Arah Pastoral Mengenai Perdagangan Manusia

Arah Pastoral Mengenai Perdagangan Manusia

Sambutan Bapak Uskup Dominikus Saku

 

Pada Bulan September 2015 di hadapan sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa, Bapa Suci Fransiskus menegaskan bahwa persoalan perdagangan manusia, termasuk juga perdagangan organ manusia dan juga masalah eksploitasi seksual baik anak laki-laki maupun perempuan bahkan persoalan pelacuran tidak cukup diselesaikan dengan kegiatan-kegiatan keprihatinan. Beliau menegaskan lembaga-lembaga kitalah yang harus berjuang dan terlibat nyata dalam pembelaan terhadap mereka yang menjadi korban perdagangan manusia. Dengan caranya dan konteks masing-masing lembaga di manapun berkarya diharapkan dengan secara efektif dan efisien melakukan pelayanan dalam persoalan ini.

 

Perdagangan manusia dengan segala masalah dan persoalannya dengan aneka luka-luka yang dideritanya bukan persoalan yang berdiri sendiri. Perpindahan orang baik lintas negara maupun domestik karena persoalan urbanisasi dan pekerjaan bukan hal yang jelek. Apalagi kalau urbanisasi tersebut didasari karena persoalan mencari kehidupan yang lebih baik untuk keluarga dan dipersiapkan dengan baik. Persoalan urbanisasi dan perantau menjadi masalah ketika ada pihak-pihak yang dengan sengaja memanfaatkan kesempatan ini untuk mendapatkan keuntungan dari ketidakpahaman mereka atau keterpaksaan mereka dalam kondisi sebagai manusia urban. Dimanfaatkannya mereka oleh cukong, oleh pengepul atau makelar inilah yang kemudian menimbulkan aneka persoalan termasuk juga masalah perdagangan manusia dengan segala kekerasan dan luka yang mengikutinya.

 

Sebagaimana ditegaskan dalam “Arah Pastoral Mengenai Perdagangan Manusia” ini bahwa menghadapi kejahatan kemanusiaan yang paling fatal yaitu perdagangan manusia dan berskala internasional dan lintas negara tidak cukup hanya menyelesaikan persoalan korban dan pelaku atau mereka yang merekrutnya. Persoalan perdagangan manusia juga harus dilihat dalam kacamata yang lebih luas yaitu persoalan kita bersama, persoalan gaya hidup dan persoalan konsumerisme serta penyakit sosial lainnya termasuk yang paling parah adalah persoalan korupsi. Jangan-jangan persoalan perdagangan manusia karena masalah pasar, ada yang membutuhkan dan kemudian ada yang menangkap peluang “usaha” ini dengan menyediakan demi keuntungan ekonomi. Masalah pasar inilah yang mungkin perlu juga kita perhatikan.

 

Sebagai ketua Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau, saya bersyukur atas dikeluarkannya ajakan pastoral TPPO (Tindak Pidana Perdagangan Orang)  melalui buku “Arah Pastoral Mengenai Perdagangan Manusia” dan sangat berterima kasih kepada Romo Ignatius Ismartono, SJ yang telah mengalihbahasakan. Dengan dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia semoga buku ini menjadi pemahaman baru khususnya bagi lembaga-lembaga Katolik yang bergerak dalam bidang ini, keuskupan dan tarekat-tarekat dalam menangani masalah perdagangan manusia. Kita tahu banyak kejahatan perdagangan manusia dan kita sadar cukup banyak pelaku yang ditangkap namun kita prihatin sedikit yang dihukum. Lebih menyedihkan lagi kejahatan perdagangan dan korban perdagangan manusia semakin berkembang dan semakin canggih.

 

Mari sebagaimana Bapa Suci serukan bahwa memulihkan kembali para penyintas perdagangan manusia di dalam masyarakat bukanlah masalah sederhana, mengingat trauma yang mereka derita.  Tugas "pekerja kemanusiaan dan sosial” khususnya yang dilakukan oleh Gereja dan tarekat religius adalah untuk memberikan sambutan kepada mereka sebagai gambar Allah, menyediakan kehangatan dan kemungkinan membangun kehidupan baru. Kita menyadari bahwa  banyaklah kebutuhan mereka mulai dengan persoalan fisik, psikologis dan spiritual; mereka perlu sembuh dari trauma, stigma dan isolasi sosial.  Saya ulangi, mereka itu manusia yang sedang meminta solidaritas dan pertolongan, yang secara mendesak membutuhkan tindakan, tetapi lebih-lebih mereka sedang membutuhkan pengertian dan kebaikan hati  (Paus Fransiskus, Pidato Kepada Para Peserta di Pleno Kepausan Dewan untuk Pelayanan Pastoral bagi Migran dan Orang-Orang yang Mengembara , 24 Mei 2013).

 

Tugas kita jelas melanjutkan kisah cinta Sang Sabda menjadi Manusia meski tidak mudah. Keberanian untuk bertolak ke tempat lebih dalam merupakan cara terbaik untuk menanggapi arah pastoral penanganan perdagangan manusia dengan kegiatan-kegiatan yang nyata. Dengan berpedoman pada “Arah Pastoral Mengenai Perdagangan Manusia” karya Gereja sebagai ragi, garam dan terang dunia semakin nyata. Bangkit dan bergeraklah, perjalanan panjang ada di depanmu.

 

Kupang, Hari Raya Kabar Sukacita

Mgr. Dominikus Saku,

Ketua Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau-KWI

 

KATA PENGANTAR

 

Paus Fransiskus menganggap sangat penting penderitaan jutaan laki-laki, perempuan dan anak-anak yang diperdagangkan dan diperbudak. Mereka adalah  orang-orang  yang sangat dilecehkan  karena dianggap sebagai bukan manusia dan terbuang di dalam dunia modern ini, bahkan di  seluruh dunia. Perdagangan manusia, katanya, adalah “momok yang mengerikan,"1 sebuah "wabah yang janggal"2 dan "luka menganga  di tubuh masyarakat jaman ini.”3

 

Pada awal tahun 2015, Paus Fransiskus  menyampaikan Pesan Tahunan Pada Hari Perdamaian Dunia dengan pesan  utama mengenai  perdagangan manusia. “Kita sedang menghadapi gejala global yang melampaui kemampuan masyarakat atau negara manapun, "dan karena itu," kita perlu mobilisasi besar-besaran terhadap gejala tersebut."4

 

Pada bulan September 2015, Bapa Suci menyatakan kepada PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) bahwa kejahatan seperti perdagangan manusia, jual beli organ dan jaringan tubuh manusia, pemerasan  seksual anak laki-laki dan perempuan, kerja paksa, termasuk pelacuran ” tidak cukup ditanggapi hanya dengan  "komitmen meriah" saja. “Kita perlu memastikan bahwa lembaga-lembaga  kita - dan dengan demikian segala upaya kita  - benar-benar efektif dalam perjuangan melawan segala momok ini"5 

 

Demikianlah  tujuan  Arah Pastoral Mengenai Perdagangan Manusia ini, yaitu menyediakan sebuah bacaan tentang Perdagangan Manusia dan  pemahaman yang memberi  motivasi dan mendukung perjuangan jangka panjang yang sangat diperlukan.

 

Bagian Migran & Pengungsi (M&R, untuk selanjutnya di dalam terjemahan ini kita singkat menjadi BMP, Bagian Migran dan Pengungsi) mulai berfungsi pada 1 Januari 2017. Bagian ini didirikan oleh Paus Fransiskus dan saat ini secara langsung berada di bawah bimbingan beliau. BMP ditugasi untuk  menangani perdagangan manusia, permasalahan para migran dan pengungsi. Misi BMP adalah untuk membantu para Uskup Gereja Katolik dan semua yang melayani kelompok rentan ini.

 

Untuk menangani perdagangan dan perbudakan manusia, selama tahun 2018, BMP mengadakan dua konsultasi dengan para pemimpin Gereja, cendekiawan dan praktisi yang berpengalaman serta dengan  organisasi mitra yang bekerja di lapangan. Para peserta bertukar pengalaman dan sudut pandang, menyapa segi yang relevan pada gejala tersebut. Tanggapan Gereja sepenuhnya dipertimbangkan, baik dari segi  kekuatan, kelemahan, pastoral dan peluang-peluang  politik  maupun  peningkatan koordinasi di seluruh dunia.

 

Proses selama enam bulan itu menghasilkan Arah Pastoral Mengenai Perdagangan Manusia yang disetujui oleh Bapa Suci dan dimaksudkan untuk mengarahkan pekerjaan BMP dan mitra-mitranya. Arah Pastoral ini digunakan oleh keuskupan, paroki dan komunitas hidup bakti, umat Katolik, sekolah dan universitas, oleh organisasi baik yang Katolik maupun yang lainnya di dalam masyarakat sipil dan oleh kelompok manapun yang mau menanggapinya. Selain agar diwujudkan di dalam program lokal maupun kerjasama jarak jauh, Arah Pastoral ini juga menawarkan pokok-pokok yang penting untuk homili, pendidikan dan media.

 

Arah Pastoral ini  tersedia di https://migrants-refugees.va/trafficking-slavery/ dalam berbagai bahasa dan format.

 

BMP mengundang semua orang untuk terlibat secara aktif dalam pembelajaran, dalam komunikasi dan usaha mencegah serta menyembuhkan perdagangan manusia, yang diperkaya  dengan refleksi, doa dan ajaran Paus Fransiskus.

 

Fabio Baggio CS dan Michael Czerny SJ

Pimpinan Departemen Kepausan

 

 

PENGANTAR

 

  1. Pada saat bertemu dengan Paus pada awal tahun 2018,1  seorang perempuan muda,  penyintas perdagangan manusia mengatakan: "Saya berpikir tentang negara saya, banyak orang-orang  muda yang disesatkan melalui janji-janji palsu, ditipu, diperbudak, dilacurkan. Bagaimana kita dapat membantu mereka agar tidak terjerat ke dalam perangkap khayalan-khayalan dan jatuh ke tangan pedagang manusia? "

 

  1. Paus Fransiskus memperhatikan pertanyaan perempuan itu dengan seksama. "Seperti yang kamu katakan, harus dipastikan bahwa kaum muda tidak jatuh ke tangan para pedagang manusia”.  Dan betapa mengerikannya menyadari bahwa banyak korban muda adalah mereka yang semula  ditinggalkan oleh keluarga, yang dianggap sebagai orang buangan oleh masyarakat mereka! Banyak dari mereka kemudian dijerumuskan ke dalam perdagangan manusia oleh keluarga mereka sendiri dan diperkenalkan sebagai teman. Itu terjadi juga di dalam Kitab Suci: Silakan mengingat   kakak laki-laki yang menjual Yusup  muda sebagai budak dan karenanya dia diperbudak di Mesir!” (Lihat Kejadian 37: 12-36). Pertanyaan dan jawaban ini merupakan rangkuman baik motivasi maupun semangat di balik Arah Pastoral Mengenai Perdagangan Manusia ini.

