atas kematian Adelina Sao yang meninggal akibat siksaan majikannya di Malaysia. 

Beberapa pihak yang turut dalam pelayanan Kargo juga hadir sebagai bentuk dukungan dalam menjalankan aksi ini. Mama Pendeta Emmy dan Suster Laurentina PI misalnya, hadir dan menanggapi berbagai pertanyaan rekan-rekan media di dalam kantor IRGSC. Aku semakin semangat membantu mempersiapkan berbagi atribut aksi mulai dari menempel, memotong dan menyatukan kardus dengan kertas yang berisi berbagai tuntutan. Aku berjongkok di lantai bersama Kakak Ardi dan beberapa anak muda yang lainnya.

Suster Laurentina PI dan beberapa pegiat anti human trafficking mempersiapkan atribut aksi

Hari semakin gelap, kedatangan Frater Robin, CMF dan mama Maria dari Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) membuat pekerjaan lebih mudah. Menggunting kardus-kardus itu harus menggunakan cutter dan penggaris dengan kesabaran serta ketelitian yang mumpuni. Jujur saja, tanganku sudah mulai kebas. Untung saja aku bisa beristirahat sejenak sejak kehadiran mereka. Ku selonjorkan kaki yang sudah mulai keram karena terlalu lama di tekuk.

Mama Maria berbagi kisah pengalamannya dalam menuntut keadilan bagi Adelina Sau yang diselenggarakan di Malaysia pada Hari Buruh yang lalu. Ia menunjukkan beberapa foto dalam melakukan aksi tersebut memlalui gawainya. Tampak seorang wanita berjubah putih dengan wajah pucat memegang salib yang tertulis “RIP ADELINA SAU, JUSTICE FOR ADELINA SAU”. Dibelakangnya ada dua orang lain berdiri, salah satunya memakai topeng dan lainnya memakai make up, terlihat seperti majikan Adelina Sau, Ambika Shan. Aktivis di sana turun ke jalan sambil memegang tuntutan dan berorasi meski hanya bermodalkan pengeras suara.

Perutku semakin lapar mendengar kisahnya. Pantas saja karena jam telah menunjukkan pukul 7 malam. Kusantap gorengan di atas meja yang sudah dingin. Entah sudah berapa jumlah gorengan yang masuk ke mulutku. Sekalipun suster Laurentina PI dan mama Pendeta Emmy sudah bergabung bersama kami, namun kami tidak bisa segera pulang karena masih menunggu rekan media yang lainnya. Ternyata setelah menunggu kurang lebih satu jam tetap tidak ada tanda-tanda kedatangan mereka. Sepertinya memang tidak ada lagi wartawan yang haus berita kemanusiaan di NTT.

Sebelum pulang, Kak Ardi memasak ikan segar bersama dengan rebusan daun kelor yang kami petik dari pohon di samping kantor IRGSC. Setelah itu, kami berpamitan dan kembali pulang. Tenaga sungguh harus dipersiapkan untuk aksi kampanye esok hari. Akupun terlelap.

Keesokan paginya, Sabtu (04/05/2019) aku dan suster Laurentina PI segera menuju ke tempat aksi untuk kampanye anti perdagangan orang di NTT. Jalur El Tari dari Bundaran Pos Polisi hingga ke Bundaran Polda ditutup karena Car Free Day. Kami segera memarkirkan sepeda motor di parkiran Hotel Cendana yang berada di jalan El Tari, kemudian berjalan guna bergabung bersama peserta aksi yang lainnya dengan menjunjung tinggi papan tuntutan yang menyuarakan keadilan. Beberapa kaum muda tertarik dan dengan malu-malu datang kepadaku dan meminta ijin untuk memegang papan tuntutan dan berfoto dengan atribut aksi tersebut. Sontak saja kuberikan dengan harapan mereka segera memposting foto tersebut lewat media sosialnya disertai berbagai caption menarik yang menyentuh demi menuntut sebuah keadilan bagi mereka yang tertindas.

Pegiat kemanusiaan menuntut keadilan bagi PMI Indonesia

Berbagai awak media mewawancarai suster Laurentina PI dan mama Pendeta Emmy terkait human trafficking yang marak di NTT. Aku mengambil beberapa gambar sebagai dokumentasi dari kegiatan aksi ini. Hasilnya cukup memuaskan dan sejenak kuberi pujian untuk diriku karena telah berbakat mengabadikan setiap momen. Maka tidak perlu heran, dalam jepretan momen yang kuabadikan, tidak ada satupun gambarku.