 

  1. “Perdagangan manusia adalah luka yang menganga di tubuh masyarakat masa kini, menjadi bencana bagi tubuh Kristus.”2 Ini kecaman tulus dari Paus Fransiskus pada bulan April 2014, yang merupakan peringatan yang keras mengenai salah satu segi paling gelap  sejarah masa kini, sebuah gejala  yang memalukan dan tragis dan masih  berlanjut sampai sekarang. Perdagangan manusia mengorbankan jutaan orang di seluruh dunia dan saat ini merupakan kenyataan yang tersebar luas dan berbahaya di berbagai sektor bisnis, khususnya pekerjaan rumah tangga, pabrik, perhotelan dan pertanian. Perdagangan manusia terjadi dengan berbagai cara dan dalam berbagai  situasi: pemerasan seksual, kawin paksa,  kerja paksa, perbudakan, pengemis paksa, pengambilan organ tubuh manusia, eksploitasi reproduksi dan berbagai bentuk pelecehan dan pemerasan  lainnya. Hal itu  terdapat  dalam lembaga-lembaga swasta, komersial dan bahkan lembaga publik dan pemerintah. Perdagangan manusia adalah kenyataan “yang mengena pada mereka yang paling rentan di dalam masyarakat: perempuan dari segala usia, anak-anak, orang cacat, mereka yang paling miskin, dan mereka yang datang dari keluarga yang hancur dan dari situasi sulit di masyarakat.”3 Perdagangan manusia  adalah pelecehan  mengerikan terhadap martabat dan hak asasi laki-laki dan perempuan, anak-anak perempuan dan lelaki remaja.

 

  1. Keberagaman bentuk dan kebermacam-macaman korbannya dan banyaknya  jenis pelaku kejahatan membuat perdagangan manusia  menjadi masalah yang sangat rumit. Mereka yang ingin merencanakan layanan yang efektif segera dihadapkan pada tantangan berat. Kerumitan seperti itu membutuhkan pendekatan lintas ilmu untuk memahami gejala  dan penyebabnya, untuk mengidentifikasi proses dan orang yang terlibat di dalamnya - korban, pelaku, dan konsumen (baik yang  sadar atau tidak) - sebelum tanggapan yang tepat bisa dirumuskan.

 

  1. Memang, dari sudut pandang antropologi Kristiani,  kesucian kehidupan manusia, sejak dari saat dikandung sehingga kematian alami, dan martabat setiap orang dan masing-masing  pribadi yang  tak dapat dirampas  menjadi  menjadi titik pijak  dan fokus utama untuk setiap inisiatif. “Alkitab mengajarkan bahwa setiap laki-laki dan perempuan diciptakan karena cinta dan diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Bdk. Kejadian 1:26). Ini menunjukkan kepada kita betapa berharganya martabat setiap orang, yang bukan hanya sekedar barang, melainkan seorang pribadi. Dia mampu mengenali dirinya sendiri, berkuasa atas dirinya sendiri dan mampu pula secara bebas  memberikan dirinya sendiri dan masuk ke dalam persekutuan dengan orang lain”.4  Seperti yang dikatakan Santo Yohanes Paulus pada tahun 1988, “Ketika individu tidak diakui dan dicintai sebagai pribadi yang bermartabat dan sebagai gambar Allah yang hidup (Bdk. Kejadian 1:26), manusia dihadapkan pada berbagai bentuk 'manipulasi' yang lebih memalukan dan merendahkan. Yang paling jelas adalah merendahkan pribadi manusia menjadi budak bagi mereka yang lebih kuat."5

 

  1.  Arah Pastoral  ini sangat berakar  dalam refleksi dan ajaran Gereja serta pengalaman praktis yang sudah berlangsung sangat lama dalam menanggapi kebutuhan laki-laki dan perempuan dewasa, kebutuhan para remaja laki-laki dan perempuan yang terperangkap perdagangan manusia dan perbudakan, baik dulu maupun sekarang. Di dalam Konsili Vatikan II Gereja Katolik menegaskan kembali keprihatinan yang telah lama menyejarah mengenai kerja paksa, dengan menyatakan bahwa “perbudakan, pelacuran, penjualan perempuan dan anak-anak serta kondisi kerja yang memprihatinkan ketika manusia  lebih diperlakukan hanya sebagai  alat untuk mencari keuntungan daripada manusia yang bebas dan bertanggung jawab [...] adalah kekejaman  ” (Gaudium et Spes, 27). Sekarang “Gereja Katolik bermaksud untuk melibatkan diri  dalam setiap tahap perdagangan manusia” kata Paus Fransiskus; "Gereja ingin melindungi mereka dari penipuan dan bujukan; Gereja  ingin menemukan mereka dan membebaskan mereka ketika mereka direkrut dan direndahkan  menjadi budak; Gereja  ingin mendampingi mereka begitu  mereka dibebaskan ”6

 

  1.  Ajaran Paus Fransiskus yang secara tegas menentang perdagangan manusia menjadi  dasar untuk Arah Pastoral ini. Ajaran itu juga diambil dari pengalaman praktis yang panjang  dari banyak lembaga swadaya Katolik internasional yang bekerja di lapangan dan juga dari pengamatan wakil-wakil Konferensi Wali Gereja. Meskipun disetujui oleh Bapa Suci, Pedoman ini tidak bermaksud mengulas ajaran Gereja tentang perdagangan manusia secara keseluruhan; sebaliknya mau memberikan serangkaian pertimbangan utama yang mungkin berguna bagi umat Katolik dan orang lain dalam pelayanan pastoral mereka, dalam perencanaan dan keterlibatan praktis serta dalam advokasi dan dialog.

 

  1. Setelah mempertimbangkan definisi legal tentang  perdagangan manusia yang telah disahkan oleh hukum internasional, masing - masing dari sepuluh bagian yang terdapat dalam  Arah Pastoral ini menganalisis fakta dan tantangan-tantangan yang kejam dari sebuah sisi gejala  tersebut. Kemudian juga menyarankan serangkaian tanggapan, beberapa yang mendukung, khususnya, budaya perjumpaan yang dipromosikan oleh Paus Fransiskus sebagai langkah penting menuju kehidupan baru dalam  setiap bidang  ketidakadilan dan penderitaan manusia.

 

DEFINISI

 

  1. Protokol Palermo merupakan perjanjian untuk Mencegah, Menahan dan Menindak Penjualan Manusia, khususnya kaum Perempuan dan Anak-anak yang melengkapi  Konvensi PBB dalam  menentang Kejahatan Transnasional yang Terorganisir.7  Protokol tersebut  memberikan definisi hukum tentang perdagangan manusia yang saat ini telah disepakati secara internasional.  Pasal 3, ayat(a) mendefinisikan perdagangan manusia  sebagai “perekrutan, pengangkutan,  pemindahan, penyembunyian atau penerimaan orang, dengan ancaman atau penggunaan kekuatan atau bentuk paksaan lainnya,  penculikan, kecurangan,  penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi kerentanan atau pemberian atau penerimaan pembayaran atau manfaat untuk mencapai persetujuan dari seseorang yang memiliki kendali atas orang lain, untuk tujuan pemerasan. Pemerasan harus mencakup, sekurang-kurangnya, pemerasan  pelacuran  orang lain atau bentuk pemerasan seksual lainnya, kerja atau layanan paksa, perbudakan atau praktik serupa dengan perbudakan, kerja paksa  atau pengambilan  organ.”

 

  1. Protokol Palermo mendefinisikan perdagangan anak (di bawah umur 18 tahun) sedikit  berbeda. Dalam kasus seperti itu, tidak perlu menunjukkan adanya penggunaan kekuatan, penipuan atau segala bentuk paksaan atau penyalahgunaan kekuatan atau kerentanan. Apa yang diperlukan hanyalah menunjukkan bahwa telah  terjadi suatu tindakan perekrutan, pengangkutan, pemindahan, penyembunyian atau penadahan seorang anak untuk tujuan pemerasan.9  

 

  1. Unsur-unsur definisi yang disepakati secara internasional ini memberikan tolok ukur yang menjadi dasar untuk menuntut kejahatan perdagangan manusia. Namun perlu dicatat, bagaimanapun juga, Protokol Palermo yang melengkapi Konvensi Menentang Kejahatan Transnasional yang Terorganisir itu hanya berlaku untuk  pelanggaran yang bersifat transnasional dan melibatkan kelompok-kelompok  kriminal yang terorganisir. Namun definisi tersebut memberikan sekurang-kurangnya  titik tolak yang berguna untuk refleksi dan aksi lebih lanjut dalam melawan bencana ini.

 

  1. Belakangan ini istilah  perbudakan modern sering disamakan dengan perdagangan manusia. Meskipun orang yang diperdagangkan sering menjadi budak, perdagangan manusia lebih halus dan berada pada spektrum yang lebih luas daripada contoh nyata perbudakan (lihat §9, di atas). Selain itu, menambahkan kata sifat modern pada perbudakan dapat  menyesatkan karena sepertinya menunjukkan bahwa gejala  sekarang ini  berbeda dari apa yang terjadi pada masa lalu. Perbudakan senantiasa tidak manusiawi dan tercela di jaman manapun juga, dalam bentuk apapun juga, meskipun selama berabad-abad tampaknya perbudakan itu diterima sebagai kenyataan hidup.

 

  1. Karena kejahatan domestik murni termasuk dalam yurisdiksi dalam negeri  masing-masing Negara, Konvensi Palermo berfokus pada contoh-contoh perdagangan manusia yang melibatkan perpindahan lintas negara yang dilakukan oleh kelompok-kelompok  kriminal terorganisir. Namun kegiatan yang pada dasarnya sama-sama tercela dan berdampak mengerikan  bagi para korban itu dapat terjadi dalam satu negara dan dapat dilakukan oleh orang-orang  (seperti kerabat, seorang kenalan, atau yang  disebut teman) yang tidak terlibat dalam kejahatan terorganisir. Pada pokoknya, Arah Pastoral ini menerima definisi yang ditetapkan dalam Protokol Palermo sambil memperkenalkan keyakinan dasar bahwa perdagangan manusia sama-sama kriminal dan dosa berat karena merupakan paksaan atau pelecehan yang menyebabkan pemerasan  yang merusak martabat orang tersebut.

 

  1. Perdagangan manusia dan penyelundupan migran adalah dua gejala yang berbeda. Penyelundupan migran adalah “usaha untuk memperoleh, secara langsung atau tidak langsung, manfaat finansial atau keuntungan material lainnya, dari masuknya  seseorang secara illegal ke dalam sebuah negara untuk menjadi warga negara,  sedang  orang tersebut bukan warga negara atau penduduk tetap.” 10  

 

  1. Ketika mengambil definisi  Protokol Palermo, banyak organisasi yang bekerja melawan perdagangan manusia menambah atau menggarisbawahi unsur-unsur kunci atas nilai komunikatif atau pedagogik, dengan demikian  memberi arti, dampak dan konsekuensi sehubungan dengan perdagangan manusia sehingga  menjadi lebih jelas bagi banyak orang.11  Demikianlah  pemahaman mengenai perdagangan manusia terus berkembang.

 

KENYATAAN DAN TANGGAPAN

_______________________________

 

  1. Berikut ini adalah sepuluh jenis  pengamatan atas perdagangan manusia di jaman ini. Sepuluh jenis pengamatan ini menganalisis kenyataan dan tantangan kejam yang ada dalam  perdagangan manusia  dan menyarankan tanggapan berdasar  pertimbangan mendesak  oleh semua individu dan lembaga yang berkehendak baik. Sumber-sumbernya adalah  pemikiran dan kegiatan Gereja Katolik yang saat ini sedang berusaha menghapus perdagangan manusia, seperti dinyatakan dalam pernyataan Paus Fransiskus tentang hal ini. Hasil pengamatan ini dikelompokkan di bawah empat anak judul. Pertama, mulai dengan mengutarakan mengapa perdagangan manusia masih ada dan kebejatan perbudakan itu masih terus berlangsung hingga abad ke duapuluh satu. Kedua, mengapa perdagangan manusia itu masih tetap begitu tersembunyi. Ketiga, bagaimana perdagangan manusia itu berlangsung.  Terakhir, apa yang dapat dilakukan, dan bagaimana dapat dilakukan secara  lebih baik.

 

Di antara begitu banyak luka terbuka di dunia kita, salah satu yang paling meresahkan adalah perdagangan manusia, bentuk perbudakan modern, yang melanggar martabat yang diberikan Tuhan kepada  banyak saudara dan saudari kita [...].

Paus Fransiskus, Menyambut Sidang Majelis Eropa Kedua RENATE, 7 November, 2016.

 

MEMAHAMI PENYEBAB PERDAGANGAN MANUSIA

 

1. KOMODIFIKASI DAN PEMERASAN

 

  1. Perdagangan manusia mengendalikan para korbannya dan memasukkan mereka dalam  situasi dan tempat di mana mereka diperlakukan sebagai komoditas atau barang dagangan, untuk diperjualbelikan dan diperas sebagai pekerja atau bahkan sebagai 'bahan baku' secara berganda dan dengan cara yang tak terperikan.

 

Di berbagai belahan dunia, tampaknya tidak ada habisnya pelanggaran berat terhadap hak-hak asasi manusia, khususnya hak  hidup dan hak kebebasan beragama. Gejala  tragis perdagangan manusia [ ...] hanyalah satu contoh yang meresahkan dari gejala itu.

Paus Fransiskus, Pesan untuk Perayaan Hari Perdamaian Dunia 2014, 8 Desember 2013.

 

Hingga saat ini, perlakuan semacam itu dikaitkan dengan kolonialisme dan perdagangan budak. Meskipun perdagangan budak secara formal telah dihapus,  namun pemerasan sebagian manusia oleh manusia  lain belum berakhir, bahkan sekarang terjadi dalam bentuk-bentuk baru yang mengerikan dan dalam ukuran  yang teramat besar. Ini adalah perwujudan sistem sosial, budaya dan ekonomi yang tidak bermoral dan praktik yang mempromosikan sikap peningkatan konsumen dan menambah   ketidaksetaraan di dalam dan antar wilayah. Secara kebetulan, zaman kita telah mengalami  pertumbuhan individualisme dan egosentrisme, yaitu sikap yang cenderung memandang orang lain melalui lensa kegunaan semata,  menilai orang lain berdasarkan ukuran kenyamanan dan keuntungan pribadi.

 

Narsisme membuat orang tidak mampu melihat melampaui  diri mereka sendiri, melampaui  keinginan dan kebutuhan mereka sendiri.

Paus Fransiskus, Nasihat Apostolik Pasca-sinode Amoris Laetitia, 19 Maret 2016

 

Pemerasan orang lain telah secara tidak senonoh, tetapi diam-diam diterima sebagai cara untuk  mencapai kesenangan dan keuntungan sendiri, meskipun bahasa yang digunakan dapat merujuk pada hukum pasar: persaingan tanpa henti untuk- dengan cara apa pun -  mengurangi biaya barang dan jasa. Perdagangan manusia membuat banyak orang kehilangan identitas dan martabat mereka dan menjadikan mereka sebagai dagangan demi keuntungan segelintir orang.

 

Setiap tahun ribuan laki-laki, perempuan dan anak-anak yang tidak berdosa menjadi korban kerja yang memeras dan  pelecehan seksual serta perdagangan organ dan tampaknya bahwa kita telah menjadi begitu terbiasa dengan ini, sehingga  menganggapnya sebagai hal yang normal. Ini menyedihkan; ini  kejam; ini kriminal! Saya ingin mengingatkan semua orang akan tugasnya untuk melawan wabah yang mengerikan, sebuah bentuk perbudakan manusia moderen.

Paus Fransiskus, Angelus, 30 Juli 2017

 

Jika keluarga manusia ingin membasmi perdagangan manusia, masyarakat modern itu sendiri harus melakukan perubahan. Untuk mengakhiri perdagangan manusia, semua orang perlu menyederhanakan kebutuhan mereka, mengendalikan kebiasaan mereka, mengendalikan nafsu makan mereka. "Kesederhanaan, pengaturan diri, dan disiplin, serta semangat pengorbanan, harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, jangan sampai semua menderita akibat negatif kebiasaan sembrono dari beberapa orang,"dan ini "mengandaikan orang mengekang nafsu berkuasa dan  menumpuk kesenangan semata.” 12

 

  1. Gejala  ekonomi, sosial dan budaya yang sedang  membentuk masyarakat moderen ini perlu dinilai berdasarkan etika yang mendalam.13 Sangat penting untuk menjaga martabat pribadi manusia, khususnya dengan menawarkan kepada siapa saja peluang nyata untuk pengembangan manusia secara utuh dan dengan penerapan kebijakan ekonomi yang memihak pada keluarga. Paus Benediktus XVI mengajarkan bahwa “ajaran sosial Gereja dapat memberikan sumbangan tertentu,  karena ajaran tersebut didasarkan pada ciptaan manusia sebagai  'gambar Allah' (Kejadian 1:27), sebuah kenyataan yang mengangkat  martabat pribadi manusia yang tidak bisa dirampas dan juga memunculkan nilai transenden alami untuk menentukan norma moral. Ketika etika bisnis melenceng dari dua pilar ini, etika tersebut mau tak mau  kehilangan risiko atas  hakekatnya yang khas dan itu berarti terjerumus dalam  bentuk-bentuk pemerasan; secara lebih khusus, etika itu  berisiko untuk lebih  tunduk kepada  sistem ekonomi dan keuangan yang ada daripada mengoreksi segi-seginya yang tidak berfungsi.”14  Integritas pribadi masing-masing dan setiap orang harus selalu dicari dan dipromosikan. Seperti yang dinyatakan dengan jelas dalam ajaran Katolik, kebijakan dan tolok ukur  untuk melawan perdagangan manusia harus diarahkan pada perkembangan manusia yang utuh bagi setiap orang dan harus bersandar pada  pendekatan yang berpusat pada manusia dan bersifat menyeluruh. "Saya ingin mengingatkan semua orang, terutama pemerintah yang terlibat dalam meningkatkan ekonomi dunia dan aset sosial, bahwa modal utama yang harus dijaga dan dihargai adalah manusia, pribadi manusia dalam keutuhannya:  Manusia adalah sumber, dia adalah pusat dan tujuan semua kehidupan ekonomi dan sosial.”15  Tidak  ada kehidupan ekonomi dan politik yang boleh mengingkari pentingnya  pribadi manusia, yang martabat dan hak-hak dasarnya  harus menjadi tujuan akhir semua kebijakan dan ekonomi.

 

Kebebasan ekonomi tidak boleh menang atas kebebasan praktis manusia dan atas hak-haknya, dan pasar tidak boleh menjadi  mutlak, tetapi harus menghormati mendesaknya  keadilan.

Paus Fransiskus, Pidato kepada Konfederasi Umum Industri Italia, 27 Februari, 2016.

  1. Di seluruh dunia Gereja melibatkan diri dalam menolak perdagangan dan pemerasan manusia yang diakibatkan oleh ‘budaya membuang’ yang berulang kali dikutuk oleh Bapa Suci dan yang terkait dengan pendewaan  uang.

 

Ini terjadi ketika pendewaan  uang lebih menjadi  pusat sistem ekonomi daripada manusia, pada pribadi manusia. Ya,  pusat setiap sistem sosial atau ekonomi haruslah  pribadi manusia, citra Allah, yang diciptakan untuk 'berkuasa atas' alam semesta. Penjungkirbalikan nilai-nilai terjadi ketika manusia itu diabaikan  dan uang dijadikan dewa.

Paus Fransiskus, Pidato kepada mereka yang mengikuti  Pertemuan  Pergerakan-pergerakan Rakyat Sedunia, 28 Oktober 2014

Umat  Katolik harus menolak dewa palsu ini; bahkan lebih dari pada itu, mereka harus menjadi 'ragi' dalam masyarakat dengan mempromosikan perubahan yang nyata  pada tingkat lokal, menuju pada pembangunan manusia yang utuh. Para pemangku kepentingan juga dapat melakukan ini dengan membangun ekonomi kebersamaan.

Anda dapat berbagi lebih banyak keuntungan untuk memerangi penyembahan berhala, mengubah struktur untuk mencegah pengadaan korban dan orang-orang terbuang, berikan lebih banyak ragimu sehingga dapat memberi ragi pada adonan bagi banyak orang. Semoga pernyataan “tidak” terhadap ekonomi yang membunuh menjadi “ya” terhadap  ekonomi yang memungkinkan adanya kehidupan, karena ekonomi ini berbagi juga dengan yang miskin dan mempergunakan keuntungannya untuk menciptakan kebersamaan.

Paus Fransiskus, Pidato Kepada Para Peserta dalam Pertemuan ‘Ekonomi Kebersamaan’, disponsori oleh Gerakan Focolare, 4 Februari 2017

 

2. SEGI PERMINTAAN

 

  1. Dalam wacana publik, banyak perhatian diberikan kepada pedagang yang memasok manusia, meskipun sedikit yang ditangkap dan jauh lebih sedikit lagi yang masih dinyatakan bersalah. Hanya sedikit yang dikatakan tentang konsumen: faktor permintaan, yang harus terus dipenuhi oleh para pedagang. Mempertimbangkan perbedaan wilayah para korban perdagangan manusia  bekerja atau beroperasi  (pertanian, pekerjaan rumah tangga, pelacuran dan sebagainya), konsumen merupakan jumlah yang sangat besar, yang tampaknya sebagian besar tidak menyadari adanya pemerasan atas orang-orang yang diperdagangkan, bahkan mereka menikmati manfaat dan layanan yang diberikan. Jika laki-laki, perempuan dan anak-anak diperdagangkan, pada akhirnya itu terjadi karena ada permintaan besar yang membuat pemerasan terhadap  mereka itu menguntungkan.

 

Jika ada begitu banyak perempuan muda yang menjadi korban perdagangan manusia  berakhir di jalanan kota kita, itu karena banyak lelaki di sini - muda, setengah baya, lanjut usia – meminta  layanan dan bersedia membayar kesenangan mereka. Maka, saya ingin tahu, apakah benar penyebab   utamanya memang para pedagang manusia? Saya yakin bahwa penyebab utamanya  adalah cinta diri yang tidak bermoral dari banyak orang munafik di dunia kita ini. Tentu saja, menangkap para pedagang itu adalah kewajiban keadilan. Namun solusi yang sebenarnya terletak pada  pertobatan  hati, menghentikan  permintaan untuk  mengosongkan pasar.

Paus Fransiskus, Pidato Kepada Para Peserta di Hari Doa Sedunia, Refleksi dan Aksi Menentang Perdagangan Manusia , 12 Februari  2018

 

Orang yang menciptakan permintaan ikut bertanggung jawab secara  nyata atas akibat perilaku mereka yang merusak orang lain dan atas nilai-nilai moral yang dilanggar dalam proses itu.

 

  1. Untuk mengurangi permintaan yang mendorong munculnya perdagangan manusia, diperlukan adanya  akuntabilitas, penuntutan dan hukuman  pada seluruh mata  rantai pemerasan, mulai dari perekrut dan pedagang ke konsumen.

 

Kita jangan terkacaukan: kita semua dipanggil untuk meninggalkan segala bentuk kemunafikan, dengan menghadapi kenyataan bahwa kita adalah bagian dari masalah. Masalahnya bukan di pihak lain: kita terlibat di dalamnya. Kita tidak boleh menyalahkan pihak lain dan menyatakan kita tidak peduli atau tidak bersalah.