Pada pukul 09.00 WITA, kami merapatkan barisan, berjalan memutari jalur El Tari sambil mengkampanyekan anti human trafficking lewat berbagai atribut yang kami bawa dengan hening tanpa suara. Kampanye tanpa suara mungkin terdengar aneh, namun tulisan tebal tersebut cukup untuk menggambarkan kacaunya NTT akibat perdagangan orang. Para suster dan mama Pendeta Emmy berada di barisan terdepan memimpin jalannya aksi. Sejujurnya, aku sangat mengagumi perjuangan kaum religius ini dalam membela kaum papah yang semakin tertindas akibat keserakahan sesamanya. Semoaga perjuangan ini membuahkan hasil.  

Setelah aksi kampanye usai, kami mengabadikan beberapa foto dan berisitirahat di bawah pohon sambil menikmati bekal yang kubawa. Semuanya habis disantap oleh perut-perut yang lapar dalam seketika. Usai aksi, kami tidak bisa kembali ke rumah masing-masing karena ternyata menerima kabar duka dari jenazah PMI di Malaysia atas nama YT yang tiba di Kargo Bandara El Tari Kupang pada siang ini. Melalui surat keterangan dari Hospital Seri Manjung, Perak, Malaysia, pria yang tutup usia 43 tahun ini meninggal karena Hypovolemic Shock Secondary To Massive Hermothorax akibat kecelakaan.

Dalam penjemputan jenazah kali ini hadir mama Pendeta Emmy, Om Herman, Pak Stef, suster Yosepine, pengasuh Rumah Perempuan Labuan Bajo, Ketua Vivat Internasional Indonesia Pastor Paul, SVD dan keluarga YT. Melalui keluarga YT, aku mengetahui bahwa YT memiliki 3 orang isteri. Isteri pertama sudah bercerai, isteri kedua meninggal dan isteri ketiga sudah menemaninya selama 7 tahun di kebun sayur Malaysia. Dari pernikahan pertamanya, YT dikaruniai 7 orang anak, namun 2 diantaranya sudah meninggal dunia dan 3 orang dibawa serta ke Malaysia. Hanya ada satu anaknya yang menjemput jenazahnya di Kargo Bandara El Tari Kupang, yakni anak kedua YT, NS. Gadis berusia 20 tahun ini rencananya akan melanjutkan pendidikannya di keperawatan setelah satu tahun menunda perkuliahannya.

Bapa sering batelpon dengan beta, sering kirim uang ju,” ujarnya sedih saat kuajak bercerita.

Aku sadar tidak seharusnya mengungkit kesedihannya dalam kondisi duka ini. Luka karena kehilangan ayah pasti amat memilukan. Aku tidak pernah merasakan kehilangan seorang ayah. Kendati demikan, aku banyak belajar dari pengalaman sahabat dan saudaraku yang kehilangan ayahnya. Aku tahu bahwa kehilangan seorang ayah menorehkan luka mendalam yang sukar sembuh.

Tiba-tiba ada seorang wartawan yang mewawancarai NS, aku menjauh. Isakan yang terdengar membuatku terkejut. Air mata mengalir di wajah NS yang segera dihapusnya dengan selendang di lehernya. Kesedihannya membuat hatiku tersayat. Pilu rasanya.

NS menumpahkan kepedihannya dalam menyambut jenazah YT di Kargo Bandara El Tari Kupang, NTT

Tangisan yang pecah menggema ketika jenazah dipindahkan dari kereta Kargo ke mobil jenazah. NS tak kuasa menahan pilunya. Serak suaranya terdengar memanggil ayahnya. Perlahan, ia merangkak naik ke dalam mobil jenazah BP3TKI. Dipeluknya kayu dingin yang terbungkus kain putih tempat ayahnya terbujur kaku. Tiap tetes air matanya menyatu di atas peti. Suster Laurentina PI segera mendekat, memeluk erat dan memberikan penguatan rohani.

Doa dipimpin oleh suster Laurentina PI dan berkat penutup oleh Pastor Paul Rahmat SVD. Bulu kudukku merinding ketika keluarga melantunkan nyanyian ratapan. Mereka memeluk NS sambil memperdengarkan ratapan duka khas Timor hingga mobil jenazah berlalu meninggalkan Kargo. Mungkin saja ratapan itu dilantunkan sepanjang perjalanan menuju Dusun Lakulo Weain, Desa Sikun, RT 010 RW 005, Kecamatan Malaka Barat, Kabupaten Malaka.

Jenazah YT disambut dalam doa oleh para Pelayan Kargo, kaum religius dan pegiat kemanusiaan Kupang, NTT 

Sebenarnya, Kupang adalah tanah yang potensial untuk digarap, apalagi di ibu kota provinsi ini sudah dipenuhi oleh sarana dan prasarana yang cukup memadai yang bisa membuka lapangan pekerjaan bagi pengangguran. Jika ingin tetap bertani, di daerah-daerah perkampungan masih tersedia tanah luas yang siap digarap. Semoga rasa cinta untuk berkarya demi provinsi ini semakin tinggi sehingga tidak perlu untuk merantau jauh, mengekang rindu dan berujung pilu.  

***