Paus Fransiskus, Pesan Video kepada Para Peserta di Forum Internasional tentang Perbudakan Moderen , 7 Mei 2018

 

Hukuman bagi orang yang terperangkap dan diperas tampaknya bukan penyelesaian yang efektif, karena hal itu hanya akan  menyalahkan dan menghukum korban. Sebaliknya,  kebutuhan  pasar yang begitu besar untuk layanan seperti itu harus disingkapkan.  Pembelian  layanan yang disebut pelayanan seksual, dalam segala bentuknya  termasuk pornografi, cyber-sex berbasis internet, klub telanjang dan tarian erotis adalah pelanggaran serius terhadap martabat dan integritas manusia serta penghinaan terhadap seksualitas manusia. Negara hendaknya  mempertimbangkan untuk mengkriminalkan mereka yang memanfaatkan pelacuran atau pemerasan seksual lainnya yang  disediakan oleh mereka yang telah diperdagangkan. Akuntabilitas seluruh mata rantai  pemerasan  juga diperlukan ketika perdagangan manusia memfasilitasi terjadinya kawin paksa, perbudakan, pengemis paksa, pengambilan organ tubuh manusia  dan eksploitasi reproduksi. Kampanye penyadaran tentang tanggung jawab dan kewajiban dari sisi permintaan perdagangan manusia  harus dipromosikan baik di tingkat nasional maupun tingkat internasional, bekerja sama dengan semua pihak yang peduli.

 

Dunia membutuhkan tanda-tanda  solidaritas, terutama ketika dihadapkan pada  godaan untuk  tidak peduli.

Paus Fransiskus, Katekese untuk Semua Pekerja yang Berbelaskasih dan Relawan, 3 September 2016

 

  1. Membeli layanan seksual dari seorang pelacur tidak ada hubungannya dengan cinta; sebaliknya, itu merupakan pelanggaran serius terhadap martabat manusia.

 

Pelacuran  menyiksa perempuan.  Jangan mengacaukan istilah.  Ini kriminal, jiwa yang sakit. Dan saya ingin [...] minta maaf kepada Anda dan masyarakat untuk semua umat Katolik yang melakukan tindak pidana ini.

Paus Fransiskus, Pertemuan Pra-Sinode dengan Kaum Muda, 19 Maret 201816

 

Seperti Paus Fransiskus tegaskan kepada seorang muda penyintas  perdagangan manusia dari Nigeria, pertobatan diperlukan juga dalam komunitas Kristiani. Mereka dipanggil untuk mendukung setiap upaya untuk menghapus permintaan yang melanggengkan seluruh rantai perdagangan manusia. “Bisakah orang yang berhadapan langsung  dengan orang yang benar-benar menderita akibat kekerasan dan pemerasan  seksual 'menjelaskan' bahwa tragedi ini, yang digambarkan dalam bentuk virtual, dianggap hanya sebagai  'hiburan'?” Pertanyaan  yang diajukan oleh Paus Benediktus XVI  ini merupakan seruan  yang ditujukan kepada  semua orang  Katolik agar  berperan dalam meningkatkan kesadaran moral konsumen dan memang itu merupakan tanggung jawab sipil.

 

MENGAKUI ADANYA PERDAGANGAN MANUSIA:  KELUAR DARI KEGELAPAN

 

3. KEENGGANAN MENGAKUI REALITAS PERDAGANGAN MANUSIA YANG MENGERIKAN

 

  1. Meskipun ada komitmen publik dari para pelaku Negara maupun swasta dan meskipun berbagai kampanye penyadaran dilakukan, namun masih banyak ketidaktahuan tentang sifat dan  penyebaran perdagangan manusia.

Jelas ada banyak ketidaktahuan tentang masalah  perdagangan manusia. Namun, kadangkala tampak  hanya ada sedikit kemauan untuk memahami ruang lingkup masalah ini. Mengapa? Karena perdagangan manusia itu sangat  menyentuh hati nurani kita; karena itu menyakitkan; karena itu memalukan. Lalu ada mereka yang, meskipun mengetahui hal ini, namun  tidak mau berbicara tentangnya, karena mereka menjadi bagian akhir dari ‘rantai pasokan’  pemakai ‘layanan’ ini, yang dijajakan di pinggir jalan atau internet.

Paus Fransiskus, Dialog dengan Peserta dalam Hari Doa Sedunia, Refleksi dan Aksi Menentang Perdagangan Manusia , 12 Februari 2018

Orang-orang  yang diperdagangkan biasanya tetap tidak terlihat dan perdagangan manusia itu sendiri tidak mudah diamati  atau dideteksi di masyarakat sekitar. Dimana-mana banyak orang cenderung menyesali perdagangan manusia,  tanpa menyadari bahwa itu juga terjadi di sekitar mereka serta di dunia maya.

 

Perhatian khusus harus ditujukan kepada anak-anak migran dan keluarga mereka, mereka yang menjadi korban lingkaran perdagangan manusia, dan mereka yang mengungsi karena konflik, bencana alam dan penganiayaan. Mereka semua berharap bahwa kita akan memiliki keberanian untuk meruntuhkan tembok 'Ketidak pedulian dan kenyamanan' yang memperburuk keadaan mereka yang tidak berdaya; mereka  yang menunggu kita untuk menunjukkan  keprihatinan,  belarasa  dan bakti  kita  kepada mereka.

Paus Fransiskus, Pesan untuk Konferensi Tahta Suci kedua  di Meksiko pada Migrasi Internasional, 14 Juni 2018

 

Sayangnya, orang-orang yang diperdagangkan sering dimanipulasi dan dijebak dalam pola psikologis yang tidak memungkinkan mereka untuk melarikan diri, untuk meminta tolong, atau bahkan memiliki pemahaman yang jelas bahwa dirinya pernah - atau lebih buruk,

sebenarnya masih menjadi – korban-korban  dari kegiatan kriminal.

 

Risiko yang melekat dalam beberapa ruang virtual ini  tidak boleh  diremehkan; lewat  web, banyak anak muda terpikat dan ditarik ke dalam perbudakan yang  kemudian dari sana mereka tidak mampu  membebaskan diri.

Paus Fransiskus, Dialog dengan Peserta dalam Hari Doa Sedunia, Refleksi dan Aksi Menentang Perdagangan Manusia , 12 Februari 2018

 

Selain itu, banyak dari mereka yang mempunyai potensi di garis depan, seperti penegak  hukum,  jaksa penuntut umum, otoritas peradilan  dan  para ahli  kesehatan  sosial , seringkali tidak cukup terlatih untuk mengidentifikasi dan menangani korban perdagangan manusia  dengan segala kemampuan,  kebijaksanaan dan sensitivitas yang mereka perlukan.

 

  1. Ketika perdagangan manusia  melintasi batas negara, komunitas asal, komunitas transit dan komunitas tujuan harus diberi informasi yang  benar. Informasi yang diperlukan  meliputi  pencegahan,  identifikasi dan penuntutan perdagangan manusia:  risiko, pengandaian-pengandaian dan  akibat perdagangan manusia; serta hukum-hukum  nasional dan  internasional yang  berlaku. Program-program  khusus pendidikan dan belajar  mandiri,  yang bertujuan memperkuat kemampuan  untuk pencegahan, perlindungan, penuntutan dan kemitraan, harus ditawarkan di tingkat komunitas. 

 

Dalam beberapa tahun terakhir, Tahta Suci [...] terus mengajak komunitas internasional untuk bekerjasama dan berkolaborasi antar berbagai lembaga untuk mengakhiri bencana ini. Pertemuan-pertemuan  juga telah diselenggarakan untuk menarik perhatian pada gejala perdagangan manusia tersebut  [...].Saya berharap bahwa upaya-upaya  ini akan terus berkembang di tahun-tahun mendatang.

Paus Fransiskus, Pesan untuk Hari Perdamaian Dunia 2015, 8 Desember 2014

 

Program-program semacam itu juga harus mempertimbangkan keterlibatan yang sesuai dari  orang-orang yang pernah diperdagangkan.

 

Semua yang pernah menjadi korban perdagangan adalah  sumber dukungan yang sangat besar untuk korban baru, dan sumber  informasi yang sangat penting untuk menyelamatkan banyak orang muda lainnya.

Paus Fransiskus, Dialog dengan Peserta dalam Hari Doa Sedunia, Refleksi dan Aksi Menentang Perdagangan Manusia, 12 Februari 2018

 

Selain itu, remaja harus dididik untuk menghayati kehidupan  seksual yang bertanggung jawab dalam kerangka pernikahan yang setia dan seumur hidup, untuk menunjukkan rasa hormat secara etis terhadap orang lain, untuk menggunakan internet dengan bijaksana dan cermat,  serta untuk memperoleh informasi  bagi dirinya sendiri mengenai  asal-usul produksi barang yang mereka beli.

 

Prakarsa untuk melawan  perdagangan manusia, - sambil secara nyata bertujuan membongkar struktur kriminal -  harus terus menerus  mempertimbangkan masalah-masalah yang lebih luas yang terkait dengannya, misalnya  dengan penggunaan teknologi  dan media komunikasi yang bertanggung jawab, tak tinggal diam dalam  mencermati akibat etis model pertumbuhan ekonomi  yang lebih mengutamakan keuntungan dari pada manusia.

Paus Fransiskus, Pidato Kepada Para Anggota 'Grup Santa Marta' , 9 Februari 2018

 

  1. Orang ​​Katolik harus terlibat secara pribadi, mulai dari dalam keluarga:

 

Usaha meningkatkan kesadaran harus dimulai dari  rumah, mulai  dari diri kita sendiri, karena hanya dengan cara ini kemudian kita akan mampu  membuat komunitas kita sadar, dengan memotivasi mereka untuk  terlibat sehingga  tidak pernah ada lagi  manusia yang bisa menjadi korban perdagangan.

Paus Fransiskus, Dialog dengan Peserta dalam Hari Doa Sedunia, Refleksi dan Aksi Menentang Perdagangan Manusia, 12 Februari 2018

 

Mereka juga harus terlibat di tingkat masyarakat, dalam setiap upaya untuk meningkatkan kesadaran dan mendidik orang  muda agar mencegah dan melawan perdagangan manusia.

 

Tugas pertama [...] adalah mendayagunakan strategi untuk memastikan adanya kesadaran yang lebih besar tentang masalah tersebut, merobek tabir ketidakpedulian yang nampaknya menutupi nasib kemanusiaan yang menderita, yaitu penderitaan.

Paus Fransiskus, Pesan Video untuk Para Peserta di Forum Internasional  Perbudakan Modern , 7 Mei 2018

 

4. MENGIDENTIFIKASI DAN MELAPORKAN PERDAGANGAN MANUSIA

 

  1. Identifikasi dan pelaporan kejahatan perdagangan manusia terhalang oleh beberapa faktor. Investigasi polisi sulit dan lama. Hambatan untuk mengumpulkan bukti kegiatan kriminal ini juga mencakup korupsi yang merajalela  dan kurangnya  kerja sama dari pihak-pihak yang berwenang di negara-negara  ketiga.

 

Penyebab perbudakan lainnya adalah korupsi yang dilakukan oleh orang yang mau melakukan apa saja demi keuntungan finansial. Kerja paksa dan perdagangan manusia sering melibatkan para calo, entah mereka itu penegak hukum, pejabat negara, atau lembaga-lembaga sipil dan militer.

Pesan untuk Perayaan Hari Perdamaian Dunia 2015, 8 Desember 2014

 

Sumber-sumber  daya tidak mencukupi  untuk mengatasi kejahatan yang dilakukan oleh  penegak hukum dan pengadilan, seringkali ditambah dengan tiadanya yurisdiksi dan garis wewenang yang jelas. Selain pendekatan tradisional, penegak hukum perlu mempertimbangkan juga bentuk  lain,  misalnya, penyelidikan keuangan. Perdagangan manusia yang dari berbagai segi bersifat rumit  merupakan tantangan yang besar. Ada juga hambatan-hambatan  budaya yang menghalangi orang untuk mengenali perdagangan manusia ini secara  tepat. Karena berbagai alasan para penyintas sering tidak melaporkan diri. Orang-orang yang diperdagangkan  sering secara hukum takut melawan atau bersaksi di hadapan para pelakunya.  Ketika menghadapi ancaman nyata, mereka takut hidupnya sendiri dan kesejahteraan keluarga mereka terancam  atau juga  karena mereka  tidak memiliki dokumen yang diperlukan untuk tinggal di dalam suatu negara atau tidak memiliki ijin kerja. Mereka takut bahwa mereka dianiaya pula. Selain itu  mereka sering merasa  malu, benar-benar sendirian  dan tidak bisa mempercayai siapa pun. Pengalaman trauma mereka bisa membuat mereka tidak mau atau tidak bisa menuturkan kisah mereka; mereka enggan untuk mengingat  kembali siksaan dan penderitaan mereka. Ancaman, kekerasan, dan keputusasaan melumpuhkan mereka, sama seperti pedagang mereka sebelumnya menjebak mereka.

 

“Terdapat fakta sosiologis: kejahatan terorganisir dan perdagangan ilegal manusia memilih korban dari antara orang-orang yang saat ini memiliki  sedikit saja sarana untuk  hidup yang sangat sederhana sekali pun, bahkan kurang memiliki harapan untuk masa depan. Jelasnya: dari  antara yang termiskin, dari antara yang paling banyak diabaikan, yang paling tersingkir."

Paus Fransiskus, Pesan Video untuk Para Peserta di Internasional Forum tentang Perbudakan Modern, 7 Mei  2018

 

  1. Untuk mendorong deteksi dan pelaporan perdagangan manusia, petugas penegak hukum, jaksa penuntut umum, otoritas peradilan dan tenaga ahli bidang sosial dan kesehatan harus dibina  dengan baik dan secara tepat dilatih bagaimana mengidentifikasi dan menuntut perdagangan manusia sesuai dengan hukum nasional maupun internasional yang berlaku.  Korupsi dan kerjasama terselubung yang dilakukan oleh pelaku-pelaku Negara hendaknya dengan sekuat tenaga dikecam dan ditindak tegas. Pembelaan oleh mereka yang berwenang ini  harus bertujuan untuk melaksanakan semua kesepakatan, peraturan dan standard internasional yang menghormati  hak-hak migran dan memajukan perkembangan pribadi manusia seutuhnya, yang sesuai dengan ajaran Gereja. Penyintas perdagangan manusia harus didukung – tanpa paksaan  – untuk mengambil peran dalam menuntut pemeras  mereka. Mereka yang memilih untuk bekerja sama harus  didukung untuk melakukannya secara aman. Perasaan takut dan perasaan tertekan yang menimpa para penyintas ini hendaknya dihindari. Perlindungan mereka hendaknya dijamin, termasuk perlindungan pribadi, ditambah tempat berlindung yang aman, baik bantuan secara psikologis maupun sosial.  Perlindungan khusus hendaknya disediakan bagi mereka yang berada di bawah umur yang menjadi korban perdagangan dan rencana masa depan mereka hendaknya didasarkan atas asas  yang terbaik bagi anak tersebut dengan memperhitungkan hak dan kewajiban orang tua mereka, wali atau mereka yang secara  hukum bertanggung jawab atasnya.18

 

'Melindungi' harus berkaitan dengan tugas kita untuk mengakui dan membela martabat yang tidak dapat dirampas dari mereka yang menyelamatkan diri dari bahaya nyata untuk  mencari suaka dan keamanan,  serta mencegah terjadinya pemerasan pada mereka. Secara khusus saya berpikir tentang perempuan dan anak-anak yang terpapar pada risiko dan pelecehan yang bahkan dapat berarti pada perbudakan.

Paus Fransiskus, Pesan untuk Perayaan Hari Perdamaian Dunia 2018, 24 November 2017

 

Jika memungkinkan, para pengacara, kelompok-kelompok masyarakat sipil dan organisasi berbasis agama hendaknya diijinkan bertindak sebagai wakil bagi para penyintas dalam penyelidikan dan persidangan.  Beban pembuktian hendaknya tidak berhenti  pada penyintas perdagangan manusia semata. Sepanjang  kebanyakan kejahatan perdagangan manusia terus berlangsung  tanpa terdeteksi,  para pedagang manusia terus beraksi hampir kebal hukum.

 

  1. Komitmen kuat  untuk bekerja melawan aib, yaitu perdagangan manusia,  terus memberi inspirasi kepada karya pelayanan dan advokasi yang dilaksanakan oleh lembaga-lembaga  yang diilhami oleh semangat katolik. Gereja-gereja , komunitas-komunitas Kristiani dan organisasi-organisasi keagamaan lain yang telah dipercaya oleh para korban yang telah diperdagangkan, hendaknya segera bekerja sama dalam investigasi kepolisian dan proses penegakan hukum. 

 

“Kenyataannya adalah bahwa banyak penyintas perdagangan manusia sulit mempercayai para  penegak hukum dan hal  itu membuat pembebasan dan tuntutan pada  pedagang manusia menjadi jauh lebih sulit. Pengalaman menunjukkan bahwa jauh lebih mudah percaya kepada para biarawati dan tenaga Gereja yang lain yang dapat membangun kepercayaan mereka  dalam proses hukum dan menjamin mereka dengan menyediakan suaka yang aman dan bentuk-bentuk bantuan yang lain.19

 

DINAMIKA PERDAGANGAN MANUSIA: BISNIS YANG BURUK DAN JAHAT

 

5. KONEKSI BISNIS

 

  1. Keuangan, perdagangan, angkutan dan komunikasi modern memberikan peluang bagi orang-orang jahat untuk masuk ke dalam sistem yang menjerat dan memeras pribadi manusia. Di dalam industri seperti pertanian, perikanan, konstruksi dan pertambangan, perdagangan manusia telah berkembang lewat kerjasama dengan banyak dan beragam pelaku kejahatan, sehingga  membuat gejala itu menjadi lebih rumit dan dengan demikian mempersulit identifikasi  asal usul dan dampaknya. Kejahatan itu mudah disembunyikan dalam model bisnis saat ini. Kebiadaban, memang itulah istilah yang tepat, cenderung untuk mengaburkan cara berpikir dingin tentang perdagangan  manusia sebagai hal yang sangat menguntungkan, ditanamkan dalam bisnis yang bahkan dianggap baik. Ketika ada usaha yang baik untuk menghalangi perdagangan manusia, pengusaha yang tidak bermoral ​​hanya mengubah taktik mereka sebagai upaya menghindari tindakan balasan.

 

  1. Terdapat kebutuhan mendesak untuk menilai secara etis model-model bisnis dengan tujuan untuk mengungkapkan sarana-sarana  jebakan dan pemerasan yang dipergunakan oleh perusahaan-perusahaan. Gereja mendorong hubungan komersial kedua belah pihak - antara pengusaha yang menyediakan dan pengguna akhir yang memanfaatkan  - untuk terlibat dalam refleksi etis ini dan kemudian membuat perubahan seperti yang dituntut.

 

Oleh karena itu, model-model ekonomi, juga dituntut untuk menaati  etika pembangunan yang berkelanjutan dan utuh,  berdasarkan nilai-nilai yang menempatkan pribadi manusia dan hak-haknya sebagai hal yang utama.

Paus Fransiskus, Pesan kepada Ketua Eksekutif Forum Ekonomi Dunia pada kesempatan Pertemuan Tahunan, 23 Januari 2018.

 

 

  1. Gereja terlibat untuk memajukan nilai-nilai dan model bisnis yang benar-benar memungkinkan manusia dan masyarakat untuk mengikuti rencana Allah bagi kemanusiaan dan memudahkan ambil peran dalam ekonomi bagi semua.

 

Kegiatan komersial dan manajerial sebuah perusahaan dapat menjadi tempat pengudusan, melalui keterlibatan masing-masing orang untuk membangun persaudaraan di  antara pengusaha, eksekutif dan karyawan, untuk memupuk tanggung jawab bersama dan kerja sama dalam kepentingan bersama.

Paus Fransiskus, Pidato di Perhimpunan Eksekutif Bisnis Kristiani , 31 Oktober 2015

 

Semua umat Katolik harus secara proaktif terlibat dalam menciptakan masyarakat yang lebih adil, saling menghormati dan inklusif, dengan menghapuskan segala bentuk pemerasan,  khususnya pemerasan yang paling kejam.

 

Ketika  orang-orang  baik  sendiri-sendiri maupun berkelompok  mengadu untung  secara memalukan mengenai perbudakan, kita orang Kristiani, secara serempak,  dipanggil untuk mengembangkan semakin banyak kerjasama guna mengatasi semua bentuk ketidakadilan dan semua bentuk diskriminasi, dua sebab  utama  yang memungkinkan seseorang menjadikan orang lain sebagai budak. Keterlibatan  bersama untuk  menghadapi tantangan ini akan menjadi bantuan berharga bagi pembangunan masyarakat yang diperbarui yang berorientasi pada kebebasan, keadilan dan perdamaian.

Paus Fransiskus, Pesan Video kepada Para Peserta di Forum Internasional tentang Perbudakan Modern , 7 Mei 2018

 

6. KONDISI KERJA DAN RANTAI PASOKAN

 

 

  1. Perdagangan manusia sering disembunyikan di dalam labirin rantai pasokan. Pasar yang semakin bersaing  memaksa perusahaan untuk memotong biaya tenaga kerja dan biaya untuk pengadaan bahan baku dengan harga serendah mungkin.

 

Lebih banyak lagi orang yang  setiap hari, menanggung  beban sistem ekonomi yang memeras manusia, memaksakan pada mereka 'kuk' yang tak tertahankan, yang segelintir orang istimewa  tidak  mau memikulnya.

Paus Fransiskus, Angelus , 6 Juli 2014

 

Sering kali para pekerja tidak memiliki pilihan lain kecuali menandatangani kontrak kerja dengan persyaratan memeras mereka. Tinjauan etis yang cermat berdasarkan dimensi kemanusiaan atas pasokan, produksi dan distribusi dan daur ulang jarang terjadi.  Sekarang perhatian mulai diberikan kepada  rantai pasokan dengan membantu peningkatan transparansi dan akuntabilitas, namun hal itu janganlah mengalihkan perhatian setiap orang akan tinjauan yang  jujur ​​dan menyeluruh atas tanggung jawab yang nyata dari konsumen dan negara tempat mereka tinggal.

 

Negara-negara  harus memastikan bahwa perundang-undangan mereka sendiri benar- benar menghormati martabat pribadi manusia dalam bidang  migrasi, pekerjaan, adopsi, pergerakan bisnis ke luar negeri  dan penjualan barang-barang  yang diproduksi oleh para pekerja paksa.   Paus Fransiskus, Pesan untuk Perayaan Hari Perdamaian Dunia 2015 , 8 Desember 2014

 

  1. Permintaan barang-barang  murah yang berdasarkan upah buruh murah perlu ditangani  secara cepat dan tepat, melalui dua cara,  baik melalui kesadaran publik maupun perundang-undangan. Untuk mendorong adanya model ekonomi yang adil yang mendukung pengembangan manusia seutuhnya bagi  semua orang perundang-undangan  itu harus mensyaratkan semua perusahaan, terutama yang bekerja secara transnasional dan outsourcing di negara-negara berkembang, untuk menginvestasikan rantai pasokan mereka secara transparan dan dapat dipertanggungjawabkan. 

 

Bisnis memiliki tugas untuk memastikan kondisi kerja yang bermartabat dan gaji yang layak bagi para pekerjanya, namun mereka juga harus waspada terhadap bentuk-bentuk penindasan atau perdagangan manusia agar tidak masuk  ke dalam rantai distribusi.

Paus Fransiskus, Pesan untuk Hari Perdamaian Dunia 2015, 8 Desember 201420

 

Peraturan harus dibuat dengan mensyaratkan agar kontrak kerja disusun secara benar, bebas dari pasal-pasal yang semena-mena dan benar-benar dihormati.  Harus dilakukan kampanye untuk membuat para konsumen akhir sadar bahwa  korban perdagangan manusia dilibatkan dalam proses produksi.

 

Kita harus meningkatkan kesadaran akan adanya kejahatan baru yang  tersebar di dunia ini, yang  ingin tetap disembunyikan  karena memalukan  dan 'secara politis salah'. Tidak ada orang yang suka mengakui bahwa di dalam kotanya sendiri, bahkan  lingkungan sekitar, di wilayah atau negaranya sendiri terdapat  bentuk-bentuk baru perbudakan, sedangkan kita tahu bahwa ini mewabah hampir di  semua negara.

Paus Fransiskus, Pidato Kepada Para Peserta dalam Sidang Paripurna Akademi Ilmu Sosial Kepausan, 18 April 2015.

 

“Baiklah bila manusia menyadari bahwa membeli itu merupakan sebuah tindakan moral – dan bukan semata-mata bersifat ekonomis. Karenanya konsumen memiliki tanggung jawab sosial tertentu, yang berjalan seiring dengan tanggung jawab sosial perusahaan.” 21

 

  1. Para pemimpin bisnis Katolik harus melaksanakan ajaran Gereja dengan menyediakan kondisi kerja yang pantas dan gaji yang layak, yaitu yang dapat menanggung sebuah keluarga,  “Mengenali dimensi subyektif dari kerja berarti mengakui martabat dan pentingnya. Pengenalan ini membantu kita untuk melihat bahwa bekerja adalah untuk manusia dan bukan sebaliknya. Karyawan bukan hanya 'sumber daya manusia' atau 'modal manusia'.”22 Semua kantor Gereja, Kongregasi Hidup Bakti dan Lembaga-lembaga Katolik, juga harus mencurahkan perhatian pada pelatihan, sumber daya dan keahlian yang diperlukan untuk memantau secara benar kebijakan pengadaan  dan kontrak-kontrak kerja mereka, untuk memastikan bahwa semuanya menghormati hak dan martabat manusia.

 

Menjadi  'satu dalam menjaga  harapan' membutuhkan budaya transparansi yang lebih besar di antara semua saja yang menyangkut hal-hal  publik, sektor swasta dan masyarakat sipil. Di sini saya tidak mengecualikan lembaga-lembaga   gerejawi. Tidak ada yang bisa dikecualikan dari proses ini. Korupsi dapat dicegah dan menuntut keterlibatan semua pihak.

Paus Fransiskus, Pidato kepada para Pejabat, Masyarakat Sipil dan Korps Diplomatik, Istana Pemerintahan Honor Yard, Lima, 19 Januari 2018

 

7. PERDAGANGAN MANUSIA DAN PENYELUNDUPAN MIGRAN

 

  1. Pada kenyataannya, perbedaan antara penyelundupan migran dan perdagangan manusia menjadi semakin tipis. Situasi penyelundupan migran dapat dengan mudah menjadi perdagangan manusia. Dalam beberapa tahun terakhir ini, dalam arus campuran antara  migran dan pengungsi yang sangat besar, banyak orang putus asa karena tiadanya jalan lain yang legal dan dapat ditembus, - juga karena adanya kebijakan migrasi yang semakin ketat – mulai menjadi pemakai jasa penyelundup hanya untuk menjadi korban perdagangan manusia. Ketika program-program  kemanusiaan yang diselenggarakan oleh pemerintah dan masyarakat sipil gagal dalam berurusan dengan sejumlah besar  orang yang mencari perlindungan atau pemukiman kembali, dan ketika bantuan  kemanusiaan internasional dan bantuan pembangunan berkurang, penyelundup migran dan  kemudian juga pedagang manusia menunjukkan keahliannya  dalam mengambil keuntungan dari kekurangan ini.

 

Para pedagang sering kali merupakan orang-orang yang merasa tidak bersalah,   tanpa moral dan etika, yang hidup dari kemalangan orang lain, memanfaatkan perasaan dan keputusasaan orang untuk menundukkan mereka demi kehendaknya sendiri,  menjadikan mereka budak dan patuh,  untuk menaklukkan mereka pada kehendak mereka, membuat mereka menjadi budak dan tunduk. Cukuplah berpikir  betapa banyak perempuan Afrika yang masih sangat muda tiba di  pantai kita dengan harapan untuk memulai hidup yang lebih baik.  mengira bahwa akan mendapatkan sebuah kehidupan yang layak,  tetapi sebaliknya mereka malah diperbudak dan dipaksa menjadi pelacur. Paus Fransiskus, Dialog dengan Para Peserta dalam Hari Doa Sedunia, Refleksi dan Aksi Menentang Perdagangan Manusia , 12 Februari 2018

 

  1. Untuk mencegah orang menggunakan jasa penyelundup dan agar tidak jatuh ke tangan pedagang manusia, yang pertama orang harus memastikan  bahwa mereka tidak merasa terpaksa meninggalkan tanah air mereka. Dengan demikian, pencegahan yang paling dasar adalah menjunjung tinggi hak untuk tetap berada di negara dan tempat asalnya dan memastikan bahwa di sana orang-orang tersebut dapat memperoleh kebutuhan dasar dan  pengembangan manusia seutuhnya. Bahkan kebutuhan dasar manusia menjadi semakin gawat dalam keadaan konflik bersenjata atau kekerasan yang seringkali memaksa mereka melarikan diri tanpa persiapan atau perlindungan sekecil apa pun.  Ketika mereka telah memutuskan untuk pergi,  apa pun alasannya, atau dipaksa untuk melakukannya, penyelundupan dan perdagangan manusia dapat dicegah bila tersedia  jalur hukum yang lebih mudah dijangkau untuk migrasi  yang aman dan tertib .

 

Menyambut berarti, pertama-tama,, menawarkan pilihan lebih luas bagi para migran dan pengungsi untuk memasuki negara tujuan dengan aman dan legal. Ini panggilan untuk melaksanakan komitmen demi meningkatkan dan menyederhanakan proses pemberian visa kemanusiaan dan untuk penyatuan kembali keluarga.

Paus Fransiskus, Pesan untuk  Hari Migran dan Pengungsi Sedunia ke-104, 2018, 15 Agustus 2017

 

Informasi yang dapat dipercaya mengenai migrasi dan suaka perlu dikomunikasikan dan disebarkan.

 

Kualitas komunikasi secara etis adalah hasil dari perhatian yang cermat,    -  tidak dangkal - , yang selalu menghormati manusia, baik mereka yang menjadi subjek informasi maupun  penerima pesan. Masing-masing dengan menjalankan perannya sendiri dan dengan tanggung jawabnya sendiri, dipanggil untuk siaga menjaga etika yang tinggi dalam berkomunikasi.

Paus Fransiskus, Pidato kepada Direktur Eksekutif dan Karyawan di Jaringan Radio-Televisi Italia (Rai), 18 Januari 2014

 

Perlindungan dimulai di negara asal dan mencakup informasi yang dapat dipercaya  dan teruji  sebelum berangkat, dan menjamin keamanan dari praktek-praktek perekrutan  yang tidak berdasarkan pada hukum.

Paus Fransiskus,  Pesan untuk Hari Migran dan Pengungsi Sedunia ke-104, 2018 , 15 Agustus 2017

 

Perlu ada penuntutan khusus dan teliti terhadap kejahatan yang terorganisir yang terlibat dalam  penyelundupan dan perdagangan manusia, baik dalam tingkat nasional maupun transnasional  disertai  dengan penuntutan atas kerjasama sembunyi-sembunyi antara pihak-pihak otoritas  setempat maupun nasional.

 

Korupsi adalah penipuan  terhadap demokrasi dan korupsi itu membuka pintu bagi masuknya kejahatan-kejahatan mengerikan lainnya seperti narkoba, pelacuran dan perdagangan manusia, perbudakan, perdagangan organ manusia, perdagangan senjata dan lain-lainnya.

Paus Fransiskus, Pidato Kepada Para Peserta dalam Konferensi Internasional Eksekutif Serikat Bisnis Kristiani  (UNIAPAC), 17 November 2016

                                            

  1. Gereja Katolik berkomitmen untuk  melindungi para korban perdagangan manusia.

 

Melindungi saudara-saudari ini merupakan kewajiban  moral yang diwujudkan dalam [...] pelaksanaan program yang manusiawi dan  tepat waktu  dalam perang melawan 'perdagangan tubuh  manusia'  yang mengambil keuntungan dari  kemalangan orang lain.

Paus Fransiskus, Pidato dalam  Forum Internasional tentang 'Migrasi dan Perdamaian', 21 Februari 2017

 

 

Hal ini dimulai dengan mengingatkan orang tua dan anggota keluarga tentang peran mereka  sebagai pelindung pertama melawan para pedagang. Setiap orang harus didorong untuk   membuka kedok dan mencela praktik perekrutan ilegal, terlibat dalam berbagai prakarsa sejauh mungkin dan bekerja untuk bertumbuhnya semangat kejujuran dan untuk melancarkan jalur hukum bagi para migran dan para pencari suaka.

 

MENANGGAPI PERDAGANGAN MANUSIA: RUANG UNTUK PERBAIKAN

 

8. MEMPERKUAT KERJASAMA 

 

  1. Pelaksanaan  Protokol Palermo selama ini biasanya disajikan dalam bentuk tiga P: prevention, protection dan prosecution atau pencegahan, perlindungan dan penuntutan.  Beberapa lembaga nasional dan internasional telah mengembangkan kebijakan dan program mereka sesuai dengan protokol ini. Bahkan, ada 'P' keempat, yaitu partnership, atau perekanan yang tidak kalah penting, namun mungkin masih lemah. Kurangnya kerjasama - atau malahan persaingan - di antara berbagai pegawai pemerintah sering membuat kebijakan dan program yang bermaksud baik malah menjadi tidak berdaya guna.

 

Dalam beberapa kasus, kurangnya kerjasama antarnegara  mengakibatkan banyak orang dibiarkan tinggal di luar hukum dan tidak memiliki peluang  untuk menegaskan hak-hak mereka, memaksa mereka pada posisi antara dimanfaatkan oleh orang lain atau pasrah menjadi korban pelecehan.

Paus Fransiskus, Pesan untuk Presiden Panama pada Peristiwa KTT Ketujuh Amerika , 10 April 2015

 

Hal ini berlaku di tingkat internasional, nasional dan lokal. Kesulitan serupa mengurangi efektivitas tindakan yang dilakukan oleh organisasi-organisasi  masyarakat sipil.

 

Organisasi antarpemerintah, sesuai dengan prinsip subsidiaritas, dipanggil untuk memulai  inisiatif yang bertujuan untuk memerangi jaringan kejahatan transnasional yang terorganisir yang menguasai  perdagangan manusia dan perdagangan migran  ilegal. Kerja sama jelas diperlukan di sejumlah tingkatan, kerjasama itu melibatkan institusi nasional dan internasional, lembaga masyarakat sipil dan dunia keuangan.

Paus Fransiskus, Pesan untuk Perayaan Hari Perdamaian Dunia 2015, 8 Desember 2014

 

Keterlibatan sektor bisnis dan media dalam aksi koordinatif bersama dengan pelaku - pelaku terkait lainnya masih sangat lemah.

 

  1. Kerjasama dan koordinasi antarlembaga  nasional dan internasional sangat penting dan mendasar dalam memberantas perdagangan manusia  dan itu membuat tindakan semua orang lebih cepat dan efektif, baik di tempat asal, tempat  transit atau tempat tujuan.

 

Masih banyak hal yang harus dilakukan untuk meningkatkan kesadaran publik dan meningkatkan koordinasi untuk memperbaiki upaya-upaya pemerintah, peradilan, petugas penegak hukum dan para pekerja sosial.

Paus Fransiskus, Sambutan untuk  Majelis Eropa Kedua RENATE, 7 November 2016

 

Negara-negara harus berbagi informasi yang relevan tentang perdagangan manusia dengan negara-negara lain dan mengembangkan tanggapan bersama dalam hal pencegahan, perlindungan dan penuntutan. Dibutuhkan kerja sama yang lebih besar, serta penyediaan bantuan teknis dan lainnya ke negara-negara di sepanjang jalur perjalanan perdagangan manusia. Supaya menjadi berdaya guna, kerja sama dan koordinasi juga harus melibatkan masyarakat sipil, organisasi berbasis agama dan para pemimpin agama, juga sektor bisnis dan media.

 

Kerjasama antara para Uskup dan otoritas sipil, sesuai dengan misi dan hakikat masing-masing, hingga akhirnya menemukan praktik- praktik  terbaik untuk menyelesaikan tugas yang sulit ini, merupakan  langkah yang menentukan dalam meyakinkan diri mereka sendiri bahwa kehendak pemerintah menjangkau  para korban dengan cara  langsung, cepat, terus menerus,  efektif dan nyata.

Paus Fransiskus, Sambutan untuk  Majelis Eropa Kedua RENATE, 7 November 2016

 

  1. Meskipun Gereja Katolik telah mengambil beberapa langkah penting  menuju koordinasi yang efektif di antara lembaganya sendiri, tetap saja masih terdapat ruang untuk perbaikan. Di dalam Gereja, kerja sama yang lebih besar di antara Konferensi Waligereja, masing-masing keuskupan, kongregasi religius dan lembaga-lembaga katolik akan membuat program yang sasarannya adalah  perdagangan manusia secara lebih berdaya guna dan juga memunculkan program-program baru.  Juga sangat bermanfaat untuk bekerja dengan Gereja dan komunitas Kristiani lainnya dan bekerjasama dengan para pengikut agama lain.

 

Dialog berdasarkan rasa percaya diri dapat membawa benih-benih kebaikan yang pada gilirannya dapat menjadi tunas persahabatan dan kerjasama di berbagai bidang, terutama dalam pelayanan kepada  orang  miskin, paling kecil,  orang lanjut usia, dengan menyambut para migran dan memperhatikan mereka yang dikucilkan. Kita bisa berjalan bersama saling menjaga satu sama lain dan sesama ciptaan.

Paus Fransiskus, Audiensi Umum Antaragama pada Kesempatan Peringatan HUT ke-50 Deklarasi Konsili 'Nostra Aetate', 28 Oktober 2015

 

Selain itu,  kerja sama antargereja  di tempat asal dan tempat kembalinya  para penyintas perdagangan manusia dapat memperbaiki  program reintegrasi.

 

9. MENDUKUNG PARA PENYINTAS PERDAGANGAN MANUSIA

 

  1. Reintegrasi para penyintas perdagangan manusia di dalam masyarakat bukanlah masalah sederhana, mengingat trauma yang mereka derita.

 

Tugas "pekerja kemanusiaan dan sosial [...] adalah untuk memberikan sambutan ramah, menyediakan kehangatan manusiawi dan kemungkinan membangun kehidupan baru bagi para korban.”

Paus Fransiskus, Pidato Kepada Para Peserta dalam Konferensi Internasional dalam Memerangi Perdagangan Manusia, 10 April 2014

 

Kebutuhan mereka yang banyak itu mulai dari kebutuhan  fisik, psikologis dan spiritual; mereka perlu sembuh dari trauma, stigma dan isolasi sosial.

 

Saya tekankan, mereka itu  manusia yang sedang meminta solidaritas dan pertolongan, yang memerlukan tindakan mendesak, namun juga, terlebih  mereka sedang membutuhkan pengertian dan kebaikan hati.

Paus Fransiskus, Pidato Kepada Para Peserta di Pleno Kepausan Dewan untuk Pelayanan Pastoral bagi Migran dan Perantau , 24 Mei 2013

 

Penyedia layanan kesehatan seringkali perlu dilatih secara khusus untuk mengidentifikasi gelagat-gelagat  dan menangani  yang khusus,  walaupun akibat perdagangan manusia itu memiliki berbagai macam segi. Banyak tantangan praktis. Korban membutuhkan bantuan untuk melunasi hutang, memastikan tempat tinggal,  mempelajari keterampilan baru dan menemukan serta menjaga pekerjaan yang layak. Namun para penyintas perdagangan manusia cenderung diabaikan, ditolak, dihukum, atau bahkan dikambinghitamkan, seolah-olah hal-hal yang hina  yang terpaksa mereka lakukan adalah kesalahan mereka sendiri.

 

  1. Negara-negara harus membangun atau meningkatkan program dan mekanisme untuk melindungi, merehabilitasi dan mengintegrasikan kembali para korban, mengalokasikan kepada mereka sumber daya ekonomi yang disita dari para pedagang manusia.

 

Para korban adalah pihak pertama yang membutuhkan rehabilitasi dan reintegrasi dalam masyarakat.  “Semua anggota masyarakat dipanggil untuk tumbuh dalam kesadaran ini, terutama yang berkaitan dengan hukum  nasional dan internasional, agar dapat memastikan bahwa para pedagang itu diadili dan penghasilan mereka yang tidak adil dialihkan untuk rehabilitasi korban”.

Paus Fransiskus, Pernyataan kepada PertemuanTingkat Tinggi para Hakim untuk korban perdagangan manusia dan kejahatan yang terorganisir”, 3 Juni 2016 dan pernyataan pada Sidang Paripurna Akademi Kepausan Sosial untuk Ilmu-ilmu Sosial, 18 April 2015.

 

Hunian yang memadai  dan pekerjaan yang layak juga merupakan prioritas penting, juga  sebagai pintu masuk layanan pekerja sosial, psikolog, terapis, pengacara, praktisi medis, tenaga gawat darurat rumah sakit dan  tenaga profesional lainnya. Semua ini membutuhkan pelatihan untuk mengenali dan menanggapi aneka kebutuhan manusia yang rumit dari mereka yang telah diperdagangkan. Jika para penyintas lebih suka tinggal di negara tujuan, mereka membutuhkan jalan masuk ke pendidikan dan program-program yang  berkualitas yang bertujuan untuk menyatukan mereka ke dalam masyarakat dan pekerjaan mereka.

 

Tanggapan dasar terletak pada penciptaan peluang bagi perkembangan manusia yang utuh, mulai dengan pendidikan yang bermutu: inilah titik kunci, pendidikan yang bermutu, mulai dari anak usia dini, hingga terus menghasilkan  peluang baru untuk pertumbuhan melalui pendidikan dan  pekerjaan.

Paus Fransiskus, Pesan Video kepada Para Peserta di Forum Internasional tentang Perbudakan Modern, 7 Mei 2018

 

Jalan penyatuan kembali dengan keluarga harus tersedia.

 

Aspek keluarga dalam proses integrasi tidak boleh diabaikan

Paus Fransiskus, Pidato Kepada Para Peserta di Forum Internasional di 'Migrasi dan Perdamaian,  21 Februari 2017

Perhatian khusus diperlukan bagi para penyintas yang menderita gangguan emosi atau kesehatan mental  jangka panjang atau penyalahgunaan obat. Yang terpenting, apa pun yang menjadi langkah tindakan yang diambil, hendaknya diingat bahwa para penyintas ini adalah manusia dan  mereka harus selalu merasa bahwa dirinya diperlakukan dengan sangat hormat.

 

  1. Gereja-gereja setempat, kongregasi religius dan organisasi-organisasi yang bernafas Katolik yang telah memelopori program dukungan untuk penyintas perdagangan manusia,  didorong oleh Paus Fransiskus untuk meningkatkan dan menjalankan usaha-usaha mereka secara profesional  dan berkoordinasi dengan lebih baik, sambil mengingatkan orang lain tentang tanggung jawab mereka.

 

Namun saya ingin menyebutkan upaya-upaya besar tetapi dilaksanakan secara diam-diam, dan sering berlangsung bertahun-tahun yang dilakukan oleh Kongregasi-kongregasi religius, terutama kongregasi   perempuan   untuk memberikan dukungan kepada para korban.

Paus Fransiskus, Pesan untuk Hari Perdamaian Dunia 2015 , 8 Desember 2014

 

Gereja melibatkan diri dalam meningkatkan kesadaran akan bertambahnya kebutuhan untuk mendukung para korban kejahatan ini dengan menemani mereka melalui  reintegrasi ke dalam masyarakat dan pulihnya martabat manusia. Gereja bersyukur atas setiap usaha yang dilakukan untuk membawa urapan kerahiman Tuhan bagi mereka yang menderita, karena itu juga menunjukkan sebuah langkah yang hakiki dalam penyembuhan dan pembaruan masyarakat secara menyeluruh.

Paus Fransiskus, Pidato kepada 'Kelompok Santa Marta', 9 Februari 2018

 

Pekerja pastoral yang melayani korban perdagangan manusia harus selalu mengingat kembali pentingnya memenuhi kebutuhan rohani  mereka, dengan menghargai kekuatan iman dalam  penyembuhan, yang secara khusus ditawarkan kepada umat Katolik dalam Ekaristi dan Sakramen Rekonsiliasi.

 

Gereja [...] mendapat tugas menunjukkan semua jalan untuk pertobatan, yang memungkinkan kita mengubah cara kita memandang sesama kita, untuk menyadari bahwa di dalam diri orang lain terdapat  saudara atau saudari kita dalam keluarga umat  manusia dan mengakui  martabat hakikinya  dalam kebenaran dan kebebasan.

Paus Fransiskus, Pesan untuk Hari Perdamaian Dunia 2015 , 8 Desember 2014

 

Dengan menjadi saksi kasih Allah yang penuh belas kasihan, umat beriman juga dapat mengambil peran dalam pertobatan dan rehabilitasi pelaku perdagangan manusia.

 

Kita orang Kristiani percaya dan tahu bahwa kebangkitan  Kristus adalah harapan sejati bagi dunia, harapan itu tidak mengecewakan. Itu adalah kekuatan biji gandum, kekuatan cinta  yang merendahkan diri-Nya dan memberikan diri-Nya  sendiri sampai akhir, dan dengan demikian benar-benar memperbarui dunia. Hari ini kekuatan ini terus berbuah  di sepanjang alur sejarah kita, ditandai oleh begitu banyak tindakan ketidakadilan dan kekerasan. Kekuatan ini membawakan  buah harapan dan martabat, di mana ada kekurangan dan pengucilan, kelaparan dan pengangguran, di mana ada migran dan para pengungsi (yang sering ditolak oleh budaya masa kini, sebuah budaya yang  suka membuang), dan korban perdagangan narkoba, perdagangan manusia dan bentuk perbudakan masa kini.

Paus Fransiskus, Pesan Urbi et Orbi, Paskah , 1 April 2018

 

10. MEMPROMOSIKAN REINTEGRASI

 

  1. Setelah orang-orang yang diperdagangkan  itu dibebaskan dan dipulangkan ke tempat asalnya, harus segera dilakukan reintegrasi, yaitu mereka disatukan dengan keluarga,  tetapi program seperti itu bersifat nasional dan internasional sangat jarang terjadi. Beberapa yang ada sering kali merupakan pemulangan paksa dan cepat,  dengan sedikit pertimbangan tentang adanya hambatan-hambatan dan bahkan bahaya repatriasi. Negara tujuan harus mengemban tanggung jawabnya atas para penyintas dengan menyediakan izin tinggal, bantuan psikologis khusus dan mata pencaharian cadangan sebelum akhirnya dipulangkan.

 

  1. Kembalinya penyintas perdagangan manusia  - baik yang dipulangkan dari luar negeri atau pun  dipindah-tempatkan dalam lingkup negara asal mereka sendiri - tidak boleh dipaksa. Sebaliknya, dukungan penuh harus ditawarkan kepada para penyintas perdagangan manusia yang memilih untuk pulang ke tempat asalnya. "Di negara-negara yang kurang berkembang asal dari sebagian besar korban, terdapat kebutuhan untuk mengembangkan mekanisme yang lebih efektif untuk pencegahan perdagangan manusia dan reintegrasi korban mereka”23 Mereka harus dijamin kembali dengan aman, mendapat bantuan yang layak di tempat asal mereka dan dilindungi secara efektif dari perdagangan manusia lagi atau menjadi sasaran balas dendam atau pelecehan oleh para pedagang manusia. Layanan pendukung harus tersedia bagi korban dan keluarga mereka. Pelatihan kerja dan tersedianya pekerjaan  sangatlah  penting.

 

Bagi mereka yang memutuskan untuk kembali ke tanah air mereka, saya ingin menekankan perlunya program-program reintegrasi yang bersifat sosial dan profesional.

Paus Fransiskus, Pesan untuk Hari Migran dan Pengungsi Sedunia ke-104 2018, 14 Januari 2018

 

Tanpa reintegrasi penuh, lintasan mengerikan perdagangan manusia tidak akan jadi dibongkar, demikian juga stigma dan penderitaan tidak akan dilepas, penyintas perdagangan manusia tidak menjadi pulih atau tidak akan diberi kesempatan  untuk menghayati hidup yang pantas sesuai dengan hak dan martabat mereka sebagai manusia.

 

  1. Program reintegrasi yang menangani korban perdagangan manusia harus selalu memasukkan dimensi spiritual sebagai unsur hakiki  dalam perkembangan manusia seutuhnya,  yang merupakan tujuan utama mereka. Dimensi spiritual ini harus sepenuhnya terjalin  dalam  aksi   semua organisasi yang berilham Katolik dan berbasis agama yang dengan murah hati melayani para penyintas perdagangan manusia.

 

KESIMPULAN

_____________

 

  1. “Saya selalu sedih dengan adanya begitu banyak korban dari  berbagai macam perdagangan manusia. Betapa saya berharap kita semua mau  mendengarkan  seruan Tuhan, 'Di mana saudaramu?' (Kejadian 4: 9). Dimana saudara dan saudarimu diperbudak? Jangan kita berpura-pura tidak tahu dan mengelak. Ada keterlibatan yang lebih besar dari pada yang kita pikirkan. Masalah ini melibatkan semua orang! ” 24

 

Bapa Suci berdoa agar “Allah dapat membebaskan semua orang yang terancam, terluka atau dianiaya oleh jual beli dan perdagangan manusia  dan semoga dapat membawa kenyamanan bagi mereka yang selamat dari kejadian yang tidak manusiawi seperti itu "Dia mengajak kita masing-masing" untuk membuka mata kita, untuk melihat kesengsaraan orang-orang yang benar-benar  kehilangan martabat dan kebebasan mereka serta  mendengarkan  teriakan minta tolong mereka.”25

 

Sesuai dengan nasihat dan dorongan yang berulang-kali disampaikan Paus Fransiskus, semoga Arah Pastoral ini berfungsi sebagai kerangka kerja untuk merencanakan, mengembangkan, melaksanakan dan mengevaluasi seluruh rangkaian aksi yang mengarah pada tujuan penting dan mendesak untuk mengatasi perdagangan manusia. Sedangkan tujuan langsungnya adalah pembebasan dan rehabilitasi dari semua yang terjerat dalam perdagangan manusia dan tujuan akhirnya adalah untuk membongkar dan memberantas  usaha penipuan, jebakan, pemerasan  yang sangat  jahat dan penuh dosa ini. “Tugas yang sangat besar ini, yang memerlukan keberanian, kesabaran dan ketekunan, menuntut upaya bersama dan global  dari berbagai pelaku yang berbeda-beda yang  membentuk masyarakat. Dalam hal ini Gereja harus juga berperan.”26

 

 

 

DOA

____

 

Bapa Surgawi, kami berterima kasih atas teladan inspiratif dari Santa  Josephine Bakhita.

Santa  Josephine Bakhita, engkau diperbudak ketika masih kanak-kanak. Engkau diperjual belikan, engkau diperlakukan secara semena-mena.

 

Jadilah perantara kami,  kami mohon padamu, untuk semua orang yang terjebak dalam perdagangan dan perbudakan.

Semoga para penculik membebaskan mereka dan semoga kejahatan ini dihapus dari muka bumi.

 

Santa  Josephine Bakhita, begitu kau dapatkan kembali kebebasanmu,  

Kau  tidak membiarkan penderitaanmu menentukan hidupmu.

Kau memilih jalan kebaikan dan kemurahan hati.

Bantulah  mereka yang dibutakan oleh keserakahan dan nafsu

yang menginjak-injak hak asasi manusia dan martabat saudara dan saudarinya.

Bantulah  mereka untuk keluar dari rantai kebenciannya,  

untuk menjadi manusia utuh lagi dan meneladan kebaikan dan kemurahan hatimu.

 

Santa Josephine Bakhita yang terkasih, kebebasanmu  menarik dirimu kepada Kristus dan Gereja-Nya.

Kemudian Tuhan memanggilmu untuk menjalani hidup bakti sebagai seorang Suster Canossian.

Kau menghayati amal kasih yang luar biasa, belas kasih  dan kelembutan yang penuh sukacita dalam panggilanmu.

Bantu kami selalu untuk meneladanimu, terutama ketika kami merasa tergoda

untuk berpaling dan tidak membantu, menolak orang lain atau bahkan menyalahgunakan mereka.  Doakanlah kami agar Kristus dapat mengisi hati kami dengan penuh sukacita sebagaimana Dia selalu memenuhi hatimu.

 

Ya Tuhan yang maha kasih, curahkanlah cahaya belas kasih-Mu ke dunia kami yang bermasalah ini. Biarkan cahaya itu menerangi  bayang-bayang yang sangat  gelap ini.

Bawalah keselamatan kepada orang yang tak berdosa yang menderita karena pelecehan yang menjijikkan.

Anugerahilah  pertobatan kepada jiwa-jiwa bebal  yang menahan  dan memeras  mereka.

Berilah  kami semua kekuatan untuk tumbuh dalam kebebasan sejati

Untuk mencintai-Mu, mencintai sesama dan mencintai rumah kita bersama.

Amin.

 

Gagasan dan sumber lebih lanjut dapat ditemukan di situs web M&R di “Trafficking & Slavery” https://migrants-refugees.va/trafficking- slavery/    Jika anda Anda  memiliki komentar atau pertanyaan tentang Pedoman ini, atau untuk berbagi kisah dan foto-foto  kegiatan di bidang ini di mana Anda telah terlibat, silakan menulis ke info@migrants-refugees.va

 

CATATAN AKHIR

 

[1] Paus Fransiskus, Menyambut Konferensi OSCE , 3 April 2017

2  Paus Fransiskus, Angelus, 30 Juli 2017

3  Paus Fransiskus, Ceramah kepada Para Peserta Konferensi Internasional Untuk Memerangi  Perdagangan Manusia , 10 April 2014

4 Paus Fransiskus, Pesan untuk Hari Perdamaian Sedunia, 1 Januari 2015.

5 Paus Fransiskus, Pidato kepada Anggota Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, New York, 25 September 2015.

 

 

1 Paus Fransiskus, Dialog dengan para Peserta dalam Hari Doa Sedunia, Refleksi dan Aksi  Melawan Perdagangan Manusia, 12 Februari 2018. 

2 Paus Fransiskus, Ceramah kepada Para Peserta dalam Konferensi Internasional tentang Memerangi  Perdagangan Manusia, 10 April 2014.

3 Paus Fransiskus, Pidato kepada Duta Besar Baru yang Terakreditasi untuk Tahta Suci pada kesempatan Presentasi Surat-surat Kepercayaan, 12 Desember 2013.

 

4 Paus Fransiskus, Laudato Si', 24 Mei 2015, 65; Katekismus Gereja Katolik, 357.

5 Yohanes Paulus II , Nasihat Apostolik Pasca-Sinode Christifideles Laici , 30 Desember 1988, 5

 6 Ceramah kepada Para Peserta di Hari Doa Sedunia, Refleksi dan Tindakan terhadap Perdagangan Manusia , 12 Februari 2018.

7 Pada tanggal  12 Desember 2018, Protocol untuk Mencegah, Menekan, dan Menghukum Perdagangan Manusia  (tersedia di https://www.ohchr.org/en/professionalinterest/pages/ protocoltraffickinginpersons.aspx) telah diratifikasi oleh 173 Negara Anggota. Tahta Suci belum terhubungan dengan perkakas ini.

8  Lihat pasal  3 (a)

9  Lihat pasal  3 (c)

10 PBB, Protokol melawan Penyelundupan Migran melalui Darat, Laut dan Udara, 2000, Pasal. 3.

11 Lihat, antara lain, www.caritas.org; www.coatnet.org,  www.osce.org/secretariat/trafficking

 12 Johanes  Paulus II, Pesan untuk Hari Perdamaian Dunia 1990, 8 Desember 1989, 13, dan Paus Fransiskus, Laudato Si ', 24 Mei 2015, 222.

13 Dalam hal ini, Akademi Sain dan Akademi Ilmu Pengetahuan Sosial  Kepausan telah lama bekerjasama dengan lembaga  pemerintah maupun swasta, baik dalam tingkat internasional dan nasional, berupaya untuk mempelajari gejala ini dan menyelenggarakan pertemuan-pertemuan dan kelompok kerjasama untuk melawan kejahatan keji ini.

14 Benediktus  XVI, Caritas in Veritate, 29 Juni 2009, 45.

15 Benediktus XVI, Caritas in Veritate, 29 Juni 2009, 25.

 16 Kutipan ini diambil dari Domande dei giovani e risposte del Santo Padre. Terjemahan tidak resmi.

17 Ceramah pada Perayaan Penyambutan oleh Kaum Muda di Barangaroo, 17 Juli 2008.

18  Konvensi tentang Hak-Hak Anak, Pasal 3

19  Paul R. Gallagher, Intervensi tentang perlindungan dan bantuan untuk korban, 28 September 2017

20 Lihat juga: Laudato Si ' , 123

21 Benediktus XVI, Caritas in Veritate, 29 Juni, 2009, 66

22 Lembaga administrasi untuk mempromosikan REFLEKSI atas panggilan perkembangan manusia seutuhnya, Roma, 2018, 49

23 Johannes  Paulus  II, Surat kepada Uskup Agung Jean-Louis Tauran pada Acara Konferensi Internasional “Perbudakan dalam  Abad Dua Puluh Satu - Dimensi Hak Asasi Manusia dalam  Perdagangan Manusia ”, 15 Mei 2002.

24 Paus Fransiskus, Nasihat Apostolik Evangelii Gaudium , 24 November 2013, 211.

25 Paus Fransiskus, Pesan untuk Konferensi Waligereja Inggris dan Wales untuk  Day of Life, 17 Juni 2018.  Terjemahan tidak resmi.

26 Paus Fransiskus, Pesan Video kepada Para Peserta di Forum Internasional Perbudakan  Modern, 7 Mei 2018